
Kau menyuruh ku untuk menjaga perasaan mu, tapi kau tak pernah tau tentang perasaanku. Apa itu adil!
.
.
.
.
" aku di depan kost kamu, keluar lah.!" chat dari Revan saat Eva baru saja selesai mandi dan mendengar suara notif chat.
Mengerutkan kening saat Revan mengirim pesan jika dia ada di depan kostnya. tidak mau kekasihnya itu menunggu lama Eva pun keluar dari kamar kost untuk menemui Revan yang berada di bawah.
melihat mobil Revan yang berada di sebelah kost ia pun segera menghampirinya dan mengetuk kaca terlebih dahulu sebelum dia masuk ke dalam mobil kekasihnya itu.
"Ada apa?" tanya Eva yang sudah berada di dalam mobil Revan.
"Kamu tadi habis dari mana.?" tanya balik Revan, hingga membuat alis eva berkerut
"Dari restoran yang kamu tinggal sendirian di sana dan habis dari taman.!" jawab jujur Eva.
" Aku tidak meninggalkan kamu, tapi kamu yang menyuruh ku untuk meninggalkan mu.!" elak Revan dengan sedikit ketus
"Jika aku tidak menyuruh mu pergi, mama mu akan membuat keributan dan ujung ujungnya kamu akan pergi juga kan.!" jawab Eva tidak mau kalah.
" Kamu kenapa bawa bawa mama aku." ucap Revan dengan nada sedikit emosi, Eva yang sedikit di bentak oleh Revan membuatnya tersentak kecil karna ini pertama kali Revan marah pada Eva.
" Emang begitu kan kenyataannya.?" jawab Eva.
" Dia mama ku Va bukan orang lain, jangan bawa mama ku dalam hubungan kita." kata Revan,
" Oke aku minta maaf! ucap Eva untuk mangakhiri perdebatannya. " kamu ke sini mau apa!" ujarnya lagi.
Revan pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Eva bersama Arzan saat di taman.
Eva yang melihat fotonya dengan Arzan di taman membuatnya terkejut dan beralih menatap Revan.
" Kamu selingkuh.!" ucap Revan to the poin.
" Kamu mbuntutin aku?" tanya Eva.
__ADS_1
" Jawab dulu pertanyaan ku, kamu selingkuh dari aku.!" ucap Revan sekali lagi, membuat Eva tersenyum.
" Sudah aku bilang dari dulu kan jika aku bukan orang yang suka selingkuh."
" Terus di foto itu apa Va.!"
" Kamu mau tau dia siapa!" kata Eva dengan menantang " Dia yang selalu melihat aku menangis, di hina, di permalukan dan dia yang menolong ku serta membuat ku bisa tertawa kembali.!" serunya dengan mata yang berkaca kaca dan keluar dari mobil Revan tanpa berpamitan.
Revan yang melihat Eva keluar pun dengan cepat dia mengikutinya dan menahan tangan Eva sebelum masuk ke dalam kost.
" Apa.!" bentak Eva. " aku capek Van di hina oleh mama kamu, di hina oleh bella di permalukan di muka umum menjadi tontonan orang, dan aku sudah lelah harus bertahan seperti ini terus.!" Kata Eva yang sudah meledak kan emosi hatinya yang terpendam lama.
Eva pun tanpa sadar mengeluarkan air mata karena begitu lelahnya dan begitu emosi saat dia di pojokkan oleh kekasihnya.
Revan yang akan memeluk tubuh Eva itu mendapat penolakan dari kekasihnya yang mundur secara perlahan serta menatapnya dengan rasa marah.
" Maafkan aku yank." ujar Revan lirih.
" Aku ingin sendiri, tolong pulang lah." jawab Eva dan pergi meninggalkan Revan yang menatapnya dengan rasa bersalah.
rasa lelah dan kecewa dengan sikap Revan yang begitu membela ibunya tanpa memikirkan perasaannya itu membuatnya sedikit mengerti jika Eva tidak ada artinya di bandingkan dengan ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya.
