
"Akhirnya aku bisa tidur juga." Ricko menghamburkan tubuhnya di atas ranjang."Hahhhh... sungguh melelahkan." mata Ricko terpejam singkat.
"Mas... bangun jangan tidur dulu. aku mau ke kamar mandi tolong jagain Alfin sebentar." ucap Ratih setelah ia menaruh Alfin di atas ranjang bersebelahan dengan Ricko.
"Sayang aku sangat lelah." keluh Ricko dengan suara di buat-buat.
"Mas aku itu mau buang air besar, aku tidak bisa menahannya lagi tolong jaga Alfin." Ratih langsung pergi tanpa mendengar alasan Ricko lagi.
"Oooeeekkk... oooeeekkk... oooeeekkk..." suara tangisan Alfin begitu keras.
"Oooo sayang, cup... cup... cup... jangan nangis ya Mami lagi berak." ucap Ricko pada Alfin seolah-olah Afin tau apa yang dia bicarakan. lalu ia mencoba menenangkan Afin dengan cara mengedong namun sepertinya usahanya tidak berhasil karena sekarang Alfin semakin menangis.
"Oooeeekkk... oooeeekkk... oooeeekkk..."
"Sayang diam lah, nanti Dedy akan membeli mobil yang banyak. cup... cup... cup..." rayu Ricko kini berjalan mondar-mandir.
"Sayang diam lah, nanti Dedy bisa di marahin sama Mami kalau kamu tidak diam. kamu tau sendiri kan kalau Mami kamu itu sangat galak." cetus Ricko penuh mohon.
"Berikan kepadaku." ucap Ratih tiba-tiba di belakang Ricko seraya mengambil alih Alfin. lalu Ratih duduk di tepi ranjang mencoba membukakan kancing bajunya. tangisan Alfin pun seketika langsung diam ketika Ratih sudah menyesui Alfin.
"Tidak becus." sindir Ratih.
"Apa??. enak saja siapa yang kamu bilang tidak becus??"
"Siapa lagi kalau bukan kamu, jagain anak saja tidak bisa. pakek sok-sokan lagi mau punya anak banyak. satu saja tidak bisa apalagi banyak." ketus Ratih.
"Enak saja, aku bukan tidak bisa menjagain Alfin cuma Alfin aja tu enggak mau diem. dia katanya mau tes pita suara makanya dia nangis kayek gitu." sahut Ricko membela diri.
"Memang Alfin penyanyi pakek tes pita suara segalak. alasan aja."
"Ok... ok aku ngaku. iya aku emang enggak bisa jagain Alfin tapi aku lebih jago dari pada kamu."
"Jago, memangnya mas bisa apa heh...??"
"Soal ranjang." bisik Ricko di telinga Ratih."Sekarang bagaimana aku lebih jago bukan." Ricko menaik turun alisnya.
"Kalau itu."----
"Tu kan kamu saja tidak bisa berkata-kata lagi. soal anak kamu memang sangat ahli tapi soal main kuda kudaan aku lebih ahli. aku bahkan bisa membuat kamu tidak berjalan seharian." Ricko mengembangkan senyumnya.
"Mana ada, e-enak saja. aku tidak pernah ya tidak bisa jalan." elak Ratih.
"Jadi kamu mau nantagin aku Hem, mau coba. aku bisa membuat kamu tidak bisa berjalan seharian penuh." ucap Ricko seraya berjalan mendekati Ratih.
"Hey.. hey... mau ngapain...??"
"Mau berduel sama kamu, kita lihat siapa yang paling kuat di antara kita."
"Kamu tidak ingat apa yang di bilang Ibu tadi."
"Janga bawa-bawa nama Ibu bilang saja kalau kamu takut kalah sama aku kan...??"
"S-Siapa yang takut aku tidak takut." Ratih sedikit terbata-bata. ia bisa membayangkan kalau dia pasti tidak akan di kasi ampun oleh Ricko nantinya.
__ADS_1
"Alfi, Alfin sayang kamu mau makan nak ya, kamu lapar ya. yok kita cari makan." ucap Ratih pura-pura seraya menutupi wajah Alfin pada Ricko agar Ricko tidak tau kalau sebenarnya Alfin sudah tidur.
"Mau kemana kamu...??"
"Aku mau mencarikan makanan untuk Alfi." kini Ratih sudah berada di ambang pintu. wanita itu dengan cepat menutup pintu kembali.
"Huuufff..." Ratih membuang nafas lega."Akhirnya lolos juga." guma Ratih lalu ia melirik ke kana dan ke kiri."Hem, kenapa tidak ada orang satupun. he... bagaimana ini, kalau aku kembali pasti mas Ricko tidak akan mengampuni ku. kalau aku pergi nanti aku bicara apa sama mereka aku kan enggak bisa bahasan India." keluh Ratih, ia memejamkan singkat matanya mencoba mencari solusi.
"Ayo Ratih keluarkan IQ mu. pikir... pikir... pasti ada jalan keluarnya." guma Ratih pada dirinya sendiri. tampa ia sadari kalau Ricko sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kamu lagi ngapain sayang...??" tanya Ricko.
"Hahhh..." Ratih terperanjat ke depan. ia sedikit terkejut ketika mendengar suara Ricko.
"Mas Ricko kamu kenapa ngagetin aku sih." gerutu Ratih.
