
Musim ke tiga
Tiga tahun kemudian.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Tania kapur sedang berlari sekuat yang ia bisa melalui lorong-lorong sempit di universitas ternama kota Jakarta. Kaki kecilnya yang bersepatu hitam menghantam keras, tidak peduli bunyi yang bergemuruh akan menganggu kelas-kelas yang sedang berlangsung. Dalam hati Tania yang sekarang sudah beranjak umur 23 tahun merutuki diri sendiri. Seandainya saja tadi malam Kevin, laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya tidak mengajaknya nonton film keluaran terbaru, dia pasti tidak akan terlambat seperti ini memberikan deskripsi terakhir bulan ini.
Semoga saja Bu Ani tidak marah akan terlambat ini, huuffff..... Kebohongan apa lagi yang harus aku katakan agar dosen galak itu mempercayai ku untuk kesekian kalinya.
Mawar mengerucut bibir mungilnya. Bukan saatnya melamun memikirkan hal tidak penting. Dia harus segera tiba di ruangan Bu Ani agar namanya tidak dicoret dari nama siswa kelulusan seleksi bulan ini. Dia menambah kecepatan berlari. Keringat bercucuran mengalir deras melunturkan bedak Wardah Pond's yang ia pakai sekadarnya. Sementara tas ransel yang ia bawa sudah melorot ke area punggungnya tak sempat di dikenakan dengan benar. Dia terlalu sibuk memeluk berkas-berkas deskripsi yang baru saja selesai ia siapakah. Rambut hitamnya yang lebat dicepol apa adanya, membiarkan beberapa helaian jatuh tak beraturan.
Brakkk.
Tania tergusur kebelakang dan terduduk di lantai setelah menghantam sesuatu yang kukuh. Pelukannya terhadap berkas-berkas deskripsi lepas, membuatnya berhamburan di atas lantai. Seketika mata Tania melengot membulat sempurna saat melihat semua berkas-berkas yang susah payah ia siapkan berceceran dilantai.
"Ck..."
Tania mengangkat kan kepalanya melihat kalau dia tidak menabrak sesuatu melainkan seseorang. Jantung Tania berhenti selama persekian detik, di hadapannya berdiri seorang pemuda jangkung berambut perang acak-acakan dan memakai kau hitam bergambar tengkorak menatap memangsa kearahnya. Untuk seketika Tania terpana akan ketampanan pemuda berwajah Eropa tersebut. Matanya yang biru membuat manik-manik mata Tania tidak berkedip di persekian detik. Matanya yang tajam menyempit tidak senang sebelum sesaat melengos pergi meninggalkan Tania seorang diri tanpa meminta maaf.
Tanpa ulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Tania tersadar dan merenggut berkas-berkas yang berceceran dilantai, sekilas ia terperangah memandang punggung pemuda yang menabraknya tadi, ingin rasanya ia berteriak dan menendang pemuda kurang ajar itu. Tapi dia kembali ingat tujuannya.
"Aku sudah terlambat." seru Tania sebelum sesaat ia akan kembali berlari.
__ADS_1
Tania tiba dan memandangi pintu yang bertuliskan ruangan dosen Ani. Matanya yang lentik dengan sangat lekat memandangi pintu yang terbuat dari kau jati itu. Tania menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan sedikit kasar. Mempersiapkan diri menghadapi dosen galak yang pernah ia temui selama menempuh ilmu perguruan tinggi kuliah tenama ini.
Huuffff
Mencoba menganyun kan tangannya mengetok pintu kayu jati tersebut. Hingga beberapa saat kemudian terdengar sahutan masuk dari dalam barulah Tania memberanikan diri untuk menyentuh handle pintu, memutar kearah kanan setelah sedikit terbuka barulah dengan sangat hati-hati dan secara perlahan-lahan Tania mendorong pintu itu agar terbuka lebar.
Dilihatnya Bu Ani sedang terlihat serius dengan seorang pemuda yang berdiri tepat didepan mejanya. Tania tidak tau siapa pemuda itu karena dia hanya melihat punggung pemuda itu saja, tapi rasanya pemuda itu sangat familiar di mata Tania.
"Permisi Bu." ucap Tania memberikan diri setelah sesaat ia menutup pintu, pandangan sedikit menunduk tak kala Bu Ani menangkap manik-manik matanya. Berjalan mendekati meja.
"Ini Bu, berkas-berkas deskripsinya. Maaf Nia telat memberikannya kepada Ibu soalnya---"
"Berikan." potong Bu Ani sembari mengerakkan tangannya cepat meminta deskripsi Nia.
"Kenapa kamu diam saja cepat berikan, atau aku tidak akan menerima deskripsi mu lagi." tukas Bu Ani.
"I-Iya, iya Bu. Ini." Nia yang cengar-cengir langsung memberikan berkas-berkas deskripsi yang sudah sadari tadi ia pegang.
"Hem'em... Kebiasaan mu selalu saja tidak pernah berubah, kapan kau akan berubah menyiapkan deskripsi tepat waktu." tutur Bu Ani sembari memeriksa berkas-berkas deskripsi.
"Aggg..." Nia hanya bisa tersenyum.
"Karena aku lagi baik hari ini jadi aku tidak akan memarahimu. Tapi tidak lain kali, kamu mengerti !!" timpal Bu Ani.
"Iya, lain kali Nia berjanji akan menyiapkan tugas deskripsi lebih awal."
__ADS_1
"Hem'em baiklah, kamu boleh pergi sekarang." ujar Bu Ani.
"Terimakasih banyak Bu. Kalau begitu Nia permisi dulu." Nia sedikit menundukkan kepalanya lalu segera memutarkan badannya namun tiba-tiba saja Bu Ani menghentikan niatnya itu.
"Tunggu Nia." ucap Bu Ani.
"Iya, Bu."
"Kebetulan kamu ada di sini. Jadi sekalian Ibu minta tolong, tolong antara kan Devan keruangan mu. Dia adalah anak baru dia juga satu kelas denganmu." tunjuk Bu Ani kearah pemuda yang berdiri di samping Nia. pemuda yang berbicara dengan Bu Ani tadi.
Nia melirik, ia mencoba melihat siapa anak baru yang akan masuk keruang kelasnya.
"Kau..." seketika mata Nia membulat sempurna ia begitu terkejut menatap wajah pemuda itu, pantas saja sangat familiar teryata dia adalah pria yang menabrak Nia tadi di lorong kampus.
"Kau..."
Bersambung.....
Halo semuanya kembali lagi dalam sambungan cerita Gadis Galak Jadi istri Ceo.
Maaf karena kemaren cerita pending sementara, maaf juga karena telah membuat kalian menunggu lama. Jadi di cerita musim ketiga ini ceritanya lebih ke Tania ya, π€
Jangan suudzon π.
Mohon bantuannya like dan vote dan berikan hadiah agar author semakin bersemangat πͺπͺ
__ADS_1