Revan yang melihat punggung Eva hingga tak terlihat membuatnya bersalah akan apa yang telah dia ucapkan, sungguh ini lah yang Revan takutkan karena sudah menyakiti dua wanita yang dia cintai dan sayangi, dan dia masih bingung akan apa yang harus ia lakukan sekarang.
aku kecewa Van dengan mu! " gumam Eva saat menatap mobil revan dari atas balkos dan sudah pergi dari kostnya.
****
Pagi hari yang begitu cerah membuat siapa saja begitu semangat untuk mulai pekerjaannya.
Eva yang tak ingin terus menerus memikirkan hubungannya denga Revan yang sedang sedikit tidak baik itu memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan barunya yang sebagai pegawai hotel tempatnya melamar pekerjaan.
Pagi ini Eva yang sudah berada di hotel mulai menjalani pekerjaannya di room service waiter sebagai mengantar makanan di kamar tamu.
Awal yang sedikit susah karna ini pertama kali Eva bekerja sebagai waiter, tapi beruntungnya dia mempunyai patner kerja yang mau membantunya di awal pekerjaan barunya.
Eva yang mendapatkan perintah untuk membawa makanannya di kamar nomer satu lantai dua belas bersifat presidental suite khusus untuk pemilik hotel yang sedang beristirahat atau menginap di hotelnya.
Eva yang sudah berada di lantai dua belas dan berjalan menelusuri lorong hotel dengan alas karpet merah serta gaya nuansa yang klasik dan hanya terdapat tiga ruangan.
Ruang kerja presiden hotel, ruang asisten, dan ruang kamar khusus pemilik hotel. Sungguh lantai dua belas itu sangat luas seperti apartemen dan sangat sepi tak ada aktivitas apapun seperti di lantai bawah.
__ADS_1
Eva yang sudah berada di depan ruangan Asisten itu pun mulai mengetuk pintu meminta izin sebelum ke kamar presiden.
sedikit mengerutkan kening saat melihat orang yang ada di hadapannya itu seperti pernah melihatnya, tapi entah di mana, pikirnya.
Asisten itu mengantar Eva hingga ke kamar Tuannya dan menyuruhnya untuk masuk ke kamar Tuannya saat terdengar jawaban dari dalam kamar. Meninggalkan Eva sendiri dan menutup pintu kembali.
sedikit takut saat Eva masuk ke dalam kamar sendiri dengan membawa trolli makanan.
" Permisi Tuan, makan siang anda sudah datang." ucap sopan Eva sedikit membungkung kan badan saat melihat tubuh kekar pria itu yang menghadap jendela kamar untuk melihat pemandangan luar.
" Terima kasih." jawab pria itu dan berbalik menghadap eva yang masih menundukkan kepala.
"Wanita cengeng.!" sapa pria itu hingga membuat Eva mendongakkan kepala serta menatapnya.
" Arzan.!" seru eva yang terkejut saat melihat pria dingin yang ada di hadapannya sekarang sedang tersenyum menatapnya.
" Kamu! ucapnya dan segera menutup mulutnya yang mulai tersadar. " Maaf Tuan.!" tambahnya dan sedikit membungkuk.
" Jangan panggil aku Tuan, aku bukan Tuan kamu va." ucap Arzan.
" Aku bekerja di tempat kamu dan kamu adalah bos ku." jawab Eva.
" Jika kita hanya berdua kamu bisa memanggilku nama kan dan jangan bersikap seformal ini dengan ku." katanya Arzan,
" Tap-,"
" Jangan membantah." saut Arzan, hingga membuat Eva tersenyum kaku dan mengangguk.
" Kamu sudah makan." tanya Arzan
" Belum."
" Kalau begitu temani aku makan." ucapnya dan berjalan menuju tempat meja makan kecil, sedikit membulatkan mata saat Eva mendengar ajakan Arzan untuk makan bersama dengannya.
.
.
.
.🍀🍀🍀
__ADS_1
maaf atas keterlambatan updatenya.🙏