Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 103


__ADS_3

Tok... Tok.. Tok... (Suara ketukan pintu)


Ricko memalingkan wajahnya tak kala mendengar suara ketukan pintu, ia segera bangkit dari ranjang bergegas membukakan pintu.


"Ibu..." Guma Ricko ketika ia telah membukakan pintu dan terlihat Ibu Susi berdiri mematung di sana.


"Bagaimana keadaan Ratih...??" tanya Ibu Susi to the point.


"Kita bicarakan di dalam saja Bu." ucap Ricko seraya mempersilahkan Ibunya masuk.


"Tidak Ricko, Ibu tidak bisa masuk sembarangan tampa memberitahukan dokter terlebih dahulu. Ibu tidak mau membahayakan keadaan Ratih."


"Ibu..." Ricko membuang kan nafas gusar."Ibu percayalah masuk saja, nanti Ricko akan menjelaskan semuanya tapi sekarang ibu harus masuk dulu." Jelas Ricko seraya tangannya menarik Ibu Susi pelan.


Mereka pun memasuki ruangan Ratih. dua orang itu kini duduk di sofa berwarna putih, sofa yang sangat besar dan empuk. Ricko pun menceritakan semuanya dari awal pertama kali ia melihat pergerakan tangan Ratih sampai semua penjelasan yang di katakan dokter. laki-laki itu dengan teliti menceritakan semuanya kenapa Ibu Susi tak terlewat sedikitpun.


Terlihat dari ujung mata Ibu Susi sebuah air mata yang sebening kristal menetes indah di sana. bukan tangisan sedih melainkan tangisan bahagia, wanita tua itu memejamkan matanya singkat. perlahan-lahan ia membuka kembali matanya tampa aba-aba wanita tua itu Langsung menghamburkan pelukannya pada Ricko. pelukan yang hangat pelukan seorang Ibu kepada anaknya.


"Ibu sangat bahagia Ricko, Ibu sangat bahagia." wanita tua itu meneteskan semua air matanya hingga membuat baju Ricko menjadi basah.


Ricko pun mengelus lembut punggung Ibunya itu mencoba menenangkan."Ricko juga Bu, Ricko juga sangat bahagia ini adalah kebahagiaan yang belum pernah Ricko rasakan sebelumnya Bu." ucap Ricko terbawa suasana.


Tampa mereka sadari sepasang bola mata sadari tadi terus menatap mereka. terukir senyuman kecil di bibir orang itu."Terimakasih Tuhan engkau telah mengirimkan suami yang sangat baik kepadaku, suami yang sangat sayang kepadaku. engkau juga mengirimkan Ibu mertua yang sangat mencintaiku, menyayangiku dan bahkan dia sudah menganggap aku sudah seperti putri kandungnya sendiri." membatin Ratih juga ikut menetes sebuah air mata bahagia.


"Sayang kamu sudah bangun." ucap Ricko terkejut ketika melihat Ratih kini sudah duduk menyender di dinding. sontak dengan cepat Ratih menghapuskan air mata bahagianya itu.

__ADS_1


"Mas Ricko, Ibu." guma Ratih.


"Sayang..." Ibu Susi dengan cepat bangun dari sofa wanita tua itu langsung memeluk Ratih. memeluk erat menantunya itu."Sayang bagaimana keadaanmu apa sudah membaik...??" tanya Ibu Susi setelah sesaat ia merenggangkan pelukannya.


"Hem, Ratih baik-baik saja kok Bu."


"Kamu tau Ibu sangat senang akhirnya kamu sadar juga, Ibu sangat takut kehilanganmu sayang."


"Ratih enggak akan kemana-mana kok Bu Ratih akan selalu bersama Ibu." Ratih memeluk kembali Ibu Susi.


"Egghem..." Ricko berdehem dengan tangannya memegang tenggorokan seakan mengaruk gatal.


"Ricko..." guma Ibu Susi."Kalau kamu ingin memeluk Ratih bilang saja tidak pernah berdehem segalak. kamu pikir Ibu tidak tau kalau kamu juga sangat merindukan pelukan istrimu kan." ketus Ibu Susi seraya melangkah menjauh dari Ratih.


Sementara Ricko menampakkan gigi putihnya itu, lalu laki-laki itu segera melangkah mendekati Ratih.


"Hem." Ratih memalingkan wajahnya."Siapa bilang aku merindukanmu." sahut Ratih yang juga sama gengsinya.


"Apa ?? kau tidak merindukanku...??" tanya Ricko tampang tak percaya.


"Tidak, aku sama sekali tidak merindukanmu." jelas Ratih bola matanya melirik ke arah lain.


"Kau ini, aku sudah tengah mati memikirkan mu. aku sangat takut kehilanganmu. aku juga selalu di sini bersamamu jangankan keluar pergi ke pintu saja aku tidak pernah dan kau malah bilang kalau kau tidak merindukanku sama sekali."


"Hey, kenapa kalian malah bertengkar." ucap Ibu Susi menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ibu dengar sendiri kan menantu mu ini sama sekali tidak merindukan suaminya." Ricko mengadukan pada Ibu Susi.


"Sudah... sudah... tidak tidak perlu ribut segalak. kamu juga Ricko sudah tau kamu sangat merindukan istrimu kepada tidak langsung memeluknya malah gengsi."


"Ibu..." rengek Ricko.


Ratih tersenyum senang melihat Ricko di marahin Ibu Susi. entah kenapa wanita itu sangat senang melihat suaminya seperti itu. tampa sadar tangan Ratih memegang perutnya mengelus lembut di sana. ia tidak menyadari kalau perutnya kini sudah mengecil.


"Ratih kau baik-baik saja...??" tanya Ibu Susi setelah sesaat ia melihat Ratih tak henti-hentinya mengelus perutnya itu.


"Ratih tidak apa-apa kok Bu." jawab Ratih lalu bola matanya melirik ke bawah sontak wanita itu langsung terkejut."Astaga..." dengan cepat Ratih menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya itu. mata Ratih langsung membulat penuh ketika melihat perutnya sudah mengecil.


"Bayi ku." Ratih hendak membuka pakaiannya namun tangan Ricko mencega dengan cepat.


"Bayi kita sudah aman sayang dia sedang berada di mansion. kamu tidak perlu khawatir." ujar Ricko.


"Apa?? di mansion...??" tanya Ratih bingung."Tapi aku belum melahirkannya bagaimana bisa dia berada di rumah."


"Kamu sih kebanyakan tidur makanya sampai tidak sadar kalau kamu sudah melahirkan." ucap Ricko.


"Ibu sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ratih Bu, kenapa Ratih tidak mengingat apapun, terakhir Ratih yang Ratih tau Ratih mengalami pendarahan.---"


"Sayang tenanglah Ibu akan menceritakan semuanya tapi kamu harus tenang dulu ya, kamu tidak boleh seperti itu nanti perutmu bisa sakit." ucap Ibu Susi berusaha membuat Ratih tenang, setelah Ratih tenang barulah Ibu Susi menceritakan semua apa yang telah terjadi.


**Bersambung......

__ADS_1


Maaf baru update**...


__ADS_2