Eva My Life Line

Eva My Life Line
suami yang penyayang


__ADS_3

Jangan pernah takut karena aku akan selalu ada untuk melindungi mu. tidak peduli siapa pun itu yang akan menyakiti mu dan akan aku lawan dengan tangan ku sendiri.


.


.


.


decitan mobil tepat berhenti di halaman rumah megah saat pintu gerbang terbuka lebar.


tanpa sopir dan tanpa sekertaris dia berkendara sendiri dengan laju cepat agar ia bisa bertemu dengan sang istri.


membuka pintu mobil berjalan dengan langkah lebar untuk segera masuk ke dalam rumah tidak mempedulikan pembantu dan penjaga yang menunduk kan kepala serta menatapnya dengan rasa takut.


" Di mana istri ku bik." tanya Arzan.


" Nona ada di kamar Tuan." jawab bik santi.


menaiki anak tangga dengan langkah lebar untuk segera bertemu istrinya yang sedang berada di kamar.


Membuka pintu dengan sekali gerakan cepat hingga membuat orang yang berada di dalam tersentak kecil saat pintu terbuka dengan memperlihatkan suaminya yang begitu khawatir dengannya.


" Sayang.?" sapa Arzan dengan berjalan menuju sofa tunggal yang Eva tempati di depan jendela memperlihatkan pemandangan di siang hari.


berjongkok tepat di depan Eva dengan mata yang begitu sembab. Mendapati suaminya ada di depannya dengan langsung ia pun memeluk tubuh Arzan.


Mengusap punggung istrinya dengan lembut, menenangkan istrinya dalam pelukannya.


" Jangan menangis, aku ada di sini." ucap Arzan dengan melepaskan pelukan istrinya.


Menatap mata istrinya yang sembab, membuat hatinya merasa sakit dan beralih menatap tangan sang istri yang tergores akibat cakaran oleh tangan Tia dan itu sukses membuat dirinya marah.


Berjalan ke arah laci, mengambil kotak obat mencari salep untuk mengobati luka istrinya.


" Sakit?" tanya Arzan.


" Tidak." jawabnya, sakit di bagian tubuh tidak terasa karena terhalang oleh perkataan Tia yang selalu menghantuinya.


Mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya seperti anak kecil Eva menangis di pangkuan suaminya. mengusap lembut mata istrinya yang sembab dan mengecup pipinya.


" kenapa.?" tanya Arzan dengan suara begitu lembut di telinga Eva.


" Dia menyalahkan ku atas kematian anaknya serta kepergian suaminya." jawab Eva.

__ADS_1


" Apa kamu melakukannya.?" tanya Arzan hingga membuat Eva menatapnya dengan tajam.


" Kamu menuduh ku.!" ucap Eva dengan nada sedikit emosi, Menahan senyum saat Eva menatapnya dengan mata yang melotot.


" Dia yang merebut suami orang, dia yang menghancurkan rumah tangga sahabatnya, dia yang terkena karma dan sekarang menuduh ku." gerutu Eva dengan jengkel tidak memperdulikan Arzan yang sedang menatapnya.


" Maaf." kata Eva dengan menundukkan kepala karena sudah berbicara tentang masa lalunya dan mungkin menyakiti hati suaminya.


" Tidak apa-apa itu hanya masa lalu" kata Arzan dengan tersenyum dan mengusap lembut pipi Eva "Terus kenapa kamu tidak melawannya Ay?" tanya Arzan


" Aku sedikit syock dengan tuduhannya dan aku tidak tega untuk melawannya saat melihat tubuhnm dia yang kurus dan pucat.?" jawab Eva dengan jujur.


" Setidaknya kamu melawannya meskipun kamu tidak bersalah" tutur Arzan dengan suara yang halus. " Walaupun dia tidak berdaya jangan pernah mengasihinya karena mungkin saja dia akan berbuat hal yang tidak terduga, seperti ini contohnya." dengan menunjukkan tangan Eva yang tergores " dia melukai kamu kan Ay." ujar Arzan dan di anggukkan oleh Eva.


