
Aku berharap kesalah pahaman ini hanyalah sementara. karena aku takut, jika suatu saat kamu meninggalkan aku.
.
.
.
.
sunyi tidak ada percakapan di dalam mobil, hingga mobil yang mereka naiki sudah tiba di sebrang tempat kost Eva.
"Nona kita sudah sampai.?" Ucap Asistennya sedikit melihat ke belakang untuk berbicara pada Tuan dan wanita yang ada di sampingnya.
"Nona.?" ujarnya lagi karena tidak mendapat jawaban dari wanita itu.
Eva tersentak kecil, karena dia begitu merenungi nasibnya hingga tidak sadar akan mobil yang sudah berhenti di sebrang kostnya.
"Ah iya, maaf." Ucap Eva, dengan menundukkan kepalanya untuk mengusap air mata.
"Kita sudah sampai Nona.?"
"Oh iya.!" jawabnya dan beralih menatap pria dingin itu.
"Terima kasih sudah menolong dan mengantar kan saya pulang, semoga kebaikan Tuan di balas oleh Tuhan." ujar Eva tulus dan mendoakan pria yang ada di sampingnya.
pria itu hanya menatapnya sekilas dan mengangguk. Eva pun keluar dari mobil pria itu dan berjalan menyabrang untuk masuk ke dalam kost.
Dia termenung dan menangis.!" gumam pria itu menatap tubuh Eva hingga tidak terlihat dan mulai memerintahkan asistennya untuk menjalankan mobilnya.
Ya, diam diam pria dingin itu mencuri pandang karena melihat eva yang selalu menatap luar jendela dan sekali kali mengusap mata yang akan menjatuhkan air matanya di pipi.
Melihat Eva yang menangis mengingatkannya akan Wanita yang telah menghancurkan hatinya, membuat dia tidak pernah lagi percaya pada wanita dan menutup hatinya untuk wanita.
Di mana empat tahun yang lalu, di saat dia akan menikah dia menelan kenyataan yang pahit. kenyataan bahwa calon istrinya telah berselingkuh, di saat calon istrinya mengakuinya sebelum dia meninggal akibat kecelakaan.
Dan yang lebih parah calon istrinya itu telah mengandung enam minggu, bahkan dia tidak pernah meniduri calon istrinya itu, dan mengapa dia bisa hamil. pikirnya.!"
Di situlah dia mulai menutup hati pada wanita, merubahnya menjadi pria yang dingin pria yang angkuh dan arogan, serta pria yang tidak percaya lagi dengan cinta. dan sikap arogannya itu membuatnya menjadi orang yang berjaya dan di takuti para pebisnis karena pria itu tidak segan segan untuk menghancurkan bisnis orang jika mengusik tentang hidupnya dan tetang bisnisnya.
__ADS_1
Dia yang waktu itu ingin berkendara sendiri ingin menikmati hujan di malam hari, dan yang hampir saja membuat dia menabrak wanita yang menyebrang tanpa melihat keadaan. di situlah dia melihat Eva tak sadarkan diri dan membawanya ke rumah dia.
Entah kenapa membuat dirinya sedikit berbeda saat melihatnya. seperti ada ketertarikan di hati dia saat melihat Eva.
Tapi sedetik kemudian dia menetipis pikiran itu. tidak ingin berangan-angan tentang wanita apa lagi yang tidak dia kenal, karena dia pikir semua wanita sama saja suka berhianat dalam menjalin hubungan yang serius.
****
Eva yang sudah berada di dalam kamar, ia pun segera menghempaskan tubuhnya di ranjang. menatap atap atas, serta menerawang di masa indahnya bersama Revan.
mencoba menyalakan ponselnya untuk menelpon sahabatnya itu. saat ponsel menyala, begitu banyak sekali pesan dari Revan serta panggilan tak terjawab dan ada juga pesan dari Ana sahabatnya.
rasanya ia ingin sekali membuka pesan dari Revan tapi dia takut akan kenyataan yang pahit. tapi sedetik kemudian ponselnya berdering menandakan panggilan masuk dengan nama Revan.
