Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 111


__ADS_3

"Mas mau ke mana...??" tanya Ratih saat melihat Ricko sudah bangkit dari ranjang.


"Aku mau menemui Kevin. aku akan memberinya pelajaran." Ricko mengepal kedua tangannya.


"Mas, sudah ini sudah malam. tidak baik buat keributan di tengah malam seperti ini." cegah Ratih.


"Tapi aku tidak terima, dia pikir aku tidak sanggup apa membelikan istriku kolor dan bra." ketus Ricko dengan tangannya masih mengepal.


"Ya ampun sayang. mungkin Kevin pikirannya sedang buntu jadi dia tidak tau harus membelikan kado apa."


"Kenapa kamu malah membelanya."


"Aku tidak membelanya aku hanya mencoba meleraikan mas."


"Kalau begitu jangan halangi aku lagi aku akan tetap pergi. aku akan memberikannya pelajaran." tutur Ricko langsung melangkah pergi.


"Ya sudah pergi sana mas. setelah itu kamu tidur di luar dan selama satu bula penuh aku korting jatah kamu." teriak Ratih berhasil membuat Ricko dengan cepat menghentikan langkahnya.


"Aaagggrrr..... awas saja kamu Kevin aku pasti akan memberi kamu pelajaran besok pagi." batin Ricko seraya membuang nafasnya dengan kasar. lalu ia membalikkan badannya kembali melangkah menaiki ranjang.


"Kok balik lagi mas tidak jadi pergi...??" tanya Ratih pura-pura senyum.


"Aku rasa aku bisa menyelesaikan besok pagi saja." jawab Ricko menampakkan gigi putihnya.


"Abisnya kamu sih ancam aku sampek segitunya. apa kamu tidak kasihan sama ubi karet ku dia tadi sangat terkejut ketika mendengar korting jatah. apa lagi sampai sebulan." ucap Ricko dengan suara sangat lembut.


"Kamu sih buat suasana hatiku jadi buruk."


"Ya udah minta maaf." Ricko memegang lengan Ratih.


"Mas apaan sih geli tau." Ratih menepis tangan Ricko.


"Maafin dulu, ya maafin ya." kini Ricko mengatupkan kedua tangannya.


"Hem." Ratih menganggukkan kepalanya, sementara Ricko langsung tersenyum manis.

__ADS_1


"Kalau begitu aku boleh mintak."---


"Enggak." Ratih dengan cepat memotong perkataan Ricko.


"Yah... kok enggak sayang kan udah di maafin."


"Aku lagi datang bulan."


"Tidak mungkin, tadi pagi kamu lagi tidak datang bulan. kenapa sekarang malah datang bulan, aku tidak percaya sini aku lihat."


"Gak,gak,gak. enak aja main lihat-lihat nanti setelah lihat kamu malah minta yang aneh-aneh lagi."


"Berati kecurangan aku benar kamu bohongi aku akan"


"Ya ampun mas kalau kamu tidak percaya lihat saja ke tempat sampah di sana masih ada pembalut yang tadi aku buang."


"Baiklah akan akan aku lihat, tapi kalau kamu bohongi aku makan kamu harus melayaniku sampai pagi." tutur Ricko lalu langsung pergi memeriksa.


"Semoga saja pembalut itu tidak ada agar ubi ku bisa segera masuk ke sarangnya." batin Ricko sebelum sesaat ia akan membuka tempat sampah yang berada di belakang pintu kamar mandi.


"Percuma aku berpura-pura lembut." guma Ricko.


"Mas kamu bilang apa barusan.??"


"Aaaahhh sayang. apa namanya." mengaruk kepalanya tak gatal.


"Aku tidak bohong kan..??"


"Iya sayang kamu benar." Ricko kembali menaiki ranjang dengan sangat lesu.


"Ini hadiah dari ibu. kira-kira apa ya." guma Ratih seraya membuka kado dari ibu Susi.


"Liontin..." guma Ratih begitu terkejut. saat melihat sebuah liontin terbuat dari permata hijau."Ini sangat bagus." Ratih langsung memakaikannya.


"Berikan sayang biar ku pakaikan." tawar Ricko seraya mengambil liontin dari tangan Ratih.

__ADS_1


"Sempurna..." guma Ricko setelah ia mengikatkan liontin itu di leher Ratih. sementara Ratih tidak tenang ia bergegas turun dari ranjang melangkah mendekati meja rias.


"Aaaaaaa. ini cantik sekali." Ratih tak henti-hentinya tersenyum.


"Ya Tuhan sudah setahun aku menikah dengan istriku tapi aku sama sekali tidak tau kalau istriku itu sangat suka sama liontin. kalau saja aku tau pasti aku lebih dulu mengasingkannya dari pada Ibu."


*******


Pagi hari.


Nampak semua orang sedang sibuk merias diri masih-masing, mereka sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke acara ulang tahun teman Ibu Susi karena acaranya akan di mulai tepat pukul sepuluh.


Ratih sedang merias dirinya di depan cermin sedang Ricko masih berada di kamar mandi. entah apa yang di lakukan Ricko sadari tadi ia tidak keluar-keluar dari kamar mandi.


"Sudah siap." guma Ratih seraya bangkit dari kursi dan langsung mengambil tas selempang jinjint berwarna kelabu.


"Mas aku ke kamar Alfin sebentar aku mau melihatnya. baju kamu sudah aku taruh di atas ranjang semua sudah aku siapkan." teriak Ratih sesaat sebelum ia keluar kamar.


Tak jauh melangkah Ratih sudah berada di depan pintu kamar pelayan yang merawat Alfin. ia langsung memegang handel pintu membukanya.


para pelayan yang melihat Ratih tiba-tiba masuk pun segera bangkit memberikan hormat. kecuali satu pelayan yang sedangkan memakaikan baju pada Alfin.


"Apa sudah siap." tanya Ratih seraya berjalan mendekati Alfin.


"Nyonya..." ucap pelayan yang memakaikan baju pada Alfin tadi memberi hormat.


"Wah Alfin sayang kamu sudah sangat tampan rupanya." gemes Ratih.


"Apa dia sudah minum susu...??"


"Sudah nyonya. tuan muda Alfin juga sudah makan."


"Baguslah, jangan lupa bawakan dia susu cadangan nanti kalau dia haus langsung kasih. aku tidak bisa menyusuinya di pesta nanti pasti banyak orang di sana." ucap Ratih lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Sayang pakailah ini. ini adalah pemberian Kakek buyut mu sayang." Ratih memakaikan liontin pemberian kakeknya dulu kepada Alfin. liontin yang terbuat dari permata putih yang mengkilat.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2