" Aku sangat khawatir saat sopir tadi memberitahukan ku kalau kamu di serang dan terluka seperti ini." kata Arzan dengan mencium luka Eva, dan itu sukses membuat hati eva terenyuh akan perlakuan suaminya.


" Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku dan juga sudah melindungi ku." ucap tulus Eva.


" Sudah kewajiban ku untuk melindungi istri ku dan kamu akan tetap menjadi prioritas pertama ku saat ini." jawab Arzan


" Aku janji akan menjaga diri ku Ay dan tidak akan membuat mu khawatir lagi." kata Eva dengan tersenyum dan mengecup pipi suaminya.


Melihat Eva yang sudah tersenyum kembali dan tidak lagi memikirkan perkataan mantan sahabatnya itu membuat Arzan sedikit lega.


" Mau di lanjut lagi gak sayang?" bisik Arzan du telinga Eva.


Memukul kecil bidang dada sang suami dan mengulum bibirnya menahan senyum saat suaminya menggodanya, melihat rona merah di pipi istrinya membuat Arzan tertawa.


" Ini masih siang lho Ay?" kata Eva


" Terus? kan sudah halal Ay?" goda Arzan dengan menaikkan alisnya


" halal sih halal Ay, tapi gak harus siang juga?" cibik Eva.


" Sudah sana kerja" kata Eva, membuat Arzan mengerutkan keningnya


" Kamu mengusir ku Ay.!" kata Arzan


" Iya, kalau kalau kamu di kamar terus bisa bisa sampai pagi aku enggak keluar kamar." ucapnya Eva dan membuat Arzan tertawa.


Tapi memang benar jika Arzan sudah berada di kamar Eva tidak akan bisa keluar lagi dan tidak bisa beraktivitas di luar kamar hingga pagi.


Karena ulah Arzan yang selalu minta jatah lebih hingga membuat tubuh Eva remuk, tapi ia juga menikmati sentuhan suaminya, sentuhan yang sangat memabukkan bagi mereka berdua.

__ADS_1


" Mau kemana Ay?" tanya Arzan pada Eva yang mulai berdiri dari pangkuannya.


" Mau ke kamar mandi." jawab Eva


"Ikut!" pinta Arzan, dan langsung mendapatkan pelototan mata dari istrinya.


Berjalan dengan cepat tidak mempedulikan suaminya yang sedang menggodanya, masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu agar Arzan tidak bisa masuk ke kamar mandi.


Merasa senang menggoda istrinya hingga menatapnya sampai pintu kamar mandi tertutup.


Mengambil ponsel yang ada di saku dan segera menghubungi asistennya.


" Aku ingin pengawal untuk istri ku dan jangan sampai istri ku terluka lagi." kata Arzan


" Baik pak." ucapnya dari sebrang telpon dan Arzan mematikan sambungannya.


Tidak akan aku biarkan siapa pun melukai istri ku meskipun itu seorang wanita.!" gumam Arzan dengan rahang yang mengeras serta tangan yang mengepal saat mengingat luka di tangan istrinya.


Berjalan menuju pintu kamar mandi, mencoba membuka pintu tapi terkunci hingga membuatnya tidak kehabisan akal.


" Ay? aku lagi kebelit nich!" teriak Arzan dari balik pintu


Eva yang sedang berendam di bhatup menghembuskan nafas berat karena Arzan mengganggunya.


" Ay.! sudah enggak kuat.!" teriak Arzan lagi dan mau tidak mau Eva pun keluar dari bathup membilas tubuhnya dengan air shower dan melilitkan handuk di tubuhnya.


membuka pintu dengan wajah dongkol.


" Kamu ini-." belum sempat mencaci maki suaminya tubuh Eva sudah di gendong oleh Arzan.


" Ay.!! " pekik Eva dengan terkejut dan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


" Minta jatah Ay." ujar Arzan dengan tersenyum, menutup pintu kamar mandi melakukan aktivitas mereka di dalam sana dengan dinginnya air yang merendam tubuh mereka.


.


.


.


.🐨🐨🐨


Maaf atas keterlambatannya.🙏🙏

__ADS_1


yuk vote, like dan komen 😊😊


__ADS_2