Sungguh dia tidak ingin menjawabnya, tapi dia rindu akan suara Revan, dia rindu akan kekasihnya itu. dan pada akhirnya pun dia menjawab panggilan itu.
"Yank.?" suara lirih dari sebrang telpon, entah kenapa suara itu membuat Eva menangis.
"Yank, bisa kita bertemu ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. semua ini hanya kesalah pahaman yank.?" ujarnya lagi, cukup lama eva terdiam hingga akhirnya dia menjawabnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan van, semuanya sudah jelas.!" jawabnya lirih.
"Ini semua salah paham yank.? kita bicarakan baik baik ya." pintanya dari sebrang telpon " kamu sekarang ada di mana.?" tanyanya.
"Jangan kemana mana, aku akan ke sana.!" ucap Revan dan mematikan panggilan itu untuk segera ke kost Eva.
Entah Eva harus merasa senang atau harus merasa sedih karena Revan akan datang menemuinya.
Eva pun segera bangkit dari ranjang untuk membasuh muka, serta berganti pakaian yang di berikan oleh pria itu.
****
cukup lama menunggu hingga akhirnya Revan menelpon, memberitaunya bahwa dia sudah berada di depan kost. Eva pun turun dan menemui kekasihnya itu dengan perasaan yang tidak menentu.
saat berada di bawah, dia melihat Revan yang menunggunya di depan mobil dengan pakaian kerjanya.
Revan yang melihat Eva menghampirinya seketika itu tersenyum dan merasa bersalah ketika melihat mata kekasihnya yang begitu sembab.
"Yank.?" sapa Revan, yang berada di hadapan eva.
__ADS_1
"Kamu mau ingin membicarakan apa.?" tanya Eva lirih.
"Kita bicara di dalam mobil ya.?" pintanya, Eva pun hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil Revan.
Di dalam mobil Eva hanya menunduk, entah kenapa air mata Eva mulai terjatuh sendiri saat berada di hadapan Revan. hingga akhirnya dia mendapatkan pelukan dari kekasihnya.
Menangis dalam dekapan kekasihnya, menuangkan kekesalannya di dalam pelukan kekasinya hingga dia merasa sedikit tenang.
"Jangan menangis, ini hanya salah paham. aku juga tidak tau, jika orang tuaku menjodohkan aku dengan wanita itu. tapi semua sudah berakhir yank.!" ucapnya, membuat Eva melepaskan pelukan Revan dan menatapnya.
"Mak-sud kamu ap-" belum sempat berbicara telunjuk tangan Revan menahan bibirnya.
"Sebelum aku tukar cincin dengan wanita itu, aku meminta orang tuaku untuk turun dari panggung dan membicarakan semuanya dengan kepala dingin." ucapnya dengan menarik nafas.
"Aku bilang pada orang tuaku, jika aku tidak bisa menerima perjodohan ini. aku bilang pada papa dan mama jika aku sudah mempunyai kekasih. dan dia menyuruh aku untuk membawa kamu ke hadapannya.?" imbuhnya dengan mengusap pipi Eva.
Eva sempat tersentak kecil karena ucapan kekasihnya yang menolak perjodohan dan orang tuanya pun menyuruhnya untuk membawa dia ke hadapannya.
"Kamu mau kan bertemu dengan orang tua ku Yank.?" ucap Revan.
"Aku takut Van.!" lirih Eva. Revan menggenggam tangan Eva dengan lembut dan menciumnya.
"Jangan takut, papa dan mama ku orang yang baik yank. mau ya bertemu dengan orang tua ku." pinta Revan sekali lagi.
Seakan Eva percaya akan perkataan Revan ia pun mengangguk dan setuju untuk bertemu dengan orang tua Revan. Revan pun tersenyum senang dan memeluk kekasihnya itu kembali.
"I love u." bisik Revan di telinga Eva dan mencium puncak kepala Eva.
.
.
.
.
.🌲🌲🌲🌲
hayooo..!!
__ADS_1
kira kira di restuin gak ya.???
Nasib pria dingin sama seperti Eva ya.😀