Eva My Life Line

Eva My Life Line
bertemu sahabat


__ADS_3

Bukan hanya sekedar sahabat, tapi kita sudah seperti saudara walaupun aku salah menyembunyikan kebenaran dari mu.


.


.


.


.


Siang hari dengan teriknya matahari yang begitu panas dan menyengat di kulit tidak membuat Eva merasa lelah dia begitu semangat untuk menikmati jajanan di pinggir jalan dengan di temani mbak yang bekerja di rumahnya dan sopir yang mengikuti Eva dari belakang.


Bukannya ke moll, Eva malah memilih jalan-jalan di taman kota yang banyak pedagang kaki lima dengan berbagai jajanan yang mereka jual.


memilih duduk di bawah pohon yang tinggi dan menutupi matahari dari badannya, serta menikmati makanan yang sudah di beli dan di bungkus beberapa klantok plastik di tangannya dan di tangan Artnya.


Duduk bertiga dengan sopir yang duduk di samping Art karena terpaksa, Eva yang menyuruhnya dan mengancamnya saat sopir tidak mau untuk ikut duduk karena itu sedikit tidak sopan baginya, saat seorang majikan makan bersama dengan bawahannya.


Eva tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan siapapun, dia menghargai dan sama menghormatinya saat mereka bekerja keras di dalam keluarganya. Dan itu lah mengapa para pekerja rumah sangat senang Arzan menikah dengan wanita yang begitu baik dan tidak sombong serta tidak semena-mena pada mereka.


Membuka semua kantong plastik yang berisi makanan dari rujak manis, siomay bandung, sosis bakar, telor gulung, sate pentol, roti bakar dan es dawet dengan rata-rata tiga bungkus semua.


" Mba Eva yakin mau habiskan ini semua.?" tanya pelan Art.


" Kita habiskan bersama mba, masing-masing satu bungkus." jawab Eva dengan entengnya, membuat sopir dan Art menelan ludahnya saat Eva menyuruh mereka untuk menghabis kan makanan yang ada di hadapannya.


Menghabiskan semua makanan yang terbungkus satu-satu, sungguh itu membuat mereka pasti tidak akan sanggup, tapi entah jika sopirnya.?


" Ayo mba.!" semangat Eva dengan memakan rujaknya terlebih dulu. " Mbak sama pak sopir pilih saja yang mana terlebih dulu mau di makan." tawar Eva karena masih belum melihat Art dan sopirnya mengambil makanan.


Sempat ragu saat akan mengambil makanan, hingga Eva mengucapkan ancaman akan memotong gajinya bila tidak mau ikut makan. Dan mereka pun mengambil bungkusan makanan dan memakannya dengan lahap dan tidak ada rasa malu lagi saat makan bersama nyonyanya.


Makan bersama dengan sekali-kali Eva mengajak mereka berbicara walaupun kadang mereka masih berasa canggung dengannya.


Eva yang suka sekali makan rujak buah dengan menghabiskan dua bungkus dan satu es dawet segar di siang hari.


" Kenapa enggak di habisin mbak, pak.?" tanya Eva.


" kenyang mbak Eva.?" jawab kompak mereka, tidak ingin memaksakan Art dan sopirnya karena memang mereka sudah memakan tiga bungkus masing-masing.

__ADS_1


" Yang masih belum tersentuh di bawa pulang ya mbak, nanti buat orang di rumah yang mau ini." perintah Eva dan di anggukkan oleh Artnya dengan tersenyum.


Makan siang yang sederhana di temani dua orang pegawai rumah tanpa adanya suaminya yang bekerja untuk masa depan calon bayi mereka. Tidak mengeluh karena Eva tau betapa sibuknya suaminya itu dan dia sangat beruntung karena suaminya juga perhatian dengannya walaupun dia sibuk.


Berjalan bersama untuk menuju parkiran, dan teringat jika Mario memberikan alamat kantor Anna padanya semalam saat Mario ke rumahnya dengan mengirimkan berkas pekerjaan Arzan.


" Pak kita ke kantor ini ya." ucap Eva dengan memberikan alamat pada sopirnya.


