Eva My Life Line

Eva My Life Line
menggoda istri.


__ADS_3

Dulu terasa sepi dan sunyi saat berada dalam rumah ku sendiri, seakan aku tidak ingin menginjakkan kaki ku lagi. Tapi kini rumah ku seperti kembali ramai akan hadirnya diri mu, hingga membuat ku ingin cepat pulang saat kau menunggu ku.


.


.


.


.


" Apa ada pertemuan malam ini.?" tanya Arzan pada asistennya.


" Tidak ada pak." jawab Asistennya.


" Hmm, baik lah. kau bisa pergi." ujarnya dan di anggukkan oleh Asistennya.


Merasa lelah karena sudah seminggu ia harus pulang malam pekerjaan yang menumpuk dan harus bertemu dengan beberapa klain.


Menjadi seorang pebisnis tidak seperti orang lain yang hanya melihat dari sisi enaknya, jika di lihat dia begitu tertekan juga, karena pekerjaan yang menumpuk, salah sedikit dalam bertindak bisa membuat karyawannya di phk serta bangkrut ia tidak ingin itu terjadi karena nasib karyawan ada di tangannya.


Dan yang paling bersalah adalah ketika dia hanya mempunyai waktu sedikit untuk keluarga.


Rindu dengan sang istri yang selalu menunggunya di rumah, setiap dia pulang malam dia selalu melihat sang istrinya tidur di sofa ruang tamu hanya untuk menunggu kedatangan suaminya pulang kerja begitu malam.


Merasa bersalah karena tidak mempunyai waktu pada sang istri, tapi setiap hari ia tidak lupa untuk selalu berkomunikasi lewat ponsel walaupun hanya sebentar saja.


Dan beruntung pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, hingga dia bisa menghabiskan waktu bersama sang istri hingga esok hari libur.


Memutuskan pulang lebih awal dan membuat waktu bersama sang istri, menyuruh Asistennya untuk menghendel pekerjaannya yang tidak terlalu banyak dan memberikan laporan lewat Email.


berjalan melewati lobby membuat semua karyawan yang melihat sedikit menundukkan kepala serta tersenyum untuk memberi hormat pada atasannya dan semenjak Arzan menikah sifatnya berubah dengan dratis memberi senyuman sedikit pada karyawan yang memberinya hormat atau sapaan membuat karyawan wanita terpesona melihatnya.



belum memberitahukan pada semua orang jika dia sudah menikah, bukan karena dia malu tapi dia ingin melindungi istrinya dari paparazi dan ingin melindungi dari musuh yang akan mengincar orang yang di cintainya.


sungguh dia takut jika istrinya akan mendapatkan tekatan batin, menangis, dan sakit jika orang lain menghinanya ia tidak ingin itu terjadi.


Sore hari ia sudah sampai di rumah, turun dari mobil berjalan dengan langkah cepat menuju kamar dengan tersenyum untuk menghampiri sang istri.


Mengerutkan kening saat tidak mendapatkan istrinya ada di kamar, maupun di kamar mandi. ia pun beralih turun untuk bertanya pada salah satu art di rumahnya.

__ADS_1


" Apa kamu melihat istri saya." tanya Arzan pada artnya.


" Nyonya ada di dapur Tuan." jawab artnya dengan menundukkan kepala.


" Terima kasih." kata Arzan, membuat artnya terkejut dengan ucapan Tuannya barusan. Bagaimana tidak ini pertama kalinya art mendengar ucapan terima kasih pada Tuannya dengan tulus dan tersenyum.


di kantor maupun di rumah dia benar benar berubah, menjadi pria yang hangat dan murah senyum meskipun hanya sedikit, tidak ada lagi teriakan cacian atau sifat arogannya dulu.


berjalan menuju dapur melihat sang istri yang sedang memasak membuatnya tersenyum saat berada di pintu dapur, dua art yang melihat Tuannya berada di dapur dengan segera menundukkan kepala dan keluar dari dapur agar tidak menggangu Tuan dan Nyonyanya.


" mbak tolong ambilkan saus tiram." ucap Eva yang masih fokus dengan masakannya.


mengambilkan saus tiram dan memberikannya pada sang istri.


