Eva My Life Line

Eva My Life Line
pengunduran diri


__ADS_3

Seperti hembusan angin yang pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak.


Seperti diri mu yang menghilang tanpa aku mengerti apa kesalahanku.


.


.


Sudah empat belas hari Revan sama sekali tidak menampilkan dirinya di hadapan Eva, entah dia menghindar atau benar-benar sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya. Hingga sampai saat ini hubungan mereka tidak ada titik jelasnya.


Eva mulai berasumsi jika Revan menjauhinya itu di sebabkan oleh orang tuanya yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Tapi setidaknya Revan bisa berbicara baik-baik dengan Eva dan mendapat kan titik jelas hubungan mereka untuk mengakhirinya dengan baik agar saling mengerti satu sama lain.


Menatap ponselnya dengan masih melihat beberapa chat dia bersama Revan yang selalu perhatian, manja, kadang suka menggoda membuatnya tersenyum.


Ingin sekali ia mengirim chat pada Revan, tapi itu tidak mungkin karna selama dua minggu ini Revan sama sekali tidak memberi kabar padanya, menelpon pun tidak, apa lagi mengirim pesan.


Mendesah, merasakan sesak di dada yang sakit begitu dalam hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata.


Mulai detik ini ia mencoba untuk melupakan Revan, menghapus semua chat Revan memilih untuk tidak berhubungan lagi dengannya.


Perlahan ia mencoba untuk menulis surat pengunduran diri dari pekerjaannya di pabrik Revan. Sudah cukup dua kali merasakan sakit hati di tempatnya bekerja.


"Kamu yakin mau pindah kerja Va.!" ucap Ana


"Iya.?" jawabnya.


"Kenapa.?" tanyanya lagi


"Ingin cari pengalaman yang baru An, bosen kerja di sini terus.!" kilahnya, tanpa melihat lawan bicaranya, karena Eva takut jika pertahanan air matanya akan runtuh di hadapan sahabatnya itu.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan Revan.?" ujar Ana serta menelisik wajah eva yang semakin menundukkan kepala.


"Aku akan mendukung kamu dan akan selalu menjadi sahabat mu, meskipun kamu keluar dari tempat kerja ini." tambahnya dan menggenggam tangan Eva untuk menyemangati sahabatnya itu.

__ADS_1


"terima kasih, kamu memang sahabat ku yang terbaik." ucap Eva dengan tersenyum, membuat Ana ikut tersenyum dan kini mereka saling berpelukan.


dan sore ketika akan pulang ia ke ruang HRD untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. HRD menerima surat pengunduran dirinya dan akan mencari pengganti Eva sebelum Eva keluar dari pabrik untuk selama lamanya.


****


Satu bulan telah berlalu dimana pengganti Eva sudah memahami pekerjaannya, dan itu artinya hari ini adalah hari terakhir dia bekerja di pabrik.


Masih sama seperti enam minggu yang lalu tidak ada kabar sama sekali tentang Revan, tidak ada sama sekali Revan menampakkan dirinya. Seperti hembusan angin, dia menghilang begitu saja tanpa Eva tau apa alasan yang sebenarnya.


Mengemasi barang yang berada di meja kerjanya untuk ia bawa pulang dan berpamitan pada teman temannya jika dia sudsh tidak bekerja lagi di sini.


Banyak karyawan pabrik yang bertanya tanya kenapa Eva keluar dari pekerjaan, ada yang bergosib tentang dirinya dan Revan karena sudah merasa di bohongin dan permainkan oleh pemilik anak pabrik itu, serta ada pula yang mendoakan semoga eva mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


Melangkah keluar gudang dengan perasaan sedih di mana selama tiga setengah tahun bekerja di sana ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.


Sangat berharga, karena dia tau jika hidupnya begitu keras dan begitu menyedihkan. Di mana dia sudah di patahkan dua kali oleh orang yang pernah di cintai di tempatnya bekerja dan membuat dirinya sudah tidak lagi mempercayai cinta.


