Eva My Life Line

Eva My Life Line
Peristirahatan


__ADS_3

Aku tau jika semua ini adalah milik mu Tuhan, dan aku memohon kepada mu tempatkan lah dia di tempat yang terindah.


.


.


.


.


Setiap manusia akan kembali pada sang penciptanya, tidak peduli itu masih kecil ataupun sudah dewasa. Jika Tuhan sudah berkehentak tidak akan bisa di ubah lagi bukan.!


Jodoh, rizeki, maut sudah ada yang mengatur dan sudah ada batasannya. Meskipun berbagai cara untuk mendapatkannya tetap saja, jika yang menciptakan sudah mengatakan cukup tidak mungkin bisa untuk kita memaksanya.


Memang berat saat kita melepaskan orang yang begitu kita sayangi untuk kembali pada sang pencipta. Tapi percayalah jika dia lebih bahagia bila berada di sisi penciptanya dengan kebaikan di masa hidupnya dulu.


Begitu pun dengan dua anak yang di tinggalkan oleh ibunya, dengan sang kakak yang mencoba tabah dan tidak menangis untuk menenangkan adiknya yang berada di sisi ibunya yang sudah pucat dan dingin.


Masih memeluk ibunya kala sang anak perempuan masih tidak ingin untuk di tinggalkan dan masih tidak percaya akan apa yang di lihatnya sekarang, karena beberapa waktu yang lalu mereka masih berbincang dan tertawa bersama.


Merasakan kebahagian yang hanya beberapa jam saja sebelum akhirnya beliau pergi untuk selama lamanya, meninggalkan Putra dan Putrinya untuk bertemu Tuhan serta suaminya.


Memandikan jenasah ibunya untuk terakhir kali dengan menundukkan kepala saat putra itu sudah tidak sanggup untuk menahan air mata. Bergetar tangan ini saat memakaikan kain putih untuk menutupi seluruh tubuh ibunya.


sholatlah sebelum kau di solatkan. Dan itulah yang terjadi saat ini kala sang putranya berada tepat di depan keranda yang di solatkan oleh seorang ustad dan beberapa kerabatnya.


Eva memeluk tubuh gadis remaja yang menangis dan bergetar hebat di dalam dekapannya, dirinya pun juga pernah merasakan bagaimana berada di posisi Maria saat dulu di tinggalkan ke dua orang tuanya untuk selama-lamanya. Tidak bisa menahan air mata hingga Eva pun juga ikut menangis.


Mengantarkannya pulang ke tempat yang sesungguhnya dengan Mario dan Arzan yang juga ikut memikul keranda tanpa harus bergantian.


tenda pemakaman tepat berada di atas liang lahat dengan begitu banyak kerabat, tetangga dan sebagian karyawan Arzan yang ikut kepengantaran jenasah untuk di masukkan ke dalam liang lahat.


suara yang bergetar saat dari seorang putra yang melafalkan Adzan dan iqomah untuk ibunya. Mario pun juga turut ikut dalam penguburan ibunya, mengembalikan tanah yang sudah terdapat jenasah di bawahnya. Jenasah ibunya yang sudah tidak akan pernah lagi Mario lihat untuk selamanya.


Tinggallah satu orang saat semuanya sudah pulang, termasuk adiknya yang memintanya untuk pulang terlebih dulu bersama Arzan dan Eva.

__ADS_1


Duduk di samping gundukan tanah merah dengan nisan putih yang terdapat nama ibunya di sana.


Menyentuh nisan nama ibunya, menyusap lembut nama yang selalu menjadi prioritasnya saat itu.


" Sekarang sudah tidak sakit lagi kan buk, dan sekarang sudah bisa tidur dengan tenang." ucapnya dengan tersenyum


" Terima kasih sudah merawat dan membesarkan Anak-anak mu dengan kasih sayang yang engkau berikan selama ini, aku tau engkau tidak pernah mengelu dan meminta apa pun dari anak mu ini. Maafkan Mario jika selama ini masih belum bisa memberikan kebahagiaan untuk mu buk."


" engkau selalu menyanyikan lagu tidur untuk ku dan Maria. Dan sekarang aku akan menyanyikan untuk ibu yang terakhir kali." ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.


