
Inilah yang aku takutkan, saat orang tua mu tidak merestui hubungan kita. Kau memintaku bertahan, sedangkan aku merasa takut untuk menjalin hubungan ini. Bertahan atau mengakhiri, pilihan yang sulit untuk kita tentukan.
.
.
.
Masih teringat jelas perkataan Revan saat ia memintanya untuk tetap berada di sisinya meskipun orang tuanya tidak merestui hubungan mereka.
Sungguh bukan kemauan Eva untuk menjadi seorang janda, hanya takdirnya saja yang kurang beruntung mempunyai suami tukang selingkuh.
Memperjuangkann hubungan ini apa dia sanggup, apa dia bisa bertahan, apa dia bisa melewati semua caci maki dari orang tua Revan, dari semua orang.
Rasanya itu tidak mungkin Eva bisa bertahan, tapi karena permintaan Revan dan melihat tulusnya cinta Revan membuat dia yakin akan sanggup memperjuangkan hubungannya bersama Revan.
Mendesah cukup keras karna terlalu memikirkan hubungannya dengan Revan hingga dia melupakan untuk mencari pekerjaan.
bangkit dari tidurnya dan beranjak untuk ke kamar mandi, membersihkan diri untuk segera pergi mencari pekerjaan. Tak ingin berlama lama untuk menjadi seorang pengangguran, agar dia tidak terlalu stres untuk berada di kost terus.
Revan menyuruh Eva untuk kembali ke pabrik, tapi Eva menolak karena dia ingin mencari pekerjaan baru agar dia tidak mendengar bahan gosipan lagi saat semua orang tau jika ia tidak di restui oleh orang tua Revan.
Selesai dengan mandi dan berpakaian rapi kini ia mencoba terlebih dahulu mencari pekerjaan lewat internet.
menemukan beberapa lowongan kerja lewat internet dan mencatat alamatnya. hingga akhirnya dia bangkit dari duduknya dan membereskan surat lamaran pekerjaan serta menaruhnya di tas ranselnya.
Dua tujuan yang dia pilih untuk melamar pekerjaan, satu di restoran dan satu di hotel.
Pertama dia menaruh surat lamaran itu di restoran terkenal, dan ke dua dia mencoba mencari alamat hotel yang sedang membutuh kan lowongan.
Saat memarkirkan motornya ia sedikit terperangah menatap hotel yang menjulang tinggi dengan gaya mewah dan elegan seperti hotel bintang lima yang berkelas, serta banyak pengunjung yang berlalu lalang. Menatap sekilas nama tulisan hotel.
Ravindra hotel! gumam Eva saat membaca tulisan itu, seperti mengenal nama itu tapi entah itu siapa, pikir Eva.
Iya pun mencoba masuk ke dalam hotel dan menemui resepsionis untuk menaruh lamaran di sana. Cukup banyak Eva melihat tumpukan amplop coklat yang sepertinya surat lamaran kerja, mungkin mereka minat sekali untuk bisa masuk kerja di hotel itu, hingga membuat Eva tidak yakin bisa di terima bekerja di hotel ini.
selesai dengan menaruh lamaran, ia pun berjalan keluar dari hotel itu. tanpa ia sadari saat beradi di lobby hotel seorang pria yang sedang berada di mobil melihat Eva keluar dari hotelnya dan melihat penampilan eva yang seperti sedang mencari pekerjaan.
Pria itu turun dari mobil dan menatap punggung Eva dari jauh hingga tak terlihat.
Pria itu menyuruh asistennya untuk mengambil surat lamaran yang berada di resepsionis dan menyuruhnya untuk membawa ke ruangannya.
Seperti tak ada pekerjaan yang penting saja!" gumam asistennya saat membawa surat lamaran yang begitu banyaknya di tangan dia.
" Taruh saja di situ." ucap Arzan saat berada di ruangannya dan menyuruh aristennya untuk menaruh lamaran di meja sofa.
__ADS_1
setelah asistennya pergi undur diri, kini Arzan mulai membuka amplop satu persatu mencari surat lamaran Eva. begitu banyak lamaran yang menumpuk hingga begitu banyak pula berkas yang berceceran di lantai, sedikit frustasi saat tidak mendapatkan lamaran Eva hingga mencoba amplop yang terakhir hingga dia tersenyum saat sudah membukanya dan menatap foto Eva.
