
Pagi hari, Dimana matahari sudah menampakkan dirinya menyinari bumi yang sempat gelap karena perubahan siklus tata Surya. Yang mana semua orang sudah kembali bekerja dalam pekerjaan mereka masing-masing. Memenuhi padatnya jalan raya.
Di sisi lain terlihat seorang wanita yang berkulit putih bak Dewi Yunani sedang menganyun kan langkah kaki mungilnya memasuki area kampus.
Setelah sesaat ia di antar kan oleh supir pribadi Ibunya, Nyonya Susi Adiningrat. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Nia, seorang gadi cantik berdarah India.
Nia terus saja berjalan melewati gerbang kampus tanpa menoleh ke kenan maupun ke kiri, pandangannya tertuju lurus kedepan.
Hingga beberapa saat tanpa dia sadari setiba hendak melewati parkiran tangan Nia sudah di tarik oleh seseorang, membawa Nia arah belakang mobil yang berjejer rapi.
Nia sedikit tersentak tangannya sudah digenggam kasar terpaksa harus menuntun kemanan orang yang menariknya pergi.
Hingga untuk beberapa saat orang ini berdiri tepat berada di depannya Nia, menatap Nia dengan tatapan penyelidik.
"Apa benar anda Nona Tania Kapoor, anak dari nyonya Susi Adiningrat." ucap orang itu menatap mengintimidasi kearah Nia yang masih terkesiap. Kedua tanga Nia kini sepenuhnya di genggaman oleh orang itu.
Untuk sesaat Nia tidak menjawab, kedua biji bola matanya menatap sosok wanita dengan perutnya sudah sangat besar layaknya seorang wanita mau lahiran. Kedua mata Nia masih terkesiap, bibirnya masih mengatup tidak mengatakan apapun.
Orang yang berdiri didepannya tak lain dan tak bukan adalah seorang wanita hamil.
"Nona, tolong anda jawab pertanyaan saya. Apa benar Anda Nona Tania Kapoor?" tanyanya lagi karena tidak mendapat jawaban dari Nia.
"I-Iya, saya Tania Kapoor. T-Tapi bagaimana kakak bisa tau nama saya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya...?" Sebelah alis Nia naik dengan sendirinya. Ini pertama kalinya Nia bertemu dengan wanita hamil.
"Ahhhhh, syukurlah... aku akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. maaf sebelumnya saya pasti sudah membuat anda terkejut karena tiba-tiba saja aku menarik tangan tangan anda Nona. Tapi ini Nona, saya terpaksa melakukan ini." nafas wanita itu sedikit terengah-engah mungkin karena efek hamil.
"Maksud Kaka apa ya. Kakak kenapa bisa terpaksa menarik tanga Nia." tanya Nia keningnya sudah mulai berkerut.
"Nona." sebutir air sebening kristal terjatuh begitu saja dari pelipis wanita itu, bendungan air mata yang tidak dapat berbendung lagi.
Nia yang melihat itu tidak tau harus melakukan apa, kedua tangannya masih di genggaman erat tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kak, k-Kenapa kakak menangis...?"
"Tolong saya Nona, tolong saya." ucap wanita itu sembari menahan isak tangisnya.
__ADS_1
"Iya, Nia akan tolongin kakak. T-Tapi kakak jangan nangis-nangis seperti ini nanti dikira orang Nia ngapain kakak lagi." tutur Nia sudah mulai panik kedua biji bola matanya menatap kearah kana dan ke kiri melihat bahwa tidak ada orang lain yang melihat kejadian ini.
"Nona, saya mohon. Hanya anda yang bisa membantu saya, tolong Nona."
"Iya-iya, baiklah. Saya akan berusaha membantu Kakak tapi kakak tidak boleh menagis lagi." ujar Nia.
"Janji."
Huuufffff Nia menghela nafas berat, dari pada nanti wanita hamil itu akan nangis lagi lebih baik ia menuruti saja. Agar dia bisa cepat-cepat pergi.
