Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 71


__ADS_3

Ratih perlahan lahan membukakan matanya terasa sesuatu sangat bau menusuk hidungnya entah bau apa yang di cium Ratih tapi bau itu sangat membuat Ratih tidak nyaman.


Ratih membalikan badannya ke arah samping dan teryata sudah ada Ricko sadari tadi terus memeluknya, sebuah senyuman terukir sangat indah di bibir Ricko. laki laki itu benar benar bahagia sekarang, bagaimana tidak sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Ricko mengerakkan jemarinya menggenggam erat tangan Ratih.


"Sayang..." suara Ricko penuh kelembutan.


"Huee---" Ratih menutup kembali mulutnya, terasa sesuatu sangat bergejolak di dalam perut. Ratih berlari cepat ke kamar mandi langsung memuntahkan kembali isi perutnya


"Sayang kamu muntah lagi." tutur Ricko seraya berjalan hendak menghampiri Ratih.


"Stop!!" teriak Ratih mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk berhenti.


"Jangan dekat dekat kamu sangat bau, bau badan mu sungguh membuat kepalaku sakit." gerutu Ratih seraya tangannya menutup hidung.


Ricko dengan cepat mencium aroma tubuhnya sendiri. bahkan Ricko berkali kali mencium tubuhnya sendiri namun tidak menemukan bau yang aneh, masak bau ini kan minyak wangi yang sering ku pakai pikir Ricko seraya menaikan kedua alisnya.


"Pergi jangan dekat dekat." teriak Ratih.


"Sayang aku tidak bau, aku sangat wangi." gerutu Ricko mencium kembali aroma tubuhnya.


"Bau, sangat bau aku tidak suka jadi aku mau kamu pergi! jangan tidur di sini tidur saja di tempat lain saja." tutur Ratih sedikit berteriak, entah kenapa emosinya naik turun dia juga merasa sangat kesal jika melihat wajah Ricko.


"Sayang kok kamu gitu sih, aku mau tidur di mana di sini itu sudah penuh semua." Protes Ricko dengan tatapan memohon.


"Aku tidak mau tau pokoknya kamu harus pergi dari sini." protes Ratih mendorong paksa keluar tubuh Ricko setelah itu Ratih langsung menguncikan pintu tak membiarkan Ricko masuk lagi.


"Aaagggrrr...." Teriak Ricko frustasi seraya menendang dinding.


"Kak Ricko ngapain di sini?? pakek nendang dinding segalak lagi.?? tanya Mawar dari arah belakang Ricko, wanita itu hendak ke toilet namun tampa sengaja Mawar melihat Ricko sedang menendang dinding.

__ADS_1


Ricko segera membalikan badannya,"Kau."


"Kau, kau. eee... Mawar tau kak Ricko pasti di usir kak Ratih kan." tebak Mawar menaik turun alisnya.


"Siapa yang di usir orang lagi nyarik nyamuk." sahut Ricko asal.


"Nyarik nyamuk, untuk apa kak Ricko nyarik nyamuk segalak.??" Tanya lagi Mawar merasa aneh dengan perkataan Ricko.


"Mau pelihara." ketus Ricko lalu langsung pergi meninggalkan Mawar yang masih mematung di tempatnya, wanita itu masih mencerna apa yang di katakan Ricko barusan.


"Bos." tutur Kevin ketika melihat Ricko menghampirinya dan juga Kasim Han.


"Tuan muda silahkan." Han kini berdiri seraya mempersilahkan Ricko duduk.


"Cari aku kamar satu lagi." ucap Ricko dingin menatap kearah Kevin.


"Kamar." guma Kevin mengerutkan keningnya.


"Iya bos, sepertinya kamar di sini sudah penuh semua. bos bisa lihat sendiri betapa banyak orang yang berada di pantai." tunjuk Kevin kearah tepi pantai.


"Ckckck. kalau begitu aku tidur di kamar kamu saja." ucap Ricko terpaksa.


"Tapi bos saya tidur bersama Kasim Han." sahut Kevin cepat.


"Kamu mengusirku." gerutu Ricko.


"Tidak bos bukan begitu maksud saya, kalau bos mau ya sudah bos bisa tidur di atas ranjang nanti kami tidur di bawah."


"Tapi bos saya heran kenapa bos tiba tiba tidur bersama kami.??" tanya Kevin memberanikan diri. walaupun sedikit takut namun Kevin tetap memberanikan diri.

__ADS_1


"Kamu tidak akan tahu karena kamu belum menikah." jawab Ricko cepat.


*****


Matahari pagi telah menjulang tinggi sinarnya pun telah menerangi seluruh bumi, semua orang pun kini melakukan aktifitas mereka masing masing. berbeda dengan Ricko laki laki itu sadari tadi terus saja mengetok-ngetok pintu kamar Ratih entah berapa banyak sudah dia memanggil Ratih namun tetap tidak mendapat jawaban sama sekali.


"Bos bagaimana apa nona Ratih masih belum bangun...??" tanya Kevin baru tiba.


"Tidak Vin, cepat kamu panggil Rahmat mintak kunci cadangan sama dia." perintah Ricko.


"Baik bos."


"Kak udara pagi sangat sejuk dan segar ya kak." tutur Tania merasa sejuk, ya, kini Tania, Ratih dan juga Mawar berada di pinggir pantai mereka menikmati detik detik terbitnya matahari. sudah dari subuh tadi mereka pergi ke pantai walau nampak dingin dan sejuk karena di terjang angin laut tapi itu tidak membuat niat mereka roboh.


"Iya Nia, dulu juga waktu kecil kamu sering pagi pagi pergi ke tepi pantai sampai sampai semua orang khawatir setengah mati." tutur Ratih wanita itu juga sudah merasa sejuknya angin laut.


"Kenapa kak, kenapa sampai sampai semua orang khawatir...??" tanya Mawar merasa bingung.


"Itu karena anak kecil ini." tunjuk Ratih ke arah Tania." pergi enggak bilang bilang, sampai-sampai aku dan ibu keliling pasar nyariin dia kami pikir dia pergi ke pasar eh tau taunya malah di pantai." jawab Ratih membayangkan kejadian waktu itu.


"Hahaha... salah kakak sendiri di ajak enggak mau ya udah Nia pergi sendiri aja." sahut Tania.


"Ngajak apanya, masak ngajak tengah malam emang apa mau dilihat kecebong beranak." gerutu Ratih.


Tak terasa waktu pun terus berjalan kini mereka para wanita sudah merasa kelaparan akhirnya mereka memutuskan untuk segera balik. namun tiba tiba Ratih kembali merasakan mual.


"Hueekkk...."


Hueekkk....".

__ADS_1


"Astaga aku lupa kalau kak Ratih lagi hamil seharusnya kita tidak mengajak kak Ratih tadi." tutur Tania. sedangkan Ratih langsung mendongakkan kepala menatap ke arah Tania.


"Hamil...."


__ADS_2