
Aku merasa senang kau mengingat nama ku, tapi aku merasa benci nama ku kau ucapkan dari bibir mu."
.
.
.
Waktu berjalan sangat cepat, Eva yang sudah mulai menjalani hari harinya dengan tersenyum ceria serta tak lagi mengingat masa lalu membuatnya semakin ringan untuk menjalani hidupnya
Bersama seorang pria yang setia menemaninya meskipun pria itu belum mendapatkan jawaban dari Eva tentang ajakan menikah.
Arzan selalu ada buat Eva, meskipun ia sedang berada di luar kota ataupun di luar negeri tak lupa ia selalu mengasih kabar tentangnya dan menyuruh anak buahnya untuk menjaga Eva dengan secara menyamar.
Karyawan hotel masih saja bergosib tentang hubungan Eva dan Arzan, begitu banyak yang iri dengan Eva karena Arzan selalu saja menghampirinya, mengajaknya makan bersama ataupun mengantarnya pulang.
Dia bisa tersenyum saat bersama Eva hingga membuat semua karyawan merasa terpesona dengan senyuman Arzan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Sungguh luar biasa Eva bisa mengubah Arzan yang dingin dan kaku kini menjadi pria yang hangat dan mudah tersenyum tapi hanya di tujukan oleh Eva saja meskipun kadang ada yang mencoba mencuri pandang saat mereka berjalan dengan bercanda dan membuatnya saling tertawa dan tersenyum.
Malam ini hotel Ravindra sedang di adakan acara pesta pertungan dari seorang pengusaha, begitu banyak tamu undangan yang datang dan mengharuskan pegawai hotel ikut menjadi pelayan dadakan di acara pesta tersebut termasuk Eva.
Eva yang memang bekerja di siff sore ia pun langsung di tugaskan melayani tamu undangan acara pesta, tak ada sedikit pun rasa penasaran akan siapa pengusaha yang mau bertunangan secara mewah dan biaya yang begitu mahal hanya di adakan semalam itu.
Desas desus pengusaha yang akan bertungan itu seorang putra tunggal yang sukses di bidang tekstil, banyak yang mengagumi ketampanannya sama seperti ketampanan pemilik hotel tapi bedanya mereka seperti langit dan bumi.
Eva yang mulai memberi jamuan pada para undanga pun sekilas mendengar nama calon pasangan yang akan bertunangan. Bella, Revan keluarga Tuan Gio
Deg
Revan!" gumam eva dalam hati dengan tubuh yang kaku saat mendengar nama itu.
di saat bersamaan seorang wanita menepuk punggung Eva hingga dia berbalik dan menatapnya.
__ADS_1
" Mba bella." ucap lirih Eva dengan terkejut karna di hadapannya sekarang adalah mantan kekasih kakaknya.
"Waw, si janda ternyata bekerja jadi pelayan sekarang!" seru Bella dengan tatapan sinis dan menghinanya.
" Kamu harus tau jika aku akan bertunangan dengan Revan malam ini, jadi aku lah pemenangnya." ujarnya lagi dengn bangga.
" Selamat mba." ucap Eva dengan tersenyum, dan mengulurkan tangan untuk menyalaminya, tangan itu hanya mengudara tak ada balasan dari Wanita seksi yang ada di hadapannya sekarang.
tersenyum kecut hingga dia menarik tangannya kembali, di saat Eva akan berbalik untuk meninggalkan wanita calon mantan kekasihnya itu lengan tangan Eva di tarik kasar untuk berbalik menghadapnya hingga membuat nampan yang berada di tangan Eva terjatuh dan membuat semua orang serentak melihat ke arah benda yang terjatuh.
" Wanita gila, kenapa kamu menyiram minuman ke tubuh ku.?" ucap Bella yang terkena air minum hingga membasahi kebayanya.
