
Mata tidak bisa berbohong jika kau mencintainya, aku tidak mau menjadi orang ke tiga libih baik mundur dan menjaga jarak dari kamu.
.
.
.
.
"Mereka sudah pulang.?" tanya Ana yang melihat Rizal membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan pasien.
" Iya, sudah." kata Rizal dan duduk di samping ranjang Ana.
" Kamu tidak tidur." ujarnya lagi.
" Belum mengantuk, Kamu pulanglah pasti kamu capek." ucap Ana dengan merasa tidak enak hati.
" Aku akan menemani kamu di sini sampai besok mba Eva datang untuk menjenguk kamu." jawabnya.
"Eh, enggak usah aku enggak papa sendiri, lagian masih ada perawat yang jaga malam." tolak Ana dengan cepat.
" Enggak papa lagian aku juga capek sekali untuk menyetir." kata Rizal dengan berjalan ke arah sofa, melepas alas kaki dan membaringkan tubuhnya di sana.
" Cepat tidur sudah malam." ucap Rizal tanpa menatap Ana yang sedang memperhatikannya,
Tersentak kecil saat ketahuan sedang memperhatikannya hingga Ana memalingkan mukanya dengan asam. Membaringkan tubuhnya ke ranjang dan berbalik memunggungi tubuh Rizal yang ada di sofa.
Merasa canggung karena ini pertama kali dia tidur dengan seorang pria di dalam ruangan, meskipun itu di ruangan pasien dengan dia yang menjadi pasiennya.
Mencoba memejamkan mata meskipun itu terasa sulit hingga beberapa kali ia membuka dan menutup mata kembali. Sungguh ini sangat sulit.
seandainya saja yang berada di dalam ruangan ini adalah Dani mungkin dia akan tersenyum dan tidur dengan nyenyak serta bisa memandang wajahnya lebih lama dan tidak akan merasa canggung seperti ini.
Membayangkan wajah Dani membuatnya tersenyum seperti orang gila hingga dia menggeleng-gelengkan kepala mencoba menyadarkan diri karena itu tidak akan mungkin terjadi.
merasa sudah mulai mengantuk, mungkin dari pengaruh infus hingga dia pun bisa tertidur lelap meskipun sedikit lama.
Rizal yang sedari belum tertidur dan hanya memejamkan mata saat wanita itu kesulitan untuk menutup mata.
Mendapati tubuh Ana yang sudah tidak lagi gerak membuatnya duduk dan berjalan menghampirnya di ranjang untuk memeriksa keadaan Ana.
meambaikan tangan ke depan wajah Ana, membuatnya tersenyum saat dia benar terlelap, menarik selimut di bawah kaki Ana dan menutupi tubuh wanita itu.
__ADS_1
Menatap wajah dia yang tertidur pulas dan damai sedikit lama, dan beranjak kembali untuk ke sofa merebahkan kembali tubuhnya serta memejamkan mata yang sudah mulai mengantuk.
berharap ini bukan mimpi karena ini juga pertama kali Rizal tidur di dalam ruangan bersama seorang wanita.
***
Pagi yang masih gelap dengan suara alarm di dalam ponsel berbunyi membuat Rizal terbangun dan segera mematikannya.
terbangun dari tidur mencoba duduk untuk merenggangkan badan, merasa sakit di bagian tengkuk lehernya dan memijatnya dengan perlahan.
Saat mata tidak sengaja melihat ke arah ranjang yang sudah tidak ada orang di atas sana membuatnya terkejut, serta melihat ruangan yang tidak ada sama sekali tubuh wanita itu hingga dia berdiri untuk mencari keberadaannya.
mengetuk pintu kamar mandi mungkin Ana sedang ada di sana, mencoba beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban hingga dia memberanikan diri untuk membuka pintu itu dan ternyata kamar mandi itu kosong.
Saat ia berjalan dan akan membuka pintu untuk mencari Ana di luar, ia sedikit terkejut mendapati Ana yang sudah ada di depan bersama seorang pria yang ada di sebelahnya.
mengerutkan kening seperti dia mengenal pria yang ada di samping Ana.
