
Tiga hari telah berlalu di rumah sakit.
Tiga hari sudah Ricko berada di rumah sakit menemani sang istri yang masih saja menutupkan kedua kelopak matanya. ya Ratih, wanita itu masih saja berada di alam mimpinya hanya tuhan yang tau kapan semuanya akan kembali seperti semula. berbagai Dokter pun sudah Ricko panggil untuk mengobati sang istri namun hasilnya nihil. tidak ada satupun di antara mereka yang bisa membuat Ratih segera bangun. sedangkan Kasim Han sudah pulang dua hari yang lalu tidak terjadi hal serius pada Han hingga membuat ia bisa cepat pulang.
Sudah tiga hari juga Ricko tidak pergi ke kantor, semua urusan di kantor ia serahkan kepada Kevin. sementara Ibu Susi berada di mansion mengurus cucu kesayangannya yang kini sudah berusia tiga hari. wanita tua itu terlihat begitu semangat mengurus cucu pertamanya itu. namun, tidak pada umumnya hati dan pikirannya terus saja tertuju pada Ratih. hingga membuat wanita tua itu bolak-balik ke rumah sakit.
"Bagaimana dok keadaan istri saya...??" tanya Ricko.
"Ehm. maafkan kami sepertinya kami sangat kesusahan membangunkan istri anda tuan, penyakit yang di alami nona benar-benar penyakit yang sangat langka dan penyakit itu juga sangat berbahaya tuan. sedikit saja kami melakukan kesalahan makan bisa fatal akibatnya tuan. saya juga terkejut nona bisa bertahan sampai selama ini, karena biasanya penyakit semacam ini tidak akan bertahan lama. menurut yang saya tau penyakit ini biasanya hanya akan bertahan selama dua belas jam, jika dalam dua belas jam orang itu tidak bangun juga bisa dikatakan orang itu sudah meninggal tuan. kasus nona Ratih benar-benar membuat kami bingung tuan." jawab dokter.
Ricko membuang nafasnya dengan kasar."Kau boleh pulang ke negaramu."
"Tapi tuan.---"
"Apa lagi bukankah kau bilang kau tidak bisa membuat istriku sembuh, lalu untuk apa lagi kau di sini." ketus Ricko ia sudah merasa sangat jengkel dengan dokter selalu mengatakan kalau mereka tidak bisa menyembuhkan Ratih.
"Menurut saya hanya tuan lah yang bisa menyembuhkan nona." ucap dokter itu.
"Apa kau pikir aku ini Tuhan." Ricko semakin jengkel.
"Maksud saya bukan begitu. begini tuan setelah kami cek beberapa akhir ini panas yang berada di tubuh nona semanik menurun dan itu sangat bagus untuk perairan darat kembali lancar. tubuh nona sebelumnya juga sangat panas tapi semenjak anda selalu berada di samping nona panas yang berada di tubuh nona pun sedikit demi sedikit menurun jadi saya rasa anda harus terus berada di samping nona."
__ADS_1
"Tampa kamu suruh pun aku akan selalu berada di samping istriku." guma Ricko gusar lalu langsung pergi.
****
Di dalam mansion.
"Uueeekkk... uueeekkk... uueeekkk..." suara tangisan bayi seakan memenuhi ruanga.
"Cup cup cup cup... sayang ku kenapa kamu nangis terus he, kamu haus ya sayang ya haus. ni Oma kasih kamu susu ni susu SGM." ucap Ibu Susi mencoba menenangkan Beby yang sadari tadi menangis terus.
"Ehm, seperti kamu sangat haus ya sayang ya, emmm minum sampai habis ya agar kamu nanti cepat besar terus bisa jagain Oma, jagain Dedy dan Mami kamu juga. ayo sayang minum sampai habis. anak pintar." Ibu Susi mencium berkali-kali pipi Beby terasa ia gemas sendiri.
"Nyonya kalau saya boleh tau, kenapa sampai sekarang nyonya belum juga menamai Beby. bukankah nyonya sudah menyiapkan nama Beby sudah lama...??" tanya Tias memberanikan diri karena pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya.
"Kamu kan tau Tias. sampai sekarang Ratih belum sadar juga, Hem. Ricko pun sampai sekarang dia belum melihat anaknya sama sekali. dia merasa tidak berhak melihat anaknya dia merasa sangat bersalah." sambung Ibu Susi lagi kini dengan air mata berlinang.
"Nyonya... Maafkan Tias." Tias berlutut di hadapan Ibu Susi wanita itu merasa bersalah telah bertanya.
"Kita harus berdoa pada Tuhan agar Ratih selalu dalam lindungannya." guma Ibu Susi.
"Aku titip Beby ya Tias. aku harus pergi ke rumah sakit aku ingin tau bagaimana keadaan Ratih sekarang." Ucap Ibu Susi seraya menyerahkan Beby kepada Tias.
__ADS_1
"Baik nyonya."
"Ibu..." panggil Tania dari arah belakang berhasil membuat langkah kaki Ibu Susi berhenti.
"Apa Ibu mau pergi ke rumah sakit...??"
"Ehm, iya sayang Ibu ingin tau bagaimana keadaan kakak kamu."
"Nia ikut ya Bu, Nia sama sekali belum melihat bagaimana keadaan kakak. Nia kangen banget sama kakak." kini Nia sudah berlinang air mata, wanita itu sama sekali belum melihat wajah kakaknya semenjak Ratih masuk rumah sakit. sementara Ibu Susi yang melihat Tania menangis langsung mendekati dan memeluk Tania dengan sangat erat.
"Ibu tau kamu pasti sangat kangen sama kakak kamu, tapi apa yang harus Ibu lakukan. dokter melarang kita menemui Ratih. Ibu juga sangat kangen sama kakak kamu sayang."
******
"Sayang cepat bangun, aku mohon." guma Ricko terus saja mencium kening istrinya.
"Apa kamu tega melihat aku sendirian, apa kamu tidak sayang pada anak kita. dia sangat membutuhkan kamu sayang. dia sangat ingin kamu segera sadar hik... hik..."
"Sayang aku berjanji kepadamu kalau aku akan selalu berada di dekatmu. aku juga berjanji akan menuruti semua apa yang kamu inginkan, tapi dengan satu syarat kamu harus segera bangun sayang. kamu harus cepat bangun aku mohon." Ricko menanamkan kepalanya di leher Ratih.
"K-Ka,K-Ka, eeegggrrr...."
__ADS_1
**Bersambung.....
Semoga Ratih cepat sadar amin 🤲🤲🤲**