Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 99


__ADS_3

"Dokter... Dokter..." Han memasuki rumah sakit laki laki itu masih dengan kuat mengendong tubuh Ratih.


Suster yang melihat itupun segera meminta bantuan. Ratih langsung di larikan ruang UGD sementara Han menunggu di luar semua pakaiannya sudah sangat basah dan berlumuran dengan darah.


Ceklek... suara pintu ruangan UGD terbuka seorang dokter berpenampilan serba putih keluar dari ruangan itu.


"Apa anda suami dari wanita yang berada di dalam...??" tanya dokter itu menatap ke arah Kasim Han.


"Pasien kehilangan banyak sekali darah kami membutuhkan 4 kantong darah dari golongan AB, sementara di rumah sakit ini hanya tersedia dua kantong saja kami membutuhkan dua kantong lagi." sambung dokter itu.


"Saya Dok, golongan darah saya AB. ambil saja darah saya." Han menawarkan diri.


"Baiklah ikut saya." ujar dokter itu lalu memasuki ruangan yang bersebelahan dengan ruang UGD.


Tiga puluh menit telah berlalu tapi masih belum ada tanda-tanda kabar dengan jelas dari dokter. hal itu terus saja membuat Han mondar-mandir di depan pintu UGD, ya karena setelah Han mendonorkan darahnya dan meminum pil penambah darah Han bergegas ke ruang UGD. laki laki itu bahkan tidak menghiraukan dirinya sendiri yang sudah sangat basah kuyup.


"Han di mana Ratih, apa dia baik-baik saja...??" tanya Ibu Susi kini sudah datang berjalan mendekati Kasim Han.


"Nyonya...."


"Han aku tanya di mana Ratih. apa dia baik-baik saja hahhh..." air mata wanita tua itu tidak bisa di bendung lagi.


"Nyonya muda kehilangan banyak sekali darah, dan di rumah sakit ini hanya tersedia dua kantong saja"--- tubuh Han tiba-tiba ambruk ia terjatuh ke lantai.


"Han... bagun, astaga Tante." guma Mawar.


"Badan Han sangat panas Tante. sepertinya dia demam tinggi." Mawar menepuk pelan pipi Han mencoba membangunkan laki laki itu.


"Kenapa tidak ada seorangpun suster ada di sini. di mana mereka semua. suster... suster." teriak Ibu Susi merasa sangat geram. akhirnya salah satu suster keluar dari ruangan UGD Karena mendengar suara ibu Susi begitu lantang.


"Maaf Ibu anda tidak boleh berteriak di sini ini adalah rumah sakit kalau anda punya masalah silahkan selesai di luar rumah sakit." tegur suster itu.


Plakkk... Sebuah tamparan berhasil di layangkan di wajah suster itu.

__ADS_1


"Dimana suster yang lain kenapa tidak ada satu orang pun di sini...??" Ibu Susi terlihat sangat marah.


"Semua suster masih berada di kantin." Jawab suster itu kini dirinya tidak berani lagi menatap ke arah Ibu Susi.


"Masih di kantin, bukankah ini sudah lewat jam makan siang. pergi dan panggil mereka semua ke ruangan ku sekarang." perintah Ibu Susi.


"Tante badan Han semakin panas Tante." ucap Mawar sudah sangat panik tampa pikir panjang lagi Mawar langsung memeluk tubuh Kasim Han dengan erat, mencoba menurunkan panas.


"Sebentar Tante akan mencari kursi roda." Ibu Susi bergegas melangkah.


******


"Kevin kenapa lama sekali." gerutu Ricko sangat kesal ia tidak bisa duduk dengan tenang setelah mendapat kabar dari Tias mengenai Ratih.


"Bos sepertinya kita akan sangat terlambat bos. jalan sangat macet bos." ucap Kevin juga sudah panik.


"Aaagggrrr..." Ricko memukul kaca mobil. laki laki itu keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat kasar. di bawah rintikan hujan Ricko berlari sekuat tenaga. ia tidak menghiraukan tangannya sudah banyak mengalir darah.


****


"Nyonya anda di sini." guma dokter itu tampang terkejut.


"Aku tanya bagaimana ke adaan putri dan cucuku...??" tanya Ibu Susi lagi kali ini dengan suara meninggi.


"K-Keadaan nona sangat tidak baik nyonya." jawab dokter itu dengan bibir gemetar.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada putri dan cucuku aku pastikan kalia semua akan menanggung akibatnya." sorot mata Ibu Susi menusuk ke arah dokter itu.


Tampa menunggu lebih lama dokter itu bergegas berlari menekankan tombol merah yang berada di dinding ruang UGD. pertanda telah terjadi sesuatu yang sangat gawat. wajah dan tubuh dokter itu bergetar dengan hebat ia tidak menyangka kalau pasien yang berada di dalam adalah putri dari keluarga Adiningrat pemilik rumah sakit tempat ia bekerja sekarang.


Tak berselang lama semua dokter berpangkat tinggi pun berlari kocar-kacir ke ruangan UGD. tak lupa mereka semua memberikan penghormatan mereka kepada Ibu Susi sesaat sebelum mereka memasuki ruangan UGD.


"Nyonya saya sudah mengumpulkan semua suster yang berada di kantin tadi nyonya." ucap salah satu suster menghampiri Ibu Susi.

__ADS_1


"Pecat mereka semua dan jangan pernah kalian membiarkan mereka memasuki rumah sakit ini lagi." tegas Ibu Susi tampa pikir panjang.


"B-Baik nyonya." suster itu langsung pergi dengan wajah pucat pasi.


*****


"Ibu... Ibu..." teriak Ricko seraya berlari menghampiri Ibu Susi.


"Bagaimana keadaan Ratih Bu, bagaimana ke adaan istriku Bu...??" tanya Ricko sudah sangat tidak sabar.


"Kamu yang tenang sayang Ibu yakin istrimu pasti baik-baik saja."


"Ibu belum mendapatkan kabar dari dokter...??"


"Belum sayang dokter belum keluar dari tadi."


"Uueeekkk... uueeekkk... uueeekkk..." suara tangisan bayi begitu keras.


"Hahhh... anakku." Ricko langsung memeluk Ibunya. sebuah air mata mengalir begitu saja di pipinya itu.


"Selamat sayang kamu sudah menjadi seorang ayah sekarang." Ibu Susi menepuk pelan punggung Ricko. air mata bahagia pun keluar dari wajah Ibu Susi.


Sesaat kemudian pintu ruangan UGD terbuka, nampak dua dokter keluar menghampiri Ricko dengan wajah tidak bisa di artikan.


"T-Tuan muda." bibir dokter itu bergetar hebat.


"Bagaimana keadaan istriku?? dia baik-baik saja bukan??" pertanyaan itu sangat cepat keluar dari mulut Ricko.


"M-Maafkan kami tuan muda, K-Kami tidak bisa menyelamatkan nyonya." ----


Bersambung....


Tenang up selanjutnya akan segera tiba. jangan lupa vote ya

__ADS_1


__ADS_2