
"Halo..."---
"Apa besok..."---
"Kau ini kenapa memberitau sekarang..."---
"Sibuk apanya, kamu selalu saja membuat aku pusing."---
"Jangan gombal aku sedang marah kepadamu."---
"Sudah jangan hubungi aku lagi."--- Ibu Susi menutup panggilan dengan kasar.
"Hehhh, dia itu benar-benar tidak pernah berubah dari dulu selalu saja membuat aku pusing. apa dia pikir aku ini peri yang bisa sampai di sana dalam waktu sekejap. kepalaku benar-benar pusing memikirkannya."
"Tias..." panggil Ibu Susi, wanita tua itu kini duduk di pinggiran ranjang.
"Iya nyonya..." sahut Tias di ambang pintu.
"Kumpulkan semua orang suruh mereka menunggu ruangan tengah. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." ucap Ibu Susi kini berdiri melangkah mendekati nakas mencoba mengambil gelas yang sudah di penuhi air putih. wanita itu meneguknya pelan-pelan.
"Panggil juga semua para pelayan. suruh mereka juga berkumpul di ruang tengah." sambung Ibu Susi lagi.
"Baik nyonya." Tias langsung mengangguk.
*****
"Duh ponakan Tante yang satu ini gemes banget deh." Tania mencium pelan pipi Alfin entah kenapa ia merasa sangat gemas hari ini apa lagi kini wajah Alfi sudah penuh dengan bedak bayi.
"Alfin apa kamu tau hari ini Tante akan menemanimu seharian penuh. karena hari ini tanggal merah ye... ye... Alfin pasti sangat senang kan bermain sama Tante." Tania tak henti-hentinya mencium pipi Alfin.
"Sudah jangan menciumnya terus-menerus nanti dia bisa nangis." ucap Ratih seraya berjalan mendekati Tania dan Alfin kini tengah berada di teras lantai dua. menikmati sinar matahari pagi karena menurut dokter sinar matahari pagi sangat bagus untuk kulit bayi.
"Aku tidak bisa berhenti menciumnya Kak. lihatlah sendiri anakmu ini sangat imut." Tania semakin mencibir pipi Alfin.
"Hey sudah, nanti anakku bisa nangis." Ratih mengambil alih Alfin.
"Dia tidak akan nangis kak kalau dia bersama Tantenya."
"Apa kamu sesuka itu pada anak kecil...??"
"Tentu aku sangat menyukai anak kecil, karena anak kecil itu bagaikan malaikat."
"Kalau begitu segera mintalah sama Kevin. dia pasti segera memberikannya kepadamu."
Tania langsung melotot kearah Ratih, ia tidak percaya apa yang ia dengar barusan."Bagaimana kakak bisa tau kalau aku pacaran sama kak Kevin."
__ADS_1
"Jangan kamu pikir kakak tidak tau tentang hubungan kalian selama ini. kamu boleh merahasiakan hal itu pada Kakak tapi ikatan batin seorang kakak pada adiknya tidak akan pernah putus."
"A-Aku dan k-kak Kevin."---
"Tidak usah menjelaskannya kakak hanya ingin tau dia mana Kevin menembak mu..??"
"Di sini kak." jawab Tania polos menunjukkan dadanya.
"Astaga Nia. maksud kakak di mana Kevin menyatakan cintanya padamu."
"Hehehehe. kak Kevin menyatakannya sudah satu bulan yang lalu kak, saat itu aku di kasi kejutan sama kak Kevin. dia memberikan aku banyak bunga mawar kak dan kami berdua duduk di atas gedung yang sangat tinggi. hehehehe, aku lupa nama gedung itu kak." jelas Tania malu-malu.
"Apa ?? sudah selama itu kalian pacaran tidak memberitahu kakak."
"Maaf." Tania memegang kedua daun telinganya."Aku takut kakak marah jadi Nia tidak berani memberitahu kakak."
"Huuufff..." Ratih membuah nafas kasar."Nia dengar ya, kakak tau kamu itu sudah besar kamu juga sudah tau membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tapi kamu jangan lupa kalau kamu itu masih di bawah pengawasan kakak. jadi kamu harus menjaga kehormatanmu sebagai perempuan jangan mudah terkena rayuan maut buaya. kakak tidak mau kamu jadi wanita centik yang gatal setiap saat. kamu mengerti." Ratih mengelus lembut kepala Tania.
"Iya kak, Nia janji Nia akan menjaga kehormatan Nia sebagai perempuan. berati Nia boleh kan pacaran sama kak Kevin...??"
"Hem..." Ratih mengangguk pelan.
