
"Lepasin aku, lepasin..." Tania terus saja memberontak mencoba melepaskan diri dari Kevin.
"Tania ku mohon dengarkan aku dulu please." Kevin memeluk Tania dari belakang bahkan kini pelukannya semakin erat.
"Sudah tidak perlu di bicarakan lagi ini semua sedah jelas." Tania menangis terisak-isak hingga membuat dirinya semakin lemas dan jatuh dalam pelukan Kevin.
"Tania... Tania..." Kevin menepuk pelan pipi Tania. "Tania bangun." Kevin masih menepuk pipi Tania tapi tidak juga membuat wanita itu membukakan matanya. akhirnya Kevin mengedong tubuh Tania, membawa wanita yang ia cintai kembali ke dalam kamar hotel.
Pelan-pelan Kevin meletakkan Tania di atas ranjang di lihatnya mata Tania masih basah karena menangis. hati Kevin seakan sesak, kesal, marah semua itu bercampur raduk. ia begitu marah pada dirinya sendiri. "Kenapa ini semua bisa terjadi." Kevin menjambak rambutnya kasar lalu sorot matanya kembali melirik ke arah Tania. "Sayang maafkan aku, maafkan aku hik... hik..." Kevin tidak henti-hentinya mencium tangan Tania.
Di sisi lain Rahul masih mengejar Mawar yang sadari tadi terus berlari. "Mawar tunggu." Rahul berhasil menarik tangan Mawar membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"Mawar kenapa kamu lari...??" tanya Rahul masih menggenggam tangan Mawar. "Mawar..." Rahul membalikkan badan Mawar ketika ia menyadari sesuatu yang aneh.
"Mawar are you ok...??" Rahul di buat terkejut melihat Mawar sudah menagis tersedu-sedu.
Bukannya menjawab Mawar malah memeluk Rahul dengan erat, menumpahkan seluruh air matanya di dada sispeck Rahul.
Rahul tidak bertanya lagi ia tahu kalau suasana hati Mawar sedang buruk sekarang. sejauh yang ia kenal Mawar adalah tipe wanita yang sangat susah menangis tapi kenapa di malah menangis saat ini apa yang membuat ia sedih seperti ini?? pertanyaan itu tergiang di kepala Rahul.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, kau harus beristirahat." ucap Rahul penuh kelembutan membuat Mawar sedikit mengurangi rasa tanggisnya.
"Di mana Tante Susi...??" Mawar bertanya dengan suara kecil namun cukup jelas di dengar Rahul.
"Semua orang sudah pulang ke mansion Papa, mereka semua menginap di sana." jawab Rahul memerhatikan wajah Mawar sudah bengkak menangis.
"Jangan menagis lagi ada aku disini, percaya aku akan melindungi mu."
"Maaf aku membuat bajumu basah." kini Mawar mulai menghapus air matanya.
"Agh... tidak apa-apa hanya basah sedikit saja. ayo kita pulang Tante Susi pasti sedang menunggumu." ajak Rahul seraya merangkul pundak Mawar lembut.
"Ya Tuhan." Kevin mencoba memeriksa dengan jelas hingga ia menyentuh leher dan kening Tania. laki-laki langsung kaget bukan main saat merasakan hawa panas semakin meningkat.
"Tania, sayang, bangun." Kevin semakin panik ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. "Apa yang harus aku lakukan." Kevin berusaha menenangkan dirinya. sesaat kemudian Kevin langsung teringat akan Mamanya dulu juga pernah mengalami demam, ia ingat betul dulu Mamanya sampai di selimuti dengan banyaknya kain dan juga kompres di dahi.
Tanpa menunggu lebih lama Kevin langsung menghubungi staf hotel memerintahkan mereka membawakan selimut lagi dan juga air hangat. sambari menunggu kedatangan staf Kevin menyelimuti Tania dengan selimut yang ada di sana, Kevin juga menggosok-gosok tangan Tania.
tak berlangsung lama suara pintu di ketok pun terdengar, Kevin langsung bergegas membukanya. "Ini tuan selimut dan air hangatnya." ucap staf hotel dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
"Taruh saja di saja di atas nakas setelah itu kalian boleh pergi." Kevin menutup kembali pintu kamar.
"Apa nona ini istri tuan...??" tanya salah satu staf hotel yang membawakan air hangat tadi.
"Ya dia istri ku kami baru beberapa Minggu yang lalu menikah." Kevin terpaksa harus berbohong ia tahu keamanan di hotel ini sangat ketat mereka juga melarang non muhrim tidur sekamar.
"Wanita ini sangat beruntung bisa memiliki suami seperti tuan, sudah ganteng, baik, perhatian lagi." tutur staf satunya lagi yang tadi membawakan selimut.
"Hem terima kasih pujiannya kalian boleh pergi." ucap Kevin merasa tidak punya waktu meladeni dua orang ini. sepertinya mereka tidak memperhatikan wajah Tania dengan teliti kalau mereka perhatikan pasti mereka akan memikirkan sepuluh kali sebelum berbicara seperti tadi.
"Baiklah semoga cepat di kasi momongan. kami permisi dulu." dua pelayan menjengkelkan itu langsung pergi.
"Tania..." Kevin bergegas mengambil selimut dan langsung membaluti tubuh Tania lagi. lalu laki-laki itu mengambil sapu tangannya yang di selipkan di saku jas. pelan-pelan Kevin mengompres dahi Tania hingga kejadia itu berulang berjam-jam. Kevin pun kewalahan dan tertidur dengan wajahnya berada di atas sedangkan punggung dan kakinya berada di lantai.
Sementara yang lain sudah tiba di mansion Amitabh Bachchan, mereka langsung ke kamar mereka masing-masing merebahkan tubuh seakan tidak kuat lagi menahan rasa ngantuk. sementara Rahul dan Mawar sampai tiga puluh menit setelah itu, para pelayan mansion langsung menyambut mereka dan mengantarkan mereka ke kamar masing-masing. "Terima kasih." ucap Mawar malu-malu sesaat sebelum mereka terpisah. "Sudah kewajibanku melindungi orang yang ku sayang." Rahul mengembangkan senyumnya. "Saranghae."
**Bersambung.......
Up selanjutnya akan segera meluncur kalau enggak ada hambatan, semoga aja 🤗**
__ADS_1