
Membangun kata kepercayaan itu sangat sulit, apa lagi jika aku sudah pernah mengalaminya tentang ketidak jujuran.
.
.
.
.
Memarkirkan mobil di tempat cafe yang tidak terlalu ramai akan pengunjung. Memilih duduk di pojok berdekatan dengan kaca dan memilih menu saat pramusaji melayaninya.
Masih memikirkan perkataan wanita yang selama tiga tahun selalu bersamanya, selalu mengirim chat dengan berbagai kata dan perhatian padanya. Siapa lagi jika bukan Dani yang masih memikirkan Ana
Wanita itu yang selama tiga tahun dekat dengannya. Wanita itu yang selalu perhatian dengannya dan bisa membuat dia tersenyum saat mereka saling membalas chat.
Dua kali Dani melihat Asisten Arzan berada di rumah Ana dan Mengingat perkataan Asisten Arzan yang pernah tidur di kamar Ana.
Dalam hati kecilnya iidak mungkin jika Ana melakukan itu, tapi pikiran negatif itu selalu ada apa lagi saat Dani sudah pernah mengalami di bohongi oleh wanita yang dia percaya dan dia cintai di masa lalunya.
Menghembuskan nafas berat dan memejam kan mata untuk meredakan amarahnya.
" Silahkan kak." ucap ramah pramusaji dengan menaruh minuman di atas meja yang sudah di pesan oleh Dani.
" Terima kasih." ucap Dani dan di anggukkan oleh pramusaji dengan tersenyum dan melenggang pergi untuk melayani pelanggan yang lain.
Mengaduk minuman yang berjenis mocktail dengan memandang jendela kaca untuk melihat seseorang yang sedang membuat janji beberapa hari lalu untuk bertemu dengannya.
" Apa aku terlambat.?" ucap seorang wanita yang menghampiri Dani dengan tersenyum, menatap wanita itu dengan tersenyum dan menggelengkan kepala.
Wanita cantik yang selalu memposting dirinya dengan Dani dan menandai Dani di postingan tersebut, membuat siapa saja pasti mengira mereka berpacaran.
Duduk di depan Dani dengan tersenyum dan membenarkan ikat rambutnya.
" Kamu mau pesan apa?" tanya Dani pada wanita yang ada di hadapannya.
" seperti biasa.?" jawabnya, mengangguk dan melambaikan tangan pada pramusaji untuk memesan minuman pada wanita yang ada di hadapannya.
" Satu orenge juice dan satu panna cotta.?" pesan Dani pada pramusaji, menulisnya dan pergi dari meja pelanggan untuk segera membuatkan menu pesanan.
" Terima kasih.?" jawab wanita cantik pada Dani.
" Sepertinya kamu lagi ada masalah, ada apa.?" tanya wanita itu lagi dengan memandang lekat wajah Dani yang sedikit berbeda.
" Tidak ada." elak Dani.
" Kamu jangan berbohong dengan ku, tujuh tahun kita berteman dan aku tau semua tentang mu Dan.?" kata wanita itu, yang mulai berteman dari masa kuliah hingga sekarang bekerja di tempat yang sama.
__ADS_1
" Kamu masih ingat wanita yang aku ceritakan pada mu.?" kata Dani.
" Ana maksud kamu.?" kata wanita itu dan di anggukkan oleh Dani dengan menyeruput minumannya.
" Kenapa?" tanyanya.
" Ada pria yang tidur di rumahnya." kata Dani.
" Terus.!" dengan mengerutkan keningnya.
" Pria itu bilang jika dia tidur di kamar Ana." ucapnya dengan berhenti kala pramusaji mengantarkan pesanannya, mengucapkan terima kasih saat pramusaji akan pergi.
" Apa kau percaya pria itu tidur dengannya.?" tanya wanita itu dengan menatap lekat wajah Dani yang menatap minumannya.
" Entah lah, tapi sepertinya Ana tidak begitu.?" ucap Dani dengan memikirkan Ana.
Tersenyum menatap Dani jika memang benar pria yang ada di hadapanya menyukai Ana dengan memperhatikan wajahnya yang sedikit kecewa saat Ana bersama pria lain.
Sungguh beruntung Ana yang baru mengenal Dani selama tiga tahun sudah bisa mencuri hati pria yang ada di hadapannya ini.
Sedangkan dia yang tujuh tahun mengenal Dani suka dalam diam dan melakukan apapun agar bisa berdekatan dengan Dani, tidak ada sedikit pun Dani punya rasa dengannya hanya di anggap sebagai sahabat tidak lebih.
