
Kamu memang bukan terlahir dari rahim ku, tapi ASI ku pernah mengalir di tubuh mu.
.
.
.
.
Suasana yang begitu ramai mendadak menjadi tenang dan mencekram, menikmati drama antara anak dan ibu yang begitu menegangkan.
Tersadar dengan banyaknya orang Tuan Gio menyuruh anak buahnya untuk mengakhiri acara pesta meskipun acara pertunangan belum di laksanakan.
Bella dan keluarga yang tidak terima akan pembatalan pertunangan itu merasa marah tidak terima akan tindakan Tuan Gio yang memutuskannya secara sepihak.
Tuan Gio tidak menggubris omongan keluarga Bella ia lebih mementingkan keluarganya dan menyuruh anak buahnya untuk mengusir keluarga Bella dengan paksa.
sunyi dan tegang hanya ada keluarga Tuan Gio yang masih berada di sana begitu pun Arzan yang masih setia memegang tangan Eva untuk tidak pergi darinya.
" Ravin putra ku." lirih Nyonya Vani
" Putra.!" seru Arzan " Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya saat dia masih membutuhkan kasih sayang, saat malam selalu menangis merindukan keluarganya. saat ayah dan ibu sama sama pergi dari rumah tanpa berbalik menatap anak yang menangis begitu kencang, mengemis untuk tidak di tinggalkan." tambahnya dengan manaikkan satu oktaf.
Revan, Eva begitu terkejut saat mendengar ucapan Arzan yang begitu memilukan di masa kecilnya.
" Maaf kan aku Ravin, maafkan ibu.!" ucap Nyonya Vani yang menangis, membuat Tuan Gio menghampirinya dan memeluk istrinya.
" Apa karna aku bukan anak anda Nyonya hingga kau tega meninggalkan saya." ucap Arzan dengan menundukkan kepala.
deg
Nyonya Vani yang masih berada di pelukan suaminya itu, kini beralih menatap Arzan yang menunduk saat mengucapkan kalimat itu. bergetar saat sang anak yang pernah di asuhnya merasa rapuh di hadapannya.
" Kamu ta-."
__ADS_1
" Iya, lima tahun sebelum kakek meninggal dia bercerita tentang anda kebenaran yang tidak aku tau saat itu." sahut cepat Arzan.
" Ibu kamu adalah sahabatku, waktu ibu kamu kritis dia meminta ayah kamu untuk menikahi aku. tidak ada pilihan untuk aku dan ayah mu menolak waktu itu." ucapnya
"Mencoba bertahan meskipun ayah mu tak pernah menganggapku, tapi aku mulai jenuh saat empat tahun tak ada perkembangan dalam berumah tangga mencoba melampiaskan kekesalan ku untuk pergi ke sebuah pesta malam itu, hingga tanpa sengaja aku bertemu dengan Tuan Gio."
" Aku dan ayah Revan hanya mencari kesenangan tanpa di sangka kami melakukan hubungan yang lebih, hingga aku hamil sebelum aku bercerai dengan ayah kamu. Aku meminta cerai pada ayah kamu tapi ayah kamu tidak mau menceraikan ku, hingga aku menunjukkan tes kehamilan padanya. Aku pikir ayah kamu tidak akan sakit hati, tapi aku salah, dia marah, kecewa hingga kami bertengkar hebat hingga dia mengusir ku dari rumah dan mau bercerai dengan ku."
" Meskipun kamu bukan terlahir dari rahim ku, tapi kamu tetap anak ku, bayi yang baru lahir dan mendapatkan ASI dari ku, memenuhi separuh jiwa ku." ucap Nyonya Vani dengan mata yang menatap Arzan dengan penyesalan.
"Setiap malam ibu kamu merindukan mu, menangis dalam kegelapan meskipun dia sedang mengandung anak saya." Ucap Tuan Gio. " Maaf kan saya telah memisahkan kamu dengan ibu kamu." ujarnya dengan tulus dan juga menatap Arzan dengan rasa bersalah.
