
Ego yang terlalu tinggi hingga kau tidak mau mengungkapkannya, dan inilah sekarang. Dia sudah di ambil orang.
.
.
.
.
Bertemu dengan sahabat lama yang menghilang tidak ada kabar dan tidak tau dia dulu berada di mana. Tapi kini Eva sudah menemukan sahabatnya, yang ternyata anak dari orang kaya menyembunyikan identitasnya untuk ingin hidup sederhana saja.
" Kamu ternyata anak orang kaya.! kenapa dulu kamu tidak memberitahu ku." cibik Eva. " Kamu takut ya, uang kamu aku hutangin terus." ujarnya lagi dengan ketus, yang mengingat masa lalu mereka masih bekerja di pabrik dengan saling mengutang jika akhir bulan salah satu uang jajan mereka habis.
Tertawa keras saat Eva menggerutunya " Bukan hanya takut saja, tapi aku malas bilang dengan mu. Uang yang kamu pinjam saja tidak pernah kembali." kata Anna membuat Eva melototkan mata dan memukul lengan Anna.
" Bukannya kebalik.!! kamu ngutang saja jarang ngembalikan, apa lagi selalu minta makan ke kost ku. Alasan bilang masakan aku enak, lagi ngidam lah, lagi ingin main ke kos ku lah dan blablabla." cetus Eva dengan mata yang melotot.
Tertawa puas melihat ibu hamil yang menggerutu dan mencibiknya dengan mata yang melotot, bibir yang manyun dan ke dua tangan yang berada di pinggangnya.
" Aku pikir kamu lupa, ternyata ingatan mu masih ada."
" Ya masih ada lah mana mungkin aku lupa." sahut cepat Eva.
terdengar suara ketukan pintu hingga membuat Anna berhenti tertawa dan menyuruhnya masuk.
Melihat Dewi yang membawa satu kantong plastik besar yang berisikan es cream untuk sahabat ini.
" Terima kasih ya Wi." ucap Anna dengan tersenyum
" Sama-sama buk." ucap Dewi dengna ikut tersenyum dan mengangguk.
" Dewi.?" sapa Anna membuat Dewi merurungkan untuk pergi.
" Kenalkan ini sahabat ku yang pernah aku ceritakan ke kamu." kata Anna dengan tersenyum.
" Hay, aku Eva.?" sapa Eva dengan mengulurkan tangannya.
" Dewi buk." jawab Dewi dengan menjabat tangan Eva.
" Panggil aku Eva saja." kata Eva dengan tersenyum dan di anggukkan oleh Dewi.
" Aku seperti pernah melihat mu, tapi di mana ya." ujar Eva dengan mengingat wajah Dewi dan itu membuat Anna menatapnya dengan mata yang membulat, karena Anna takut akan bilang pada Dewi yang sesungguhnya saat dirinya belum mencerikatakan yang sebenarnya.
" Heheheh, masak sih Va mungkin sekilas mirip." kata Dewi dengan tertawa kecil.
__ADS_1
" hahahha, iya mungkin ya." jawab Eva.
" Ya sudah aku tinggal dulu, untuk menyelesaikan pekerjaan." pamit Dewi dengan berjalan keluar ruangan saat mendapatkan anggukan dari Eva.
" Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada ku An.?" tanya Eva dengan penuh selidik saat Eva tau Anna menyembunyikan sesuatu darinya.
" Mengatakan apa." jawab Anna
" Tentang Dewi." kata Eva membuat Anna menatapnya.
" Jangan pura-pura enggak ingat lagi.!!" seru Anna yang sudah mengerti, membuat Eva tertawa pelan.
" Bagaimana.? dia cocok enggak jadi kakak ipar ku." kata Eva dengan tersenyum membuat Anna ikut tersenyum.
" Cocok kok, kan mereka sudah berpacaran." jawab Anna membuat Eva sedikit terkejut.
" Pacaran.! sejak kapan." pekik Eva.
" Entah." dengan mengangkat bahunya " Tapi saat Dewi mengundang ku makan malam, Mas Dani memperkenalkan Dewi pada ku dan Mario sebagai pacarnya." ujar Anna lagi dengan mulai membuka bungkusan plastik yang berisi plastik.
" Kalian doble date.!" seru Eva. " Kenapa enggak ngajak aku sih An.!!" gerutu Eva dengan cemberut.
