
Semua para tamu nampak bahagia dengan acara pesta yang di adakan mereka terasa sangat menikmati. tak hanya keluarga Adiningrat saja yang berasal dari luar negeri beberapa tamu lainnya juga berasal dari luar negeri, mereka adalah para pembisnis yang merupakan teman Amitabh Bachchan. Prancis, Inggris, Jerman, Australia, Singapura dan juga beberapa negara tetangga lainnya turun juga ikut hadir. Amitabh Bachchan sendiri mengakui kalau ini adalah hari ulangtahunnya yang terakhir, ia tidak akan melakukan perayaan lagi setelah ini maka dari itu ia mengundang semua kalangan bisnisnya.
Ratih hendak mengambil air minum terasa kerongkongannya sangat haus. sudah dari tadi ia berkeliling mencari minuman yang pas di lidahnya namun tak kunjung ia temukan. sadari tadi ia hanya menemukan minuman yang sudah di campur alkohol.
Brukkk....
"Sorry sorry i didn't mean to. " (Maaf maaf saya tidak sengaja.) ucap seorang wanita tak sengaja menabrak Ratih hingga membuat minuman yang ia pegang tertumpah mengenai gaun Ratih.
"It's okay, I know you didn't mean to. " (Tidak apa-apa say tau kok anda tidak sengaja.) tutur Ratih seraya membersihkan tumpahan minum dengan tisu yang ia bawa.
"Once again, I am sorry." (Sekali lagi saya minta maaf.) orang itu menundukkan kepalanya setelah itu berlari pergi.
"Ck, gimana ini." kesal Ratih di karenakan bajunya semakin ternodai. "Excuse me, if I may know where the toilet is?? "( Permisi, kalau saya boleh tau di mana letak toilet.??) tanya Ratih pada seseorang yang lewat di depannya.
"You just go straight in the corner from the left. " (Anda lurus saja nanti di pojok lewat kiri.) jawab orang itu tersenyum ramah pada Ratih.
"Thank you very much." (Terimakasih banyak) Ratih lalu pergi ke arah yang di tunjukkan.
"Vin apa kamu melihat Ratih...??" tanya Ricko panik, sorot matanya melirik ke setiap sudut.
"Tidak bos." jawab Kevin singkat.
"Tadi aku melihat kak Ratih pergi kearah sana. sepertinya kak Ratih mencari minuman." tutur Tania seraya menunjuk ke arah di mana dia melihat Ratih tadi.
"Kenapa kamu tidak mengikutinya, bagaimana kalau dia nanti tersesat. kamu tau sendiri kan kalau kakak kamu itu tidak bisa berbahasa India." sahut Ricko sedikit frustasi.
"Tidak mungkin kak Ratih kan bisa bahasa Inggris." jelas Tania tapi sebelum itu Ricko sudah lebih dulu pergi."Eeeehhhh main pergi aja."
"Ayo kita cari nyonya muda. takutnya nanti tuan muda bisa marah." ajak Kevin.
"Hem."---
"Bagaimana kuliah mu apa sudah selesai...??" tanya Amitabh Bachchan kini duduk di sofa bersama Ibu Susi, Mawar dan juga Tias.
"Sudah Paman, Mawar sekarang lagi masuk praktek di rumah sakit Tante Susi."
"Wah sebentar lagi kamu pasti akan jadi orang hebat." puji Amitabh Bachchan.
"Hehehehe Paman bisa aja."
"Rahul di mana...??" kini Ibu Susi bertanya.
"Entahlah, tadi dia bilang kepadaku kalau dia akan datang terlambat. dia akhir-akhir ini sangat sibuk. padahal aku selalu menasehatinya agar jangan terlalu larut dalam bisnis."
__ADS_1
"Apa dia sudah punya pacar....??"
"Tidak, sudah beberapa tahun belakangan ini dia tidak lagi menjalani hubungan dengan wanita. hem, aku sudah berusaha membujuknya untuk segera menikah tapi tetap tidak mau. dia bilang dia menemukan yang cocok."
"Kalau begitu biar aku saja yang carikan." ucap Ibu Susi semangat. "Kamu tau sendiri kan kalau pilihan aku tidak pernah salah."
Paman Amitabh Bachchan tersenyum, dia cukup bahagia kalau Ibu Susi mau membantunya. kemudian bola matanya berpaling melirik ke arah Mawar yang menatap mereka berdua sadari tadi.
"Mawar..." guma Paman Amitabh Bachchan, Ibu Susi pun kini juga ikut melirik ke arah Mawar.
"Apa kamu sepemikiran dengan mu Susi...??"
"Sepertinya kali ini aku tau pikiranmu Ami."
