
Tepat pukul dua pagi Ratih terbagun dari tidurnya ia menguap beberapa kali seraya mengusap matanya lembut, setelah ia rasa sudah sadar barulah Ratih beranjak dari tempat tidur.
Krukkk (terdengar suara di dalam perut Ratih)
"Ah sayang kamu lapar ya." guma Ratih mengelus perutnya kini sudah membesar.
"Iya Mami Beby mau martabak telor." suara Ratih menirukan suara anak kecil.
"Ehm gemesnya teryata anak Mami mau makan martabak telor ya. baiklah ayo Beby kita bangunkan Dedy mu." ucap Ratih setelah itu langsung merangkak pelan pelan mendekati Ricko masih terlelap dalam tidurnya.
"Mas bangun mas." Ratih menggoyangkan bahu Ricko.
"Mas bangun mas anakmu ini mau makan." kali ini suara Ratih sedikit lebih keras dengan tangannya selalu menggoyangkan tubuh Ricko.
"Eeeggg..." suara Ricko lalu membalikkan badannya memunggungi Ratih.
Sementara Ratih yang melihat Ricko malah memunggunginya pun merapatkan giginya."Mas Ricko..." kali ini Ratih benar-benar berteriak hingga membuat Ricko terperanjat dari kasur.
"Ada apa?? apa kau terluka ?? di mana yang sakit??" tanya Ricko penuh kecemasan dengan bola matanya melirik setiap tubuh Ratih.
"Aku lapar." guma Ratih memayunkan bibirnya.
"Hah, astaga sayang kau membangunkan malam malam begini karena kau lapar." Ricko memejamkan matanya singkat.
"Kenapa kau tidak membangunkan Tias saja, dia akan menyiapkan makanan untuk mu." sambung Ricko lalu merebahkan badannya kembali ke tempat tidur.
"Enggak mau, aku enggak mau makanan yang ada di rumah ini. aku mau makan martabak telor." rengek Ratih menggoyangkan badan Ricko lagi.
"Sayang aku sangat mengantuk bisakah di tunda besok pagi saja, lagi pula mana ada orang jual martabak telor di tengah malam seperti ini." elak Ricko kini langsung memejamkan matanya.
"Aku enggak mau tau pokoknya aku mau martabak telor, aku mau martabak telor, aku mau martabak telor." Ratih memukul pelan tubuh Ricko.
"Ya ampun kenapa kau sangat keras kepala sih sayang. ini itu sudah larut malam sayang mana ada lagi orang jualan martabak telor." ucap Ricko berusaha menyakinkan Ratih kini dia duduk tepat di depan Ratih.
"Kamu cariklah di mana kek, pokoknya aku mau martabak telor." regek Ratih lagi.
"Baby ini pasti semua ulah kamu kan, kamu segaja kan meminta martabak telor pada Mami agar dia membangunkan Dedy di tengah malam seperti ini Hem, kau ingin mengerjai Dedy Hem, kau ingin Dedy mu yang tampan ini di makan hantu di luar sana Hem." ucap Ricko melototi perut buncit Ratih.
"Sayang kamu mau suami mu yang tampan sejagat raya ini di rebuti kuntilanak, ini tengah malam lo sayang pasti di luar sana banyak kuntilanak." rayu Ricko.
"Tidak akan, kuntilanak itu tidak akan merebuti mu nanti aku akan mengirim pesan padanya agar dia tidak menganggumu." ucap Ratih asal.
__ADS_1
"A-Apa?? kamu mengirim pesan pada kuntilanak...??" tanya Ricko tak percaya sementara Ratih langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya aku memiliki nomornya bahkan aku juga memiliki grup WhatsApp ya Kunti. jadi kamu tidak perlu banyak alasan lagi cepat carikan martabak telor." ketus Ratih.
"T-Tapi sayang..."
"Kamu mau nanti anak kamu ilera gara gara Dedy nya enggak mau nurutin ngidam Maminya. terus anak kamu ngences setiap saat mau. terus kamu mau nanti anak k---"
"Sudah sudah tidak perlu berbicara lagi." Ricko menarik nafas dalam-dalam setelah itu ia membuangnya dengan kasar." baiklah aku akan pergi sekarang, aku akan mencarikan martabak telor sekarang tapi ingat setalah aku membawa martabak telor itu untukmu kau harus membayarnya dengan sangat mahal." ucap Ricko penuh maksud lalu laki laki itu langsung mengambil pakaian dan kunci mobil. ya karena Ricko selalu tidur menelanjangi dadanya.