Hanya memberi, tak harap kembali.


Bagai sang surya menyinari dunia." gumam Mario lirih dengan meneteskan air mata, menyandarkan kepalanya di batu nissan dengan tubuh yang begitu begetar tidak bisa lagi untuk menahan tangisannya lagi saat ia sendiri di sana.


" Mario pulang buk, semoga ibu bahagia di alam yang baru." mencium batu nisan dengan sangat lama dan berdiri meninggalkan tanah yang masih basah dengan sekali kali melihat ke belakang.


****


" Apa Maria masih menangis kak."


" Tidak, dia sudah tidur dengan di temani Eva." jawab Arzan


" Terima kasih kak." ucap tulus Mario.


" Kita sudah seperti keluarga, aku akan selalu ada untuk mu dan adik mu." kata Arzan dengan tersenyum " sekarang kau istirahat lah." perintah Arzan dan di anggukkan oleh Mario dengan tersenyum.


Berjalan menaiki anak tangga untuk ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya, berjalan ke arah jendela dengan menatap malam yang tidak begitu cerah kala bulan sedang bersembunyi di balik awan malam.


Aku janji akan membawa dia kepada mu buk, jika dia menerima cinta ku nanti.!" gumamnya dengan masih menatap langit malam.


****


kediaman Chandavarman.

__ADS_1


" Kau sudah keluar kerja dari pabrik itu" ucap pria paruh baya pada cucu tunggalnya saat berada di meja makan, hanya mengangguk dengan mengunyah makanan.


" Kalau begitu besok kau sudah harus ke kantor." ucapnya lagi hingga membuat cucu wanitanya membulatkan mata dan berhenti mengunyah makanan.


" Ana baru dua hari lho kek keluar dari pekerjaan dan sekarang masa harus ke kantor.!" seru Ana dengan wajah yang cemberut.


Ya, dua minggu yang lalu Ana sudah mengajukan pengunduran diri dari pekerjaannya. dan dua hari ini Ana baru bisa keluar dari pekerjaannya kala ada yang sudah menggantikan posisinya.


" Kakek tidak peduli, Kau harus mulai belajar untuk mengurus perusahaan kakek mu ini mulai dari sekarang. Sudah cukup kau memajukan perusahaan orang lain, sedangkan perusahaan kakek mu ini tidak pernah kau urus." ucapnya dengan sinis pada cucunya yang dia sayang meskipun kadang suka membatah.


Menghembuskan nafas beratnya, mau tidak mau Ana harus menurut perkataan kakeknya yang memang sebenarnya dia yang salah karena memilih bekerja di perusahaan orang lain daripada di perusahaannya sendiri.


Empat tahun dia hidup di rumah yang sederhana, meninggalkan semua fasilitas mewahnya dan mencoba kerasnya hidup tanpa bantuan dari sang kakek. Ya walaupun masih di pantau oleh kakeknya.


Menyekolahkan cucunya tinggi-tinggi hingga sarjana tapi dia memilih bekerja sebagai buruh pabrik dengan melamar ijasah smanya, dan itu sungguh membuat pria tua marah akan apa yang di lakukan cucunya.


Tidak bisa di pungkiri jika sifat Ana sama persis dengan almarhum putrinya yang juga suka memilih hidup sederhana sama seperti istrinya dulu.


Sudah cukup rasanya pria paruh baya ini bekerja dan mulai pensiun dari pekerjaannya serta menyerahkan semuanya pada cucunya untuk mengelola perusahaannya sebagai pewaris tunggal.


Mengingat kala putrinya dulu lebih memilih pria baj*ngan yang tidak merestui hubungannya, bukan karena perbedaan status tapi karena memang dia tau jika suami putrinya itu hanya mengincar kekayaannya saja. Tidak akan marah kepada cucunya karena cucunya tidak ada salah dalam hal masa lalu putri tunggalnya, dan masih beruntungnya pria tua itu saat dia mempunyai cucu untuk penerus keluarganya walaupun dia seorang perempuan.


.


.


.


. 🐨🐨🐨


Ciye..??


yang malem mingguan.😅


kalau aku mah tetap berada di pulau kapuk.😂😂

__ADS_1


__ADS_2