
Ada ketertarikan sendiri saat aku melihat mu, tapi entah itu apa. Sikap cuek dan ketus mu membuat ku suka untuk menggoda mu.
.
.
.
.
Malam minggu terlalu banyak orang yang kelaur menikmati masa pacaran atau untuk sekedar nongkrong bersama teman, hingga sering sekali jalanan macet saat malam hari.
Sungguh sebal rasanya jika pulang kerja selalu macet seperti ini, lelah di jalan dan rasa marah saat suara klakson mobil yang tidak bisa sabar.
waktu tengah isyak dengan rasa lelah Rizal memutuskan sejenak untuk singgah ke masjid terdekat di jalan raya, menunaikan ibadah dan beristirahat di sana serta menunggu jalanan sedikit lenggang.
Turun dari mobil dan berjalan ke arah masjid. melepaskan sepatu dan berjalan ke arah tempat wudhu.
Setelah melaksanakan sholat ia memutuskan untuk duduk di depan teras masjid, melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sama sekali saat ia pernah bertemu dan makan bersama dengan wanita yang ketus dan cuek.
Melihat wanita yang sedang membagikan makanan pada fakir miskin yang berada di depan masjid.
dia yang dulu selalu mendapatkan umpan dari bosnya untuk mengantarkan teman mantan kekasih bosnya, wanita yang selalu membuatnya naik darah tapi juga yang membuatnya tersenyum senang saat dia kalah berdebat dan kalah dalam bertindak.
Ini seperti bukan dia, yang tersenyum ramah dan sedikit mengobrol pada orang tua dengan sopan.
Menundukkan kepala saat wanita itu akan menuju masjid untuk melaksanakan ibadah. sempat melirik wanita itu saat melepas alas kaki sedangkan wanita yang di lirik tidak sedikit pun melihatnya. Dia benar benar wanita yang cuek.
Entah kenapa Rizal menjadi penasaran hingga ia memutuskan untuk menunggunya, walaupun sedikit lama.
" Hey cewek ketus.!" seru Rizal saat memanggil wanita itu yang sedang duduk dan akan memakai alas kakinya.
Memicingkan mata saat pria yang ada di sampingnya ternyata atasannya.
" Hais, kamu lagi." gerutunya.
__ADS_1
" Memang kapan terakhir kita bertemu sampai bilang kamu lagi." ucap Rizal.
" Terakhir lihat saat bos mu datang di acara pernikahan mantan dan menjadi sad boy sekarang." sindirnya, membuat Rizal tertawa.
" hahahah, kau menyindir bosku."
" Buat apa aku nyindir, orang emang kenyataan." ucapnya dengan ketus dan berdiri untuk meninggalkan atasannya yang menyebalkan karena dia masih mengingat saat mengantarkan asisten bosnya pulang ke rumah bukan berterima kasih malah dapat cacian.
" Kau mau kemana.!" seru Rizal.
" Pulang." jawabnya tanpa melihat Rizal di belakang yang sedang menatapnya.
Wanita yang ketus, pantas sekali tidak ada yang mau dengannya." gumam Rizal dengan menggelengkan kepala, melihat Ana yang sudah duduk di atas motornya, mengingat motor metic dengan plat nomer yang sudah membuat moodnya kembali senang.
Ana merasa sebal harus bertemu dengan asisten bosnya, karena ia masih mengingat bagaimana Rizal memperlakukan dia dengan seenaknya saja. Membuatnya malu saat berada di moll, mencaci makinya saat mengantar dia pulang dan yang paling parah mengancam dan membuat ia harus lembur kerja saat bosnya sedang mencari kekasihnya yang sudah tidak bekerja lagi di tempatnya.
sungguh ingin rasanya ia mencekik leher Rizal saat ini bertemu dengannya membuat moodnya berantakan. Bukan, bukan juga karena Rizal tapi karena tadi pagi Ana terlambat bekerja dan mendapatkan semburan dari pengawasnya di tambah lagi dia harus berlembur kerja sungguh sial nasibnya di hari sabtu.