Wanita itupun tersenyum senang. Kedua bibirnya langsung mengembang dengan sempurna. Bagi dia hanya Nia yang bisa ia percaya sekarang, walau dia belum tau Nia itu bagaimana orangnya.
Tapi menurut informasi yang ia dapatkan kalau Nia adalah wanita yang baik-baik, dan suka menonton sesama itu lah yang membuat wanita itu mempercayai Nia.
"Sebelum itu kenalkan, nama saya Fina, Fina Laksya."
"Nona Nia, saya bersumpah suatu hari nanti saya akan membalas semua kebaikan yang Nona lakukan terhadap saya. Saya berjanji." sambung Fina lagi.
"Iya kak, tapi apa yang bisa saya bantu...??" tanya Nia sudah cukup dia membuang-buang waktu apalagi sebentar lagi Bu Ani akan segera masuk kelas.
"Suami Kakak?" kening Nia berkerut dalam dan bahkan lebih dalam dari yang sebelumnya.
"Ya, Devan. Mahasiswi baru yang satu kelas dengan anda Nona, dia suami saya." jelas Fina.
"D-Devan" Nia merasa tak percaya permintaan macam apa ini, dia harus menjaga suami orang. yang lebih parahnya lagi Devan adalah orang yang sangat ia jauhi sekarang.
"Ya, Nona. Saya mohon tolong jagalah suami saya dari Clara. Dia wanita sangat licik, dia bisa melakukan apapun demi mendapatkan suami saya. Saya sangat-sangat mohon kepada anda Nona tolong anda selalu berada di sisi suami saya. Saya takut nantinya dia akan menjebak suami saya." kini tangan Fira mengatup menatap penuh mohon kepada Nia.
"Tapi---"
"Saya mohon Nona, demi keutuhan keluarga saya. saya mohon sekali, tolong jauhkan suami saya dari wanita licik itu."
Ahhhhh Nia memejamkan kedua matanya, perasaannya tak karuan. Bagaimana bisa dia harus menerima permintaan semacam itu. Permintaan yang sangat sulit, kalau sampai Kevin tau Nia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
****
__ADS_1
Di kelas.
Nia duduk termenung dengan pandangan meredup kebawah, perkataannya Fira masih menghantui pikirannya. Sesekali matanya yang coklat menatap kearah Devan seperti sibuk mengerjakan tugas yang entah apa itu.
Karena setahunya Bu Ani sadari kemaren belum memberikan tugas apapun.
Sementara semua orang menatap terpesona kearah Devan terlihat sibuk dalam pekerjaannya. Termasuk Vani, sahabat dekat Nia.
Wanita itu mengedip sebelah matanya saat pandangannya bertemu dengan Nia.
"Suuttttt." goda Vani.
"Apa?" ketus Nia.
"Lo udah putus ya dari kak Kevin...?" tanya Vani yang membuat kedua bola mata Nia membulat sempurna.
"Kamu ngomong apa sih." tukas Nia.
"Buktinya Lo udah punya tu... tu..." sembari melirik kearah Devan.
"Vani."
"Selamat pagi semuanya." suara Bu Ani yang tiba-tiba datang. Yang langsung saja membuat mereka sontak berdiri menyambut kedatangan sang dosen.
"Selamat pagi Bu." jawab Nia dan yang lainnya secara bersamaan.
"Ok, sebelum kita pembahasan hari ini. Ibu mau mengenali mahasiswa baru, Clara silahkan masuk." perintah Bu Ani.
Wanita yang merasa namanya disebutkan pun memberanikan diri untuk melangkah masuk kelas, diikuti senyumannya yang mengembang.
Gadis cantik berwajah Eropa dan body bagaikan gitar spanyol. Layaknya model papan atas dunia. Berhasil menghipnotis semua pasang mata kecuali Devan, pria itu segera memalingkan wajahnya.
Clara... Clara, bukankah nama itu nama yang di sebutkan oleh wanita hamil itu.
Bersambung....
__ADS_1
Ayo rate dan komen end Vote