"Beby jangan salahkan Dedy nanti ya kalau terjadi sesuatu padamu nanti pagi karena itu juga salahmu kenapa kau malah minta yang aneh aneh di saat tengah malam seperti ini. untuk itu kau dan Mami harus membayar mahal atas permintaan kalian ini."
****
Sudah tiga puluh menit lebih Ricko mengelilingi kota namun dia tidak menemukan penjual martabak telor satupun hal itu membuat ia geram sendiri.
"Aaagggrrr... kenapa tidak ada penjual satupun."
"Kevin. ya Kevin pasti tau di mana letak penjual martabak telor." guma Ricko setelah itu tanganya langsung meraih ponsel yang ia letakkan di saku celananya. Ricko mencari nama Kevin di layar ponsel setelah ia menghubunginya.
Sudah dua kali Ricko mencoba menghubungi Kevin namun tidak ada tanda tanda kalau Kevin mengangkat panggilannya. "Kevin kau ini di mana kenapa tidak mengangkat panggilan ku." Ricko berusaha menghubungi Kevin lagi.
"Halo bos." ucap Kevin setelah panggilan terhubung.
"Maaf bos aku sangat mengantuk tadi."
"Kau sama Ratih sama saja sama sama nyebelin." ketus Ricko.
"Bos..."
"Katakan di mana letak penjual martabak telor."
"Martabak telor." guma Kevin dengan cepat berpikir. "Bahahaha... sekarang aku baru sadar bos, bos pasti di suruh belik martabak kan sama nona Ratih hahahah..."
"Diam kau jangan menertawakan ku cepat katakan di mana ada penjual martabak."
"Hahaha ok bos. bos jalan saja ke jalan xxx dekat kantor photo copy nah di situ tepat di depan rumah makan di situ ada penjual martabak telor yang selalu buka 24 jam."
Ricko langsung mematikan ponselnya, ia rasanya sudah tidak sabar ingin langsung membeli makanan itu.
*****
__ADS_1
Tepat pukul setengah empat pagi Ricko baru sampai di mansion laki laki itu berlari menuju kamarnya.
"Sayang aku sudah membawakan martabaknya." ucap Ricko di ambang pintu namun tidak ada sahutan sama sekali dari Ratih bahkan wanita itu memunggungi suaminya kini tengah berjalan ke arahnya.
"Sayang ini martabak telornya." ucap Ricko menyerahkan makanan itu ke hadapan Ratih namun Ratih tidak mengambilnya.
"Lo kok enggak di ambil sayang katanya kamu mau makan martabak. sayang."
"Iya aku memang mau martabak tapi kenapa kamu membawanya lama sekali, kamu pasti berkeliaran kan di luar sana." ucap Ratih.
"Berkeliaran. sayang aku itu nyariin penjual martabak Lo sayang bukan berkeliaran."
"Mana ada orang belik martabak sampai dua jam lamanya, kalau bukan berkeliaran." gambek Ratih sementara Ricko mengaruk kepalanya tak gatal sikap ibu hamil sungguh membuat ia pusing pikir Ricko.
"Sayang aku mintak maaf tapi sungguh aku tidak berkeliaran, aku lama pulang itu karena aku susah mencari penjual martabak telor yang buka di jam selarut ini sayang." bujuk Ricko.
"Kamu tidak bohong kan...??"
"Sumpah demi apapun aku tidak bohong sayang."
"Ya sudah berikan sini."
"Nah gitu dong jangan ngambek ngambek, percaya lah sama suamimu yang tampan ini kalau dia tidak berbohong."
Ratih langsung memakan martabak telor itu dengan rakusnya rasanya ia sudah seperti tiga hari tidak makan.
"Sayang pelan pelan makannya jangan buru-buru nanti kamu bisa tersedak." ucap Ricko namun Ratih tidak mendengarnya sama sekali.
Sepuluh menit telah berlalu Ratih sudah siap dengan makanannya ia sudah sangat kenyang sekarang. Ratih membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan tangannya mengelus lembut perut buncitnya itu.
"Sayang..." panggil Ricko penuh maksud.
"Iya."
"Mana bayarannya, bukan kah tadi aku sudah bilang kalau kau harus membayar mahal atas kepergian ku memenuhi permintaanmu itu."
"Ambil saja uangnya di dompet ambil saja semuanya untuk mu."
"Sayang aku tidak butuh uang." bantah Ricko.
"Lalu aku harus membayarnya dengan apa...??" tanya Ratih heran. sedangkan Ricko langsung tersenyum penuh arti tampa menunggu lebih lama Ricko langsung melanjutkan aksinya.
__ADS_1
**Bersambung.....
Ayo bantu author dengan cara vote dan like 😁**