"Ye..." sorak Nia.
"Nyonya muda, nona Tania." panggil seorang pelayan baru tiba.
"Nyonya dan nona di suruh berkumpul oleh nyonya besar di ruangan tengah." jawab pelayan itu.
"Hem, Ibu memanggil kita." Ratih menatap ke arah Tania.
"Iya kenapa Ibu tiba-tiba memanggil kita ya...??" kini Tania yang bertanya.
"Saya tidak tau nona. semua orang di suruh berkumpul di ruang tengah sekarang. kalau begitu saya permisi nyonya muda, nona." pamit pelayan itu menundukkan kepalanya.
"Ehm, ayo Nia kita pergi. kakak sudah sangat penasaran kenapa Ibu memanggil kita." ajak Ratih seraya mengedong Alfin yang kini sudah tertidur.
Sebelum pergi ke ruangan tengah Ratih terlebih dahul membawa Alfin ke kamarnya, menidurkan bayi mungilnya itu dan juga ada 2 pelayanan yang memang khusus menjaga Alfin ketika Ratih tidak bisa menjaganya.
******
Di ruangan tengah (ruangan khusus berkumpul para keluarga Adiningrat.)
"Pagi Bu." sapa Ratih ketika ia baru tiba dan melihat Ibu Susi sudah duduk santai di sofa.
"Pagi sayang." sapa balik Ibu Susi.
__ADS_1
"Pagi Bu." kini Tania.
"Pagi sayang."
"Kenapa Ibu memanggil kita kemari?? apa ada sesuatu hal yang terjadi??" tanya Ratih kini dirinya sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Ibu Susi.
"Nanti kamu juga akan tau sayang." ucap Ibu Susi lembut."Hem, Alfin di mana kenapa di tidak bersamamu..??"
"Alfin sudah tidur Bu."
"Ya, anak-anak seusianya memang sering tidur. mereka masih belum bisa kita ajak bicara."
"Sepertinya Ibu sudah tidak sabar ya ingin bermain bersama Alfin...??" tanya Tania.
"Ibu..." teriak Ricko dari arah kejauhan.
"Ya ampun anak tengik itu." Ibu Susi menggelengkan kepalanya."sudah punya istri bahkan sudah punya anak masih belum berubah juga."
"Ibu... kenapa Ibu membangunkan ku pagi-pagi begini sih." gerutu Ricko seraya menghamburkan tubuhnya di sofa."Aku sangat mengantuk tadi malam aku habis bergadang kami bergulat hebat. tapi Ibu tidak membiarkan ku tidur dengan nyenyak sedikitpun." ucap Ricko tampa sadar.
Sementara Ratih sontak langsung melototi Ricko dengan tatapan penuh. wanita itu merapatkan giginya.
"Dasar anak tenggik beraninya membuka aib sendiri." tegur Ibu Susi.
"Astaga..." Ricko langsung menatap ke arah Ratih. laki-laki itu langsung mengatupkan kedua telapak tangannya pertanda mohon maaf.
"Kau ini. sudah Ibu mengumpulkan kalian di sini karena ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan."
"Nanti siang kita akan terbang pergi ke India, kita akan menghadiri acara ulang tahun teman Ibu yaitu Amitabh Bachchan. karena besok acaranya akan di mulai jadi kita terbang nanti siang. Ibu ingin kalian bersiap-siap sekarang. kumpulkan semua barang-barang yang ingin kalian bawa. dan nanti siang kalian semua harus siap." jelas Ibu Susi.
"Hah, Ibu apa-apa ini kenapa kita pergi mendadak seperti ini. aku tidak bisa pergi seperti itu Bu." protes Ricko.
"Ibu juga tau. tapi apa yang harus Ibu lakukan, Ibu juga baru di beritahu tadi jadi Ibu tidak bisa berbuat apa-apa." elak Ibu Susi.
"Ricko tidak bisa pergi secepat ini Bu. Ricko tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja."
"Soal itu kamu tidak perlu khawatir, Kevin sudah mengurusnya dari tadi pagi. Ibu sudah memberitahunya dan juga Mawar jadi mereka akan mengurusnya setelah itu mereka juga akan pergi bersama kita."
"Kalau semua pergi siapa yang akan menjaga rumah."
"Kasim Han yang akan menjaga rumah. Ibu memberi tanggung jawab penuh padanya."
"Hah, serah."
"Kalau begitu ayo cepat bersiap-siap kita akan segera berangkat."
__ADS_1
**Bersambung.....
Buat kalian yang ingin tau seputar update novel gadis galak jadi istri CEO kalian bisa masuk grup chat author ok**.