Saat sudah berada di kost ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum esok hari ia akan memulai mencari pekerjaan.


" Mas dani.!" seru Eva dan memeluk kakak tersayangnya.


" Lama sekali buka pintunya.!" gerutu Dani dengan mengacak rambut Eva.


" Ngantuk Mas.!!"


" Mentang mentang sekarang jadi pengangguran mau rebahan terus.?" goda Dani


" Belum sehari ya mas jadi pengangguran.!" protes Eva " Tumben mas ke sini enggak ngabarin." imbuhnya


" Ibu sama Ayah kangen Putrinya, mangkanya di suruh jemput.?" jawab Dani " Ayo pulang." ajaknya,


Eva yang juga kangen serta sudah lama tidak menjenguk budhe dan pamannya itu pun semangat mengangguk dan menyiapkan beberapa pakaian untuk menginap di sana.

__ADS_1


sebelum berangkat Eva berpamitan pada bu kost jika dia akan pulang kampung untuk beberapa hari. Bu kost pun mengerti serta mendoakan untuk selamat dalam perjalanan.


" Bagaimana hubungan kamu sama Revan.? masih berlanjut atau tidak." tanya Dani saat berada di dalam mobil dengan dia yang mengemudin mobilnya.


" Sudah berakhir mas.!" jawabnya.


" Enggak di restui?" tanya Dani dan di anggukkan oleh eva.


Dani sudah menduga jika hubungan mereka tidak akan di restui oleh ke dua orang tua Revan karena status Eva yang janda. rasanya Dani ingin marah hanya karna status adiknya yang janda semua orang menghina serta memandang rendah adiknya itu.


" Mas?" sapa Eva


" Hmmm.!"


" Aku bertemu mba Bella.?" ucap Eva, membuat Dani meliriknya dan mengerutkan keningnya.


" Terus!"


" Dia calon Tunangan Revan!" lirih Eva dengan menatap kakaknya.


" Apa Revan tau tentang Bella?" tanya Dani dan di gelengkan kepala oleh Eva.


" Syukur lah jika dia belum tau, kalau sudah tau pasti enggak akan seru?" jawabnya dengan tersenyum hingga membuat Eva menatap kakaknya dengan tidak percaya.


Setau Eva, kakaknya itu cinta sekali sama Bella karena sewaktu putus dengan bella kakaknya itu sempat frustasi yang tidak pernah menyentuh rokok, dia pun menyentuhnya dan selalu bolos sekolah serta hampir di keluarkan dari sekolah karena dia memukul pacar baru Bella hingga masuk rumah sakit.


" Udah move on mas." ejek Eva.


" Sudah waktu di rukiyah sama ibu.? di bawain air dari dukun terus di semburkan ke muka mas ini.!" serunya hingga membuat Eva tertawa.


Mengingat dulu budhe yang sudah frustasi dengan anak lelakinya itu. Budhe pun meminta tolong pada tetangga untuk membawanya ke orang pintar, mencari obat buat menghilangkan guna-guna di tubuh anaknya. pulang-pulang di bawakan air dalam botol, bukannya di suruh minum malah di semburkan ke muka anaknya waktu tidur.


Sungguh Budhenya itu sangat lah percaya akan dengan hal seperti itu. Hingga dia menangis dalam pelukan putranya setelah menyemburkan air di mukutnya dan mulai di situlah Dani tersadar jika selama itu dia sudah membuat keluarganya susah dan menangis karena ulahnya.

__ADS_1


Tapi sampai sekarang pun Eva tidak pernah melihat atau mendengar kakaknya itu mempunyai kekasih. Budhenya pun sampai mencari jodoh buat kakaknya itu.


Menghilangkan sejenak rutinitasnya di kota dan masa lalu percintaannya dengan Revan untuk pulang ke rumah budhe, agar ia bisa merubah kehidupannya kembali.


__ADS_2