"Hahahaha... akhirnya aku menemukan calon yang cocok untuk Rahul." ucap Amitabh Bachchan antusias, ia merasa sangat bahagia.
"Mawar. kamu tau kan maksud kami...??" tanya Ibu Susi.
"Hem." Mawar hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu jangan khawatir biar Mawar jadi urusan ku, kamu urus Rahul." ibu Susi mengajukan jempol pertanda sudah beres.
"Baiklah."
Ratih mendengus kesal ia merasa sangat geram karena noda yang menempel di bajunya tak kunjung hilang. karena merasa sangat kesal akhirnya Ratih memutuskan untuk membiarkan saja dari pada nanti makin rumit pikirnya.
Ratih melebarkan langkah ia sangat bergegas untuk menemui Alfin, perasaannya sudah mulai tidak enak sudah dari tadi ia meninggal Alfin bersama para pelayan. tanpa memperhatikan jalan Ratih menerobos banyak orang yang berkerumun mengambil air minum.
"Permisi.... permisi..." ucap Ratih memaksa menerobos.
"Aaaaaa...."
"Kau tidak apa-apa...??" tanya seseorang tak lain adalah Rahul. ia berhasil memegang tangan Ratih. karena Ratih tadi hampir nyaris terjatuh ke lantai.
"Hahhhh.... aku tidak apa-apa terima kasih." Ratih dengan cepat menarik tangannya kembali.
"Hati-hati di sini banyak orang nanti kamu bisa terjatuh."
"Terimakasih, maaf aku harus pergi aku buru-buru." Ratih hendak melangkah meninggalkan Rahul namun Rahul dengan cepat menghentikan langkah Ratih.
"Tunggu Ratih..." ucap Rahul.
"Astaga dia mengetahui namaku, dia juga bisa berbahasa Indonesia."
__ADS_1
"Kau mengenalku...??" tanya Ratih sesaat sesudah ia membalikkan badannya.
"Tentu, mana mungkin aku melupakanmu."
"Dia benar-benar mengenaliku, oh Tuhan."
"Maaf tuan tapi saya tidak mengenali anda."
"Apa kamu masih ingat, saat kamu hampir terjatuh ke lantai saat itu kamu di dorong oleh tuan Fernandez. Papa Katrina." ucap Rahul berusaha membuat Ratih mengingat kejadian waktu itu.
Ratih mengerutkan keningnya sangat dalam, namun sesaat kemudian ia langsung membulatkan matanya penuh."Berarti anda tuan Rahul." Ratih masih merasa tidak percaya ia ingat betul kejadian waktu itu.
"Teryata anda masih mengingat saya." Rahul tersenyum senang.
"Ayo kita duduk dulu ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada anda." sambung Rahul lagi seraya mempersilahkan Ratih untuk duduk di sofa yang tak jau dari mereka.
"Hem, maaf tuan Rahul tapi saya tidak bisa. saya buru-buru saya harus pergi sekarang. anak saya pasti membutuhkan susu sekarang." tolak Ratih, ia sudah sangat khawatir sekarang pada Alfin.
"Tapi nona..." Rahul berusaha mencegah namun Ratih sudah lebih dulu pergi. "Sangat menarik." Rahul tersenyum manis.
"Sayang kamu dari mana saja?? kamu hampir membuat aku gila tau enggak." ucap Ricko berhasil menemukan Ratih sedangkan berjalan ke arahnya.
"A-Aku tadi---" sahut Ratih sedikit kaku ia tidak tau apakah dia harus bercerita atau enggak tentang ia ketemu Rahul tadi.
"Sudah ayo. Alfin sudah dari tadi menangis." ucap Ricko seraya menarik tangan Ratih.
**Bersambung.......
halo semua ini mau ending ya kawan kawan sekalian. hanya beberapa bab lagi.
ok aku cuma mau kasih info kalau aku akan merilis novel baru yang berjudul**
sudah aku terbitkan ya. baru selesai satu bab sekarang lagi di buat bab 2. semoga novel baru ini jauh lebih baik dari pada novel ini ya.
semoga kalian suka dengan novel baru ku ini.
Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat yang terbaik 😊😊😊
. netizen: "Thor kok enggak di lanjutkan yang TERJERAT MENIKAH TUAN TAMPAN Thor kok malah buat yang lain lagi."
Author :"Ok sebenarnya aku minta maaf ya bukan enggk aku lanjutkan tapi ada kendala dalam novel itu. alur ceritanya hilang jadi dengan sangat terpaksa author harus membuat yang baru. 😓😓😓 mohon di maklumi tapi novel itu secepatnya akan aku rilis lagi kok. 💪💪💪💪
__ADS_1
kalau kalia enggk bisa menemukan novelnya kalian bisa klik di profil aku ya. sepertinya lebih mudah 😁😁 untuk menemukan