" Terima ka-." menggantung saat mengambil saus yang ternyata dari tangan suaminya.


mengedipkan mata beberapa kali dengan tersenyum sempurna di hadapan sang istri yang memandangnya dengan terkejut.


" Kamu sudah pulang." kata Eva


" hhmm, aku rindu istri ku." ucapnya dengan memeluk tubuh istrinya dari samping, memberikan gigitan kecil di ceruk leher jenjang sang istri.


" enggak papa kan kita sudah resmi." jawabnya dengan masih saja di posisi semula.


" kamu masak apa." tanya Arzan


" masak cap cay, kamu suka."


" Hhmm, apa pun masakan mu aku akan suka." jawabnya, membuat Eva tersenyum dan tertawa kecil.


" Gombal.?"


" Heheheh. Mau malam mingguan nggak, jalan-jalan ke luar." ajak Arzan, untuk menebus waktu pada sang istri.


" Mau.!" semangat Eva dan menghadap suaminya dengan tersenyum.


" Iiihh semangat sekali.!" dengan merengkuh tubuh istrinya lebih dekat ." mau kemana, hhmm." tanya Arzan dan mencubit gemas hidung istrinya, membuat sang istri meringis kesakitan.


" mau ke taman, liat anak muda pacaran." katanya dengan tertawa, membuat Arzan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang gemas.


" Tapi enggak gratis, minta jatah ya." ucap Arzan dengan genit.

__ADS_1


" Ih tiap hari juga sudah di kasih jatah, nambah lagi.!" serunya.


" hahahah, tapi nanti aku minta tambah lagi ya." dengan memperlihatkan tiga jari, yang membuat Eva melototkan mata ke arah Arzan.


" Kamu mau membuat ku mati, dua saja sudah remuk apa lagi tiga malah aku enggak bisa jalan kayak dulu pertama kali." gerutu Eva membuat Arzan tertawa dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


" Karena tubuh kamu sudah membuatku candu sayang." kata Arzan membuat tersenyum di dalam pelukan suaminya.


" cepat lah mandi, aku akan menyiapkan makanan untuk kamu."


" cium dulu." kata Arzan dengan menunjukkan bibirnya, seperti sedang mencuri sesuatu hingga ia melihat keadan yang sekiranya hanya berdua dan tidak ada yang lain di sana.


Mencium sekilas bibir suaminya, tapi dengan cepat Arzan menahan tengkuk leher Eva untuk menagannya. Ciuman yang lama hingga terlepas saat mereka kehabisan oksigen.


Memgusap lembut bibir istrinya yang sedikit bengkak karenanya dan tersenyum saat sang istri tersipu malu.


" Nanti kita lanjutin lagi ya sayang." bisiknya dan berjalan meninggalkan istrinya yang tercengang karenanya.


" Arzan.!" gerutu Eva, dengan menghentakkan kakinya.


Arzan tersenyum senang dengan menaiki tangga setelah puas menggoda istrinya, memasuki kamar untuk segera mandi dan turun untuk makan malam bersama istrinya yang dengan susah payah memasak untuknya.


Eva yang mulai kembali memasak dengan art yang baru saja masuk ke dalam dapur saat melihat Tuannya sudah keluar.


Tidak butuh waktu lama masakan Eva sudah selesai dan meminta bantuan pada artnya untuk menatanya ke meja makan sedangkan dia akan menuju kamarnya, membersihkan diri dan menyiapkan keperluan suaminya.


Ini lah pekerjaan Eva sekarang melayani sang suami dengan tangannya sendiri, meskipun kadang masih meminta bantuan pada artnya walaupun Arzan pernah melarangnya untuk tidak bekerja terlalu berat karena sang suami tidak ingin melihat istrinya kelelahan dan sakit.


Bersyukur Eva menikah dengan Arzan karena pria itu mencintainya dan menyayanginya.


.


.


.


.🍃🍃🍃


Yuk Vote, like dan komen.


Maaf ya jika novel ini masih Receh dan belum sempurna di mata kalian.😞

__ADS_1


__ADS_2