Arzan yang mendapatkan jawaban dari wanita tua serta suaminya itu merasa sedikit lega karena kakek yang meninggal tidak pernah bercerita tentang keburukan ibu sambungnya dia hanya menceritakan kebaikannya saja.
Marah itu pasti tapi apa yang bisa di perbuat lagi, karna nasi sudah menjadi bubur dan itu tidak bisa untuk di ulang lagi.
" Terima kasih sudah merawat saya, terima kasih sudah menganggap saya sebagai anak anda sendiri, terima kasih untuk semuanya, Nyonya." ucap Arzan sedikit menunduk kan kepala, berbalik untuk meninggalkan wanita tua beserta keluarganya yang menatap kepergiannya.
Sekilas Eva menatap keluarga Revan, menatap Revan yang sedang menatap kepergian Arzan dengan rasa terkejut, hingga Eva berlari untuk menyusul Arzan yang sudah menghilang dari ruangan itu.
" Berikan dia waktu sebentar, dia pasti juga merindukan kamu." ucap Tuan Gio saat memeluk tubuh istrinya yang rapuh.
Eva yang sudah keluar dari ruang aula mulai kebingungan karena tidak melihat keberadaan Arzan. mencoba mencari ke kamar hotel milik Arzan tapi tidak di temukan, ia pun mencoba mencari di ruang kerjanya juga tidak menemukannya, hingga dia mulai turun dari hotel dan mencarinya di taman hotel yang sepi. berkeliling mencari di taman hingga dia menemukan tubuh kekar yang sedang duduk di kursi dengan di bawah lampu remang dan menundukkan kepala.
Menghampirinya dengan perlahan hingga dia berada tepat di depan tubuh pria itu yang masih menundukkan kepala dengan menyangga ke dua tanganya di sisi paha kanan kiri.
Mengusap lembut lengan kekar yang rapuh itu hingga membuat di pemilik lengan mendongakkan kepala dan menatapnya.
Menarik tubuh Eva hingga mendekat dan memeluknya, tangan yang melingkar di pinggul Eva dan kepala yang terbedam di perutnya serta menangis tanpa bersuara membuat Eva merasa pilu dengan keadan Arzan.
Membiarkan Arzan memeluknya dan mencoba mengusap lembut punggung Arzan hingga Arzan benar-benar tenang.
Tanpa di sadari sepasang mata mentapnya dengan rasa bersalah pada pria itu dan sedikit cemburu saat memeluk tubuh Eva.
Dia pun pergi saat melihat Arzan dan Eva sedikit begitu lama dan masih setia dengan Arzan yang memeluk Eva.
__ADS_1
"Maaf." ucap Arzan yang sudah melepas pelukannya diri tubuh Eva.
Eva pun duduk di sisi Arzan dan tersenyum saat melihat Arzan masih menundukkan kepala.
" Tidak ada kata mantan Ibu saat dia sudah memberi mu asi, meskipun dia yang bukan melahir kan kamu." ucap Eva.
" Aku tidak membencinya, hanya saja aku marah dan sedikit kecewa padanya." ujar Arzan.
" Dia menyesal, dia juga sama rapuhnya dengan kamu. Apa kamu tidak bisa memaafkannya." kata Eva.
" Aku akan mencobanya." ucap Arzan dan menatap Eva yang sama menatapnya.
" Terima kasih." ucap tulus Arzan.
" Untuk."
" karena kamu masih ada di sisi ku." kata Arzan mambuat Eva tersenyum dan memegang tangan Arzan.
" Ayo." ajak Eva.
" Kemana." tanyanya.
" Traktir aku makan bakso.!" serunya dengan tersenyum menunjukkan gigi putihnya membuat Arzan tertawa kecil serta mengangguk untuk pergi bersama Evam
Berjalan dan bergandengan tangan untuk pertama kalinya saat mereka tak sadar akan apa yang mereka lakukan sekarang.
.
.
.
.
.🌹🌹🌹
__ADS_1
Nich aku up dua kali untuk kalian, kalau kalian gak mau ngasih Vote berarti kalian tega dengan ku.ðŸ˜ðŸ˜