" Mbak bella yang menarik tangan saya, hingga membuat minuman itu jatuh sendiri ke tubuh mbak." balas Eva yang tak terima akan tuduhan Bella.
terkejut saat Eva berani membalas serta menantangnya,
" Kamu menuduh ku!" seru Bella
" Memang kenyataan kan." jawab Eva dengan mata menajam.
Pengawal yang kecolongan melihat Eva berkelahi dengan wanita seksi itu segera menghampirinya di ikuti dengan keluarga Bella dan calon mertuanya yang juga menghampiri mereka.
Melerai dua wanita yang saling menjambak terutama Eva yang sudah bar bar karena sudah terlalu memendam lama emosinya saat berhadapan dengan Bella.
dua wanita yang tidak mau mengalah dan masih saling menjambak rambut membuat orang yang berada di sekitarnya kesulitan untuk melerai mereka hingga pengawal Arzan mencekram tangan Bella dan mendorongnya yang hampir terjatuh jika Nyonya Vani dan mama Bella tidak memegangnya.
" Nona tidak apa apa.?" tanya pengawal pada Eva yang rambutnya berantakan serta ada beberapa goresan di lehernya.
Eva hanya menggelengkan kepala serta menatap tajam ke arah Bella dan keluarganya.
" Eva." sapa Revan lirih saat melihat Eva berada di hadapan dia beserta keluarganya.
Nyonya Vani yang sedang melihat Bella dengan keadaan yang sangat menyedihkan goresan kuku Eva yang mengenai wajah calon menantunya dan rambut yang berantakan banyaknya rontokan rambut di punggungnya itu pun beralih menatap Eva dengan tatapan Marah.
__ADS_1
menghampirinya, tangan yang sudah mengudara dan akan mengenai pipi Eva itu pun di tahan oleh tangan kekar yang berada di sampingnya.
beralih menatap tangan kekar yang sudah lancang memegang tangannya dengan tatapan menajam.
" jangan sekali kali anda memukulnya, jika tidak mau berurusan dengan saya.!" hardik Arzan dan melepaskan tangan Nyonya Vani dengan sopan meskipun hatinya merasa marah.
Nyonya Vani yang melihat Arzan di hadapannya, menatap intens wajah pria yang tak asing baginya seperti melihat bayangan di masa lalunya dengan seorang pria.
Sama halnya dengan Arzan dia pun menatap Nyonya Vani dengan rasa rindu seorang anak yang tak pernah bertemu ibunya, ingin rasanya ia memeluk ibunya, ingin rasanya dia mengucapkan kata Ibu untuk pertama kalinya saat bertemu seperti ini.
Memutuskan kontak terlebih dahulu agar tidak terlalu dalam rasa rindu seorang anak hingga dia beralih menatap Eva.
Melihat kondisi Eva ia pun membenarkan anak rambutnya yang berantakan dan melihat luka goresan di leher Eva membuat rahangnya mengeras.
" Aku tidak apa apa Arzan.?" ucap Eva dengan memegang tangan Arzan karena dia tau jika Arzan marah.
Arzan?" gumam Nyonya vani yang mendengar nama pria itu.
" Ayo pulang." ajak Arzan dengan lembut dan memegang tangan Eva untuk melangkah bersama.
" Arzan Ravindra Malik." sapa Nyonya Vani membuat sang pemilik nama berhenti melangkah.
"Ravin?." ujarnya lagi dengan suara bergetar.
Tubuh pria kekar itu menegang tangan mengepal memegang kuat pergelangan tangan Eva hingga membuat sang pemilik tangan meringis kesakitan karena terlalu kuat di genggam oleh Arzan.
" Anda masih mengingatku Nyonya Vani Malik Akbar!" ucap sinis Arzan dan berbalik untuk menatap Nyonya Vani.
.
.
.
__ADS_1
.Maaf atas keterlambatannya🙏
kalian pasti tau kan jika di desa jarang sekali ada sinyal.😇