
Siang itu cuaca sangatlah mendung bahkan awan hitam pun memenuhi langit yang tadinya cerah. suara rintikan hujan dan petir yang menyambar pun terdengar sayup-sayup di telinga Ratih, ya wanita hamil itu kini sedang tidur bersantai di balkon kamar merebahkan tubuhnya di sana. akhir-akhir ini bumil itu sangat mudah kelelahan mungkin karena perutnya sudah membesar pikir Ratih.
Perlahan-lahan Ratih membukakan matanya karena rintikan air hujan berhasil mengenai tubuhnya itu. Ratih terperanjat berusaha menghindar dari rintikan air hujan namun karena lantai sudah licin di penuhi rintikan air hujan hingga membuat kaki Ratih terpeleset, bumil itu langsung tergeletak di lantai.
"Aaauuu..." pekik Ratih terasah perutnya sangat sakit.
"Mawar... Mawar... Mawar... aaauuu..." teriak bumil benar-benar kesakitan sekarang.
"Kakak..." Mawar membulatkan matanya karena terkejut, wanita itu langsung berlari menghampiri Ratih dan lagi lagi wanita itu membulatkan penuh matanya bagaimana tidak bercak-bercak darah nampak terlihat jelas di paha Ratih.
"Astaga kakak pendarahan." guma Mawar mulai panik.
"Tante... Tante..." kini Mawar yang berteriak.
"Aaauuu.... Hahhh... hahhh... hahhh... perut kakak sakit sekali." Ratih memejamkan matanya ia tidak kuasa melihat darah sudah banyak mengalir.
"Kakak bertahanlah aku akan segera mencari bantuan." ucap Mawar, wanita itu benar-benar sangat panik sekarang.
"Tante..." Mawar berteriak sekeras mungkin.
"Nona... nona... apa yang terjadi kenapa anda berteriak...??" tanya Kasim Han dari lantai bawah karena tadi ia mendengar suara teriakan Mawar yang begitu keras.
"Han... cepat kemari... cepat kamari Han..." teriak Mawar. Sedangkan Han yang mendengarkan itu segera berlari secepat mungkin.
"Mawar apa yang terjadi kenapa berteriak seperti itu...??" kini ibu Susi yang bertanya.
"Ya Tuhan." belum sempat Mawar menjawab ibu Susi lebih dulu melihat Ratih masih terbaring menangis di lantai.
__ADS_1
"Ya Tuhan putriku." Ibu Susi menutup mulutnya dengan tangannya sendiri karena ia begitu terkejut saat melihat darah sudah mengalir kemana-mana.
"Kenapa kau hanya diam, kenapa tidak membatu kakakmu masuk kedalam." teriak Ibu Susi kesal karena melihat Ratih masih terbaring di lantai.
"A-Aku---" kini Mawar malah menangis. rasa panik sudah membuat tubuh Mawar gemetar entah apa yang terjadi pada wanita itu padahal ini bukan pertama kali ia melihat wanita hamil pendarahan. bahkan ia sudah sangat sering melihat kejadian ini di rumah sakit.
"Ibu sakit Bu... hik... hik..."
"Sayang bersabarlah kita akan segera ke rumah sakit. jangan diam saja cepat batu aku membawa Ratih." tegas ibu Susi.
"Nyonya... nyonya biar saya yang akan mengendong nyonya muda." tawar Kasim Han kini sudah berada di samping Ibu Susi. tampa menunggu jawaban dari Ibu Susi Kasim Han dengan sigap mengendong tubuh Ratih.
"Tias cepat siapkan mobil." teriak ibu Susi wanita tua itu sama halnya dengan Mawar.
*****
Di dalam perjalanan.
"Sabar sayang, kamu yang sabar ya kita akan segera sampai di rumah sakit. Han apa kamu tidak bisa mengemudi lebih celap lagi." Ibu Susi memukul kasar punggung Kasim Han.
"Nyonya tidak bisa, kita mengalami kemacetan sepertinya terjadi kecelakaan di ujung jalan sana nyonya." ucap Han melihat ke arah depan sudah di penuhi mobil berjenjer.
"Ibu aku tidak bisa menahannya lagi Bu, hik... hik... hik... aku sudah tidak kuat lagi Bu." suara Ratih terdengar sudah sangat lemas.
"Sayang bangun sayang, kamu tidak boleh pingsan. sayang lihat Ibu. Ibu ada di sini bersamamu kamu yang tenang ya sayang kita akan segera sampai di rumah sakit." Ibu Susi berusaha menyadarkan Ratih kini sudah pingsan.
"Tuhan kumohon selamatlah putriku hik...hik...hik... Tuhan aku mohon... Han cepat Han. cepat..." suara wanita tua itu sudah sangat parau sekarang entah berapa banyak sudah air mata yang ia keluarkan.
__ADS_1
Han berusaha menyembunyikan suara klakson sekuatnya namun kerumunan mobil di depannya itu masih tetap juga tidak membukakan jalan. hal itu membuat Han memukul stir mobil dengan kuat.
"Aaagggrrr...." Kasim Han menjambak rambutnya dengan sangat kasar.
"Mawar kenapa hanya diam saja cepat telepon ambulance." Wanita tua itu tidak tau harus melakukan apa lagi.
"Tidak bisa Tante. ambulance tidak bisa menerobos jalan semacet ini." Mawar menggelengkan kepalanya.
Tiba tiba Han membukakan pintu mobil belakang, dengan gerak cepat Han mengendong kembali tubuh Ratih.
"Han apa yang kau lakukan...??"
"Maaf nyonya kita sudah tidak punya banyak waktu lagi." Han langsung melangkah berjalan di tepi jalan menelusuri ke kemacetan yang begitu panjang. di bawah rintikan hujan yang begitu lebat dan angin yang begitu kencang Han terus berjalan keselamatan Ratih adalah hal yang paling utama baginya sekarang.
*****
Di kantor.
"Pring..." tampa sengaja Ricko menyenggol foto pernikahannya dengan Ratih. dan membuat bingkai foto itu pecah.
"Apa ini." Ricko memegang dadanya.
"Kenapa perasaanku tidak enak. Ratih." Ricko langsung dengan cepat menelpon Ratih. namun sudah berkali-kali ia menghubungi Ratih masih tetap saja tidak ada pertanda kalau Ratih mengangkat panggilannya. hal itu membuat perasaannya semakin yakin kalau terjadi sesuatu pada istrinya.
Tampa pikir panjang Ricko segera menghubungi Tias selaku asisten pribadi Ibu Susi.
"Apa...."---
__ADS_1
**Bersambung.....
Jangan khawatir besok pagi author akan up lagi supaya ceritanya tidak di gantung kayek jemuran. do'a in aja supaya author bisa lima kali up hari ini ok. Amin**.....