" Mario enggak sengaja melihat ku, ketika dia sudah selesai bertemu dengan kliennya." jelas Anna agar tidak ada salah paham.
" Kamu ingin bilang aku jujur apa berbohong." kata Anna.
" Jujur." jawab Eva.
" Jangan marah apa pun yang aku katakan." kata Anna dan di anggukkan cepat oleh Eva. " Aku sudah belajar untuk tidak mencintai kakak mu lagi Va, saat aku mengerti jika cinta tidak bisa di paksa. Dewi bilang kepada ku jika Dani sering sekali telpon dia, mengirim pesan dengan perhatian dan sering jalan bersama saat pulang dari luar kota." ujar Anna membuat Eva merasa kasihan.
" Aku juga tidak bisa memaksa mu untuk jatuh cinta pada kakak ku Ann, Mas Dani orang yang sangat tertutup dan sangat sulit untuk mengungkapkan cinta pada seorang wanita walaupun itu orang terdekat. Kamu wanita yang baik, jadi apa pun yang kamu pilih aku akan tetap mendukung mu." kata Eva dengan tersenyum dan menyentuh tangan Anna
" Terima kasih Va." ucap tulus Anna dengan membalas senyuman sahabatnya itu, hingga kini mereka menikmati es cream di siang hari dengan setengah yang sudah mencair.
****
Malam hari dengan masih menikmati lampu tamaran dari atas gedung ruang kerjanya, saat semua karyawannya sudah pulang dari dua jam yang lalu.
Anna memilih untuk tetap berada di kantornya saat Anna menyuruh Dewi untuk pulang terlebih dulu, karena Anna tau jika Dani sedang menunggu Dewi.
dan benar saja dia melihat Dewi berjalan keluar bersama Dani dengan saling berbicara dan tertawa hingga mereka masuk ke dalam mobil.
" Kenapa masih di sini.?" ucap seorang pria saat Anna melamun di depan jendela.
Tersentak kecil dan menatap ke belakang hingga dia terkejut saat melihat pria itu.
__ADS_1
" Mario.!" pekik Anna membuat Mario tersenyum dan berjalan menghampirinya dengan pintu yang sudah di tutup.
" Kenapa belum pulang." tanya Mario.
" Kenapa kamu bisa ada di sini." tanya balik Anna.
" Aku menunggu mu hampir dua jam di bawah, saat sekertaris mu bilang pada ku kamu masih ada di sini." jawab Mario.
" Kau menunggu ku dan bertemu sekertaris ku." ucap Anna, hanya deheman dan anggukan yang Mario jawab.
" Untuk apa kamu datang ke kantor ku." kata Anna dengan beralih menatap luar jendela.
" Untuk menjemput mu pulang bersama." jawab Mario dan mensejajarkan tubuhnya di samping Anna dengan menatap arah luar jendela juga.
" Pulang lah, aku masih ingin di sini." perintah Anna.
" Tidak. Aku akan tetap menunggu mu." jawab Mario membuat Anna menatapnya.
" Boleh aku bertanya." kata Anna yang masih menatap Mario.
" Silahkan, selagi aku bisa menjawab." ujar Mario dengan tersenyum menatap Anna.
" Pernahkah kamu mencintai seseorang dan siapa cinta pertama mu."
" Pernah, dan cinta pertama ku adalah ibu ku." jawab Mario.
" Selain ibu mu?" tanyanya lagi.
" Kamu." sahut cepat Mario, membuat Anna terkejut dan menatap mata Mario untuk mencari kebohongan, tapi tidak ia temukan. Mata yang tidak ragu saat berkata jujur dengan yang mereka saling menatap.
" Aku tidak tau kapan aku mulai mencintai mu, tapi saat aku mulai menggoda mu, aku mulai tertarik dengan mu dan kau wanita pertama yang aku cium." ucapnya dengan jujur, membuat Anna membulatkan mata karena ucapan Mario yang ternyata dia adalah wanita pertama mendapatkan ciumannya.
Memajukan tubuhnya untuk lebih mendekat pada Anna dan menyentuh pinggang ramping Anna dengan lembut membuat Anna tersentak kecil dan menatapnya.
" Aku mencintai mu An, sunguh! aku sangat mencintai mu."
.
.
.
.🐨🐨🐨
Eekhemm ngamok-ngamok.😅😅 gara-gara nanggung.😆😆
__ADS_1