Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 127


__ADS_3

Di mansion utama.


Suasana rumah dipenuhinya canda tawa yang menggelar seluruh ruangan. Bagaimana tidak kehadiran Alfin membuat rumah terasa hidup kembali. Masa-masa dimana tangisan seorang bayi lama tak terdengar kini memenuhi seluruh penjuru mansion kalau saja anak marmut itu menangis. Iya, itu sebutan baru bagi Alfin yang diberikan oleh buyutnya sendiri Kakek Ami, yang baru beberapa jam yang lalu kembali pulang ke India. Keluguan dan gemasnya Alfin itulah yang membuat Kakek memberikan julukan itu kepada Alfin. Hingga semua orang kini juga memanggilnya dengan sebutan itu.


"Ratih bagaimana, apa Ami sudah tiba di India...??" Tanya Ibu Susi sebelum sesaat wanita tua itu menyeruput teh hangat yang berada di atas meja sembari menikmati keindahan alam sore hari.


"Sepertinya belum Bu, belum ada kabar dari Kakek atau pun Mawar. Kalau kakek sudah tiba di India pasti Mawar akan mengabari ku." jawab Ratih.


"Entah kenapa suasana hatiku selalu memikirkannya, dia sepertinya terlihat sedih saat Nia masih menoleh untuk menikah." Ya, Bukan sekali dua kali keluarga meminta Tania untuk segera menikah dengan Kevin, sosok laki-laki yang ia cintai dan juga disetujui oleh pihak keluarganya. Namun hati Nia menolak akan akan demikian, ia tidak ingin menikah dulu apalagi dirinya sekarang sedang menuntut ilmu perguruan tinggi. Kalau masalah tunggangan Nia tidak mempersalahkannya.


"Padahal kalau di pikir-pikir apa salahnya bukan menikah walaupun dia masih kuliah." sambung Ibu Susi.


"Ratih tidak tau Bu, dia hanya bilang kalau dia baru akan menikah setelah lulus dari universitas. Mungkin dia tidak mau hamil dulu." sahut Ratih mengangkat kan kedua bahunya secara bersamaan.


"Kalau masalah itu kan bisa di tunda. Nia bisa meminum pil KB atau Kevin memakai pengamanan setiap malamnya yang terpenting mereka menikah dulu." tutur cepat ibu Susi membuat Ratih yang mendengar itu merasa canggung sendiri apalagi saat mengingat kejadian di malam pertamanya. wajahnya merah merona seketika mengingat jamu yang diberikan Ibu Susi yang begitu top cer.


"Ohnya dimana Alfin dari tadi Ibu tidak melihatnya." tanya lagi Ibu Susi melirik ke kenan dan ke kiri tidak melihat cucunya sadari tadi.


"Sama Kasim Han Bu. Akhir-akhir ini dia sangat nakal selalu saja meminta Kasim Han untuk menjadi kuda."


"Dia sama persis seperti ayah dulu, anak sama ayah sama-sama nakal suka sekali menyusahkan orang lain." Ibu Susi tertawa kecil membayangkan kejadian masa lalu Ricko yang begitu manja dengan ibunya yang kadang-kadang membuat Ibu Susi geram setegas mati.

__ADS_1


*****


"Nia..." suara panggilan yang begitu keras nam lantang membuat Tania yang baru saja melayangkan kakinya masuk kedalam ruangan kelas terkesiap. Dilihatnya Vani dengan penuh senyuman menghampiri, teman yang sudah tiba tahun belakang ini selalu saja menemaninya dan menjadi sahabat terbaik yang pernah ada.


Vani mencibir pelan pipi Nia dengan begitu gemas. "Kenapa kamu lama sekali sih, aku udah nungguin kamu dari tadi tau enggak." celutus Vani.


"Hem'em, aku tadi keruangan Bu Ani menyerahkan berkas-berkas deskripsi." sahut Nia dengan wajah sedikit ditekuk.


"Bagaimana?? alasan apalagi yang kamu buat agar Bu Ani percaya...??"


"Gak ada, dia langsung menerima deskripsi ku tanpa bertanya ataupun marah-marah. Aku rasa suasana hatinya sedang baik--." tukas Nia menceritakan semua kejadian tadi sewaktu di ruangan Bu Ani. Ia menjelaskan semua secara detail kepada sahabatnya itu, namun beberapa saat kemudian setelah menyadari kalau ternyata Vani sedang terfokus pada sesuatu tidak mendengarkan apa yang Nia bicara lagi seketika itu juga Nia melirik, mengikuti arah lirikan Vani.


"Devan." mata Nia sontak membulat menatap tak percaya, ternyata Vani sedang terpana dengan ketampanan Devan. Laki-laki yang berdiri tepat dibelakangnya. Nia heran bukanya masuk laki-laki itu malah berdiri mematung menatap dirinya tanpa berbicara sepatah kata.


Semua pasang mata langsung terpana ketika manik-manik mata mereka semua menatap laki-laki jangkung bertubuh atletis itu memasuki kelas mereka, tidak ada satupun dari mereka tidak mangap melihat laki-laki blesteran surga sedang berjalan didepan mata mereka semua. Termasuk Vani yang sadari tidak henti-hentinya menatap kagum kearah Devan.


"Kenapa kamu disini." gerutu Nia sontak terkejut terkesiap saat melihat Devan duduk di bangku yang bersebelahan dengannya.


Devan tidak menjawab dan juga tidak memperdulikan siapapun termasuk orang-orang yang masih terpana karena ketampanannya bak pemuda Yunani. Dia malah lebih memilih menatap kearah Nia dengan tatapan cool nya.


"Nia apa dia pacar barumu...??" tanya Vani sekilas melirik kearah Nia.

__ADS_1


"Vani." Nia menatap tak percaya. "Aku kenal dia saja tidak dan sekarang kamu bilang dia pacarku." Nia membulat penuh matanya, pertanyaan macam apa ini sungguh diluar dugaan.


"Nia sayang kenapa kamu tidak mengakuinya didepan sahabatmu kalau kita pacaran." ucap Devan tiba-tiba yang membuat mata Nia seakan ingin jatuh ketanah sangking terkejutnya.


"Apa..."


"Kenalkan aku Devan anak murid baru, pacar Nia, temanmu." tutur Devan memperkenalkan dirinya.


"Nia. Aaaaaaa...." Vani rasanya ingin pingsan mendengarnya, baru kali ini ia melihat pacar Tania begitu tampan. Walau Vani tau kalau sebenarnya Tania sudah mempunyai tunangan.


"Devan." Nia dengan kasar menarik pergelangan tangan Devan. Membawa laki-laki itu ke lorong kampus.


"Apa kau sudah tidak waras. Aku mengenal kamu saja tidak dan bisa-bisanya kamu mengatakan kalau aku ini pacarmu didepan semua orang." ujar Nia menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak habis pikir.


"Memangnya kenapa?? Apa kamu tidak suka aku mengatakan itu ataupun kamu mau aku mengakui kalau kamu itu adalah calon istriku." sahut Devan.


"Kau." Nia merapatkan giginya.


"Dasar laki-laki idiot" ketus Nia merasa sangat geram. Untuk saja ini masih di kampus kalau di luar kampus mungkin Nia akan mencakar laki-laki dengan sadis sangking geramnya.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf telat update.


__ADS_2