" Kamu sudah bangun pak." ucap Ana pada Rizal membuat rizal menatapnya hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
" Ah, kenalkan ini mas Dani kakaknya Eva." kata Ana dengan tersenyum.
menatap ke arah pria yang ada di sampingnya dengan tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Dani.
" Rizal."
memberikan jalan pada dua orang yang ada di depan pintu untuk segera masuk. Melihat Dani yang memegang tangan Ana untuk menuntunnya ke arah ranjang entah kenapa membuat hatinya seperti biasa dan tidak ada kata marah saat melihat itu.
" Saya tinggal dulu ke mushola." ucap Rizal pada Dani dan Ana
" Iya pak.?" jawab Ana dengan tersenyum, dan Dani hanya mengangguk.
Saat pintu ruangan sudah tertutup, kini hanya ada Ana dan Dani.
" Kamu kenapa bisa sampai begini.?" tanya Dani.
" di tabrak dari belakang dan itu bukan kesalahan ku." jawab Ana dengan jujur. "Bukannya mas Dani ada di luar kota, kenapa bisa sampai ke sini." ujarnya lagi.
" Eva semalam menghubungi ku, katanya kamu kecelakaan, beruntung pekerjaan ku sudah selesai dan aku bisa langsung ke sini. jawabnya, membuat Ana mengangguk dan tersenyum.
Ia begitu senang saat Dani perhatian dengannya, dia begitu senang saat dani khawatir dengannya. Berharap Dani mempunyai perasaan dengan dirinya agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
" Kamu lelah.?" tanya Ana.
__ADS_1
" Tidak, apa madih sakit." tanya Dani.
" Tidak lagi, sepertinya nanti aku boleh pulang." jawab ana, membuat Dani tersenyum dan mengacak rambut Ana dengan gemas.
saat mekera sedang asyik mengobrol pintu kamar terbuka memperlihatkan Rizal yang sudah selesai dari ibadahnya mencoba tersenyum untuk masuk.
" Sudah selesai pak sholatnya." tanya Ana.
" Sudah, kalau begitu saya pulang ya." ucap Rizal karena ia tahu jika Ana lebih nyaman dengan Dani dan dia akan merasa canggung jika Rizal masih berada di ruangan itu.
" Enggak nunggu Eva pak." tanyanya sedikig basa-basi.
" Enggak usah nanti tolong salamkan saja." jawabnya " Kalau begitu saja pamit pulang dulu mas." ujarnya pada Dani yang sedang berdiri di samping Ana.
" Iya, dan terima kasih sudah menolong Eva." Jawab Dani dengan tersenyum hanya anggukan kecil serta tersenyum untuk membalasnya.
" Saya pulang, semoga cepat sembuh." ucap Rizal.
" Terima kasih pak dan hati-hati di jalan." jawab Ana, hanya senyuman yang Rizal perlihatkan tanpa menjawab perkataan Ana
Menatap kepergian Rizal yang tidak seperti saat mereka bertemu, yang selalu menggodanya kini seperti orang pendiam dan hanya bicara seperlunya saja.
" Kenapa.?" tanya Dani membuat Ana tersentak kecil dan menatapnya.
" Ah, tidak." jawab Ana.
" Mau makan?" tanya Dani yang beberapa saat lalu suster membawakan nampan berisi makanan dan menaruhnya di atas laci.
" Iya." jawabnya, Dengan sabar Dani menyuapi Ana yang awalnya di tolak olehnya karena Ana malu jika makan di suapin oleh Dani. Karena Dani yang tidak suka di bantah hingga akhirnya dia menurut dan mau makan di suapin olehnya.
Sedangkan di parkiran mobil Rizal termenung, mengingat Ana yang tertawa lepas bersama Dani dan melihat mata Ana yang seperti mempunyai perasaan lebih padanya, dan sama halnya dengan Dani jika dia juga menyukai Ana.
Tidak ingin terlibat dari jauh hingga itu dia mencoba untuk mundur dan tidak lagi menggoda Ana. karena Rizal takut jika ia akan sakit hati bila cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
.
.
.
.🐨🐨🐨🐨
Jika ingin mencari babang kadal cari saja di sini SAD BOY WITH GADIS TOMBOY.
__ADS_1
ramaikan yuk.😊😊