Eva sekar sari! gumam Arzan saat menatap foto serta biodata Eva dengan seulas senyum.
Arzan pun segera menghubungi asistennya dan menyuruhnya untuk ke ruangannya.
" Permisi Tuan.?" ucap asistennya.
" Aku ingin dia bekerja di sini." ucapnya dan menyerahkan amplop itu pada asistennya.
" Tempatkan dia service room." ucapnya lagi dan di anggukkan oleh asistennya, hingga asistennya pergi dari ruangan Tuannya itu.
Kita akan bertemu lagi.! gumamnya saat menatap foto Eva yang di ambil dari berkas lamaran kerja Eva.
****
Eva terasa letih saat sudah berada di kost, mencari pekerjaan tidak mudah sekali panas terik matahari menyengat tubuhnya meskipun sudah memakai jaket.
merebahkan tubuhnya dan memejamkan sebentar matanya sebelum suara ponsel Eva berbunyi.
" Sudah makan yank." pesan Revan membuat eva tersenyum.
Ya Revan meminta Eva untuk membuka nomernya yang di blokir oleh Eva saat bertemu dengannya, agar dia bisa berkomunikasi lagi dengan kekasihnya.
" belum, aku baru pulang cari kerjaan kamu sudah makan." jawab eva
" Kamu enggak sibuk."
" Sekarangkan jam istirahat yank, aku berangkat yank." jawabnya.
" Iya hati hati." jawab pesan Eva dengan tersenyum melihat pesan Revan.
ia pun segera membersihkan diri dan bersiap siap untuk menunggu kekasihnya.
tidak terlalu lama ia menunggu hingga mobil Revan sudah tiba di depan kost, Eva pun segera masuk ke dalam mobil Revan.
Revan pun menyambutnya dengan senyum.
" Mau makan apa yank.?" tanya Revan.
" Aku terserah kamu saja, kan kamu bosnya." jawab eva dengan tawa, membuat Revan ikut tertawa dan melajukan mobilnya untuk mencari makan di restoran terdekat.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di Restoran yang sedikit ramai akan pengunjung.
Duduk berdua dengan Revan dan memesan makanan.
__ADS_1
" Capek yank." khawatir Revan saat melihat Eva sedikit letih mencari pekerjaan.
" Sedikit." dengan tersenyum
" Kalau enggak dapat kerjaan, kembali ya ke pabrik." ucap Revan.
" Kamu berharap banget sih aku gak dapat kerjaan.!" seru Eva dengan mengerucutkan bibirnya, membuat Revan tertawa.
" Malah aku berharap cepat nikah dengan mu yank biar kamu enggak kerja lagi, cukup di rumah dan melayani aku saja." jawabnya dengan mengerlingkan mata membuat Eva merasa geli dan tertawa dengan tingkah Revan.
saat mereka asyik mengobrol, seorang ibu datang bersama perempuan cantik menghampiri Revan dan Eva.
" Revan.!" seru Nyonya Vani membuat sepasang kekasih itu menatapnya.
" Mama." ucap Revan dengan sedikit terkejut melihat mamanya berada di restoran ini.
" Jadi kamu membohongi mama dan masih berhubungan dengan wanita itu." ucap Nyonya Vani dengan menatap tajam Eva yang berada di samping Revan, entah kenapa Revan hanya diam dan tak menjawab hingga membuat Eva menundukkan kepala.
" Ayo kita pulang." ajak Nyonya vani pada putranya.
" Mama pulang saja dulu, aku akan menyusul." jawabnya
" Pulang atau mama akan membuat keributan di sini." ancam nyonya Vani
" Pulang lah, aku tidak papa." jawab Eva dengan tersenyum pada Revan
"Maaf." ucap Revan pada kekasihnya dan di anggukkan oleh Eva.
" Seharusnya kamu ngaca jika kamu tidak selevel dengan keluarga Ravan, wanita murahan.!" ejek bella dan pergi mengikuti Revan dan Nyonya Vani
Revan pun pergi bersama mamanya meninggalkan dia sendiri di restoran dengan mata yang berkaca kaca, menahan rasa sakit yang teramat dalam saat hinaan terucap dari bibir bella.
.
.
.
🐨🐨🐨
Babang kadal kurang tegas gak sih, sebel deh kalau begini.😞
nempatin janji nich.
Terima kasih Vote, like dan komen kalian. semoga kalian banyak rejekinya.
__ADS_1
Amin.😇