Menggerutu sendiri saat menaiki motor tanpa dia sadari dari belakang ia terseruduk dengan motor lain saat akan menyalib dari sisi kiri dengan kecepatan tinggi. Hinga membuat tiga pemotor terjatuh dan Ana terseret tiga puluh meter dari kejadian.
Semua orang yang melihat kejadian tabrakan itu segera membantu korban dan meminggirkan motor mereka.
Lagi-lagi jalanan macet saat Rizal sudah berada di jalan, merasa tidak asing saat melihat motor dan plat nomer yang sudah rusak akibat tertabrak di pinggir jalan dengan banyak kerumunan orang yang sedang ingin melihat korbannya.
Meminggirkan mobil sedikit jauh untuk memastikan dia tidak salah lihat motor dan plat nomer yang baru beberapa saat berbicara dengannya di masjid.
Bukannya ini motor Ana." gumam Rizal dengan memastikan sekali lagi.
Beralih menatap kerumunan warga yang berada di antara korban, melangkah cepat ke arah kerumunan itu untuk memastikan jika dalam pikirannya itu tidak benar.
Terkejut dan melebarkan mata saat yang berada dalam pikirannya terbukti benar.
" Ana?" ucapnya dengan berjongkok melihat Ana yang terlemas di samping seorang wanita.
" Mas kenal." tanya orang sekitar.
__ADS_1
" Saya Kekasihnya." ucapnya dengan spontan dan mengangkat tubuh Ana untuk membawanya ke dalam mobilnya di ikuti dengan beberapa orang dari belakang.
" Kunci mobil saya ada di kantong, tolong ambilkan." Kata Rizal pada salah satu warga, karena dia masih menggendong Ana
Mengambil kunci mobil dari kantong celana Rizal dan membukakan pintu mobil depan. Mendudukkan Ana dan mengunci tubuh Ana dengan sabuk pengaman. Memberikan beberapa uang lembar merah pada warga yang menolong Ana
Menjalankan mobilnya dengan laju kencang dan mengklakson beberapa kali untuk meminta jalan, tidak peduli akan umpatan dan cacian dari pengendara lain yang terpenting ia sampai di rumah sakit untuk menyelamatkan Ana yang tak sadarkan diri.
Sesampai di depan rumah sakit ia segera mengangkat tubuh Ana dan berteriak meminta tolong pada perawat tidak peduli banyak orang yang melihat.
Memasuki ruang IGD dan hanya satu orang yang bisa menemani pasien.
Melihat dokter dan suster yang sedang bekerja memberikan infus di tangan dan selang pada hidung Ana. Berdoa pada Tuhan semoga wanita yang ada di hadapannya ini selamat dan tidak mengalami luka yang serius.
Sungguh dia takut dan khawatir entah kenapa dia sebegitunya pada wanita yang ada di hadapannya sekarang.
Dua jam saat sang dokter dan suster telah selesai mengobati luka Ana dan menjait kepalanya membuatnya belum lega untuk bertanya.
" Bagaimana dengan keadaannya dok." tanya Rizal dengan nada khawatir.
" beruntung dia tidak mengalami luka yang lebih serius, dia hanya pingsan dan sebentar lagi dia akan siuman" jawab dokter dengan tersenyum
"Terima kasih." ujarnya dengan sedikit lega dan di anggukkan oleh Dokter.
" Ini data yang harus di isi dan ini biaya administrasinya agar pasien segera bisa di pindahkan dalam ruang inap." ujar perawat dan di anggukkan oleh Rizal.
Berjalan menghampiri Ana dan duduk di sebelahnya, memandang sebentar wajah Ana yang sedang tidak sadarkan diri dan beralih melihat tas Ana yang berada di brankas. Segera mengambilnya dan membuka isi tas untuk mencari identitasnya.
Mengisi formulir dan menyerahkan pada pihak administrasi serta membayar biaya ruang pasien.
.
.
.ππππ
__ADS_1
Akan ada part Ana dan Rizal di sini.π
Buat babang kadal tunggu nanti ya kalau ini sudah selesaiππ