" Baik mba.?" jawab sopir Eva dan mulai menjalankan mobilnya menuju alamat kantor yang ada di kartu nama.


****


" Selamat siang buk, ada yang bisa kami bantu.?" ucap ramah resepsionis, membuat ibu hamil ini tersenyum mendapatkan perlakuan sopan dari resepsionis.


" Apa ibu Annatasya Davira Chandavarman ada mbak.?" tanya Eva dengan tersenyum


" Maaf dengan siapa buk."


" Bilang saja jika saudara perempuannya datang." jawab Eva, di anggukkan oleh resepsionis dan menelpon sekertaris Anna.


" Mari saya antar buk." kata resepsionis dengan hormat dan akan mengantarkan Eva ke gedung atas untuk bertemu dengan Anna.


Berhenti saat Eva melihat Dani yang ada di kantor Anna.


" Kamu kenapa ada di sini.?" tanya Dani pada Eva.


" Aku yang harusnya tanya? kenapa mas Dani ada di sini.!" tanya balik Eva.


" Mas kan kerja di sini Va." jawab Dani membuat Eva membulatkan mata.


" Berarti mas Dani sudah bertemu Anna dong." pekik Eva.


" Aku baru tau kemarin malam saat bertemu dengannya, kalau dia bos ku." kata Dani.


" Aku mau bertemu dengan Anna, anterin aku ya Mas.!!" rengek Eva dengan manja.


" Minta anterin sama mbanya saja, mas lagi sibuk." tolak Dani membuat Eva mengerucutkan bibirnya.


" Bilang saja kalau malu bertemu dengan Anna." cibik Eva dan berjalan meninggalkan Dani yang sedang menatapnya.

__ADS_1


Bukan aku malu, tapi aku sudah belajar untuk melupakan dia walaupun hati ini sakit Va." gumamnya dan menghembuskan nafas beratnya serta berjalan untuk menuju ruangannya.


" Saya antarkan ke ruangan sekertarisnya dulu ya buk, biar ibu Dewi yang akan mengantarkan ibuk ke ruangan bu Anna."


" Iya mbak, terima kasih." jawab Eva dengan tersenyum.


Mengantarkan Eva untuk bertemu sekertaris Anna dan sedikit mengerutkan kening saat melihat wajah Dewi yang begitu tidak asing banginya dan seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Sama seperti Anna pertama kali melihat Dewi.


" Biar aku saja mbak yang mengetuk pintunya." pinta Eva dan langsung membuka pintu tanpa menunggu persetujuan sekertaris Anna, membuat Dewi terkejut dan langsung mengikuti Eva dari belakang.


" Anna.!!" teriak Eva dengan kencang membuat Anna terkejut dan langsung menatap sumber suara yang begitu nyaring.


" Eva.?" pekik Anna dengan mata yang membulat saat ia tau yang ada di hadapannya sekarang adalah sahabatnya.


tersenyum dengan menunjukkan giginya dan mulai berdiri dari duduknya untuk menghampiri Eva.


" Ev-." sapanya tertahan saat Eva memukulnya lengannya dengan tasnya dan tidak terlalu kencang.


" Sakit Va.? astaga.!!" pekik Anna dengan mencoba berlari.


" Eh, mbak, mbak sudah mba." lerai Dewi untuk mencoba menghalangi Eva


" Kamu tega Ann dengan ku.!!" ucap Eva dengan mulai menangis kencang.


" Va.?"


" Bayi ku mau es cream." ucap Eva membuat Anna membulatkan mata hingga akhirnya dia tersenyum dan menyuruh Dewi untuk membelikan es cream yang banyak dengan varian yang berbeda.


duduk di sofa dekat dengan Eva yang masih mengerucutkan bibirnya.


" Va.?" sapa Anna lirih dan membuat Eva menatapnya


" Hmm, aku kangen sahabat ku.!!" ucap Eva dan mulai memeluk Anna, Anna pun juga membalas pelukan Eva dan menitikan air mata karena sudah lama merindukan sahabatnya.


.


.


.

__ADS_1


.🐨🐨🐨


Maaf atas keterlambatannya🙏🙏


__ADS_2