Andai kau tau Dan jika aku mencintai mu selama ini.?" gumam wanita itu dengan tersenyum miris menatap Dani yang sedang kecewa dengan wanita lain.
*****
Merasa bosan karena tidak boleh melakukan pekerjaan lagi oleh Arzan, berjalan menuju dapur, dengan melihat bik Santi yang sedang memasak makan siangnya.
" Masak apa buk.?" tanya Eva dengan menghampiri bik Santi.
" Masak sayur cap cay mba.?" jawab bik Santi " Mba Eva suka.?" tanyanya.
" Suka? masak yang banyak ya buk aku ingin ke kantor mas Arzan.?" ucapnya dengan semangat.
" Mba Eva mau ke kantor mas Arzan.?" tanya bik Santi
" Iya buk, Eva ingin lihat kantor mas Arzan yang baru." jawabnya " Jangan bilang mas Arzan ya buk, aku ingin buat kejutan untum mas Arzan?" pinta Eva pada bik Santi untuk tidak memberitahukan pada Arzan, mengangguk dan tersenyum sebagai tanda jawab.
Membantu bik Santi memasak dan menyiapkan bekal makan siang untuk di bawa ke kantor suaminya.
Memilih pakaian mini dres motif bunga berbahan sifon di padu dengan memakai sepatu flat hitam, tidak perlu tebal untuk memoles bedak di wajahnya.
" Aku berangkat ya buk.?" ucap Eva pada bim Sinta yang mengatarnya ke depan rumah.
" Hati-hati ya mba." ucap bik Santi dan di anggukkan oleh Eva.
Membukakan pintu belakang untuk Nyonyanya yang sedang berjalan menuju mobil. Mengucapkan terima kasih pada sopirnya dan di anggukkan oleh sopir serta tersenyum.
__ADS_1
Memandang ke arah luar jendela dengan melihat banyaknya pengendara di siang hari yang sedikit padat dan macet.
empat puluh lima menit berkendara hingga sampai tepat berada di lobby kantor milik suaminya.
" Jangan turun pak, biar saya buka sendiri saja." ucap Eva pada sopir yang akan turun dan membukakan pintunya.
" Baik mba." jawab sopir.
Turun dari mobil dan menatap takjub kantor suaminya yang begitu tinggi dan banyak karyawan yang baru saja selesai dari jam istirahatnya. Menuju resepsionis dengan tersenyum.
" Permisi mba, bisa bertemu dengan bapak Arzan Ravindra Malik.?" tanya sopan Eva.
" Ada keperluan apa ya mbak.?" tanya resepsionis dengan memandang Eva dari atas hingga bawah yang memperlihatkan pakaian yang sederhana.
" Saya mau mengantarkan makanan untuk bapak Arzan." jawab Eva.
" mbak bisa taruh saja di sini biar saya yang mengantarkannya, karena bapak Arzan masih ada rapat." jawab sinis resepsionis dengan menatap Eva.
" Sampai jam berapa buk pak Arzan selesai rapat." tanya Eva
" Kurang tau ya mba." jawab sewot resepsionis dan duduk kembali serta memilih memainkan ponsel dengan temannya yang berada di sebelah yang sama memandang sinis Eva.
" Ruangan bapak Arzan ada di lantai berapa mbak."
" Mending mbak pulang saja." usir salah satu resepsionis
Merasa geram dengan perlakuan dua wanita Resepsionis yang memandangnya sinis dan ucapan yang begitu tidak mengenakkan di hatinya, Eva pun mulai menggebrak meja hingga membuat dua resepsionis terkejut dan langsung berdiri dari duduknya. Tidak hanya resepsionis saja yang terkejut tapi juga beberapa orang yang melintas juga ikut terkejut serta berhenti jalan dan menatap Eva.
" Saya di sini tanya dengan sopan ya, tapi kalian memperlakukan saya seperti ini." ucap Eva dengan menatap tajam dan menaikan suaranya dengan sedikit keras.
" Security.!!" panggil salah satu resepsionis dengan keras, hingga membuat dua security menghampirinya.
" Usir dia pak.!! wanita ini sudah mengganggu kenyamanan kantor." ucap resepsionis pada security membuat Eva menajamkan mata pada dua resepsionis yang mengusirnya.
" Tolong ibu pergi, sebelum kami menyeret ibu kel-."
" Jika kalian berani menyentuh Istri ku akan aku pastikan kalian mati.!" Hardik seorang pria tidak juah melihat istrinya yang sedang di hina dan di usir oleh karyawannya.
.
.
.
.🐨🐨🐨
Maaf atas keterlambatannya.🙏🙏
__ADS_1