"siapa yang ngagetin kamu. aku itu tanya kamu lagi baca apa, kayek ya serius amat. jangan bilang kalau kamu enggak tau mau kemana lagi, karena kamu enggak bisa bahasa India kan, ngaku." tebak Ricko seraya menunjuk ke arah Ratih.
"E-Enak aja, aku itu bisa ya bahasa India. cuma tadi aku itu."--- "Olahraga ya olahraga." Ratih berpura-pura mengerakkan kedua kakinya.
"Hey kamu kemarin..." panggil Ricko. kala itu ada seseorang pelayan khusus yang merawat Alfi melewati Ratih dan juga Ricko.
"Iya tuan muda." sahut pelayan itu.
"Bawa Alfin bersamamu." perintah Ricko.
"Mas T-Tapi kan."--- belum sempat Ratih berbicara Ricko lebih dulu mengambil Alfin dari pangkuan Ratih dan menyerahkan pada pelayan.
"Baik tuan muda." pelayan itu menundukkan kepalanya lalu langsung pergi.
"Ayo ikut aku, aku mau lihat sepintar apakah istriku berbicara bahasa India." ajak Ricko seraya berjalan menarik tangan Ratih.
*****
Cafe.
"Hey kau kemari...??" panggil Ricko pada salah satu pelayan cafe dengan menggunakan bahasa India.
"Aduh bagaimana ini kalau sampai mas Ricko tau aku enggak bisa bahasa India mas Ricko pasti akan menertawakanku."
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu...??" tanya pelayan itu dalam bahasa India.
"Istriku ingin memesan makanan." jawab Ricko."Ayo sayang pesan sekarang. kamu bisa bilang makana mana yang ingin kamu mau."
"Mati aku ini apa lagi bacanya."
"Ah ya. aku pesan yang ini." tunjuk Ratih pada salah satu menu makanan.
"Sayang jangan begitu, kamu sebutkan saja itu makanannya apa." tutur Ricko.
Sejenak Ratih terdiam. wanita itu tengah berusaha memikirkan apa yang harus ia katakan."Tuhan bantulah aku."
"Chori chori chupke cupke." ucap Ratih asal, ia hanya teringat itu ketika ia dulu menonton film India.
__ADS_1
"Bhahahaha...." sontak tawa Ricko langsung pecah ketika mendengar Ratih berbicara.
"Awas kamu mas. aku pasti akan membalasmu."
Ricko semakin keras tertawa, ia merasa sangat senang sekarang bisa mengerjai Ratih.
Wajah Ratih langsung berubah masam ia merasa malu tak kala Ricko tidak mengehentikan tawanya sama sekali. hal itu membuat Ratih geram penuh kesal ia segera bangkit dari sofa lalu pergi meninggalkan Ricko tampa berbicara sedikit pun.
"Tuan nyonya sudah pergi." ucap pelayan mencoba memberi tau Ricko kalau Ratih sudah pergi karena Ricko sadari tadi asyik dengan tawanya.
"Astaga Ratih sayang. kenapa kamu tidak bilang dari tadi." gerutu Ricko langsung berlari mengejar Ratih kala itu sudah sudah sedikit jauh dari Ricko.
"Sayang tunggu dengerin aku dulu." Ricko berusaha mencegah Ratih pergi. namun Ratih tidak menghiraukan sama sekali.
"Sayang." kini Ricko berhasil memegang tangan Ratih.
"Apa?? belum puas kamu menertawakan aku hahhh. belum puas kamu membuat aku malu di hadapan semua orang hahhh.kamu masih ingin lagi." teriak Ratih berusaha menenangkan dirinya hampir menagih.
Sontak Ricko terdiam tidak berbicara apa-apa. sebenarnya hatinya sakit tak kala melihat Ratih seperti ini namun ia tidak bisa berbuat apa-apa kerena ini semua rencananya ingin memberi kejutan pada Ratih. tanpa menunggu lagi Ricko segera menanamkan tubuh Ratih dalam pelukannya.
"Maaf aku, aku tidak bermaksud seperti itu." Ricko berkali-kali mengecup kepala Ratih.
"Kamu jahat mas kamu jahat." akhirnya tangisan Ratih pun pecah.
"Aku minta maaf. aku janji kalau aku tidak akan mengulanginya lagi." bujuk Ricko kini sudah merenggangkan pelukannya.
"Ayo sayang kita makan, kamu pasti sangat lapar kan." ajak Ricko.
"Enggak mau"
"Kok gitu sih, ayo dong jangan ngambek lagi. aku minta maaf jangan nangis lagi ya." Ricko mengusap pipi Ratih lembut.
"Aku malu."
"Kenapa harus malu kan ada aku disini. lagian disana enggak ada siapapun kok cuma kita berdua. ya yok." ajak Ricko lagi.
"Beneran."
"Iya, beneran. emang kamu enggak merhatiin kalau di sana tadi cuma ada kita berdua." tutur Ricko sementara Ratih menggelengkan kepalanya.
"Udah, jangan nangis lagi. yok."
*****
Cafe
"Mas ini kita di mana kok gelap sih...??" tanya Ratih sudah ketakutan karena melihat setiap sudut nampak sangat gelap tidak bisa melihat apa-apa.
"Mas... mas kamu di mana...??" ucap Ratih panik seraya meraba-raba.
Dan tiba-tiba sebuah cahaya warna merah melingkari Ratih. cahaya merah itupun menelusuri dinding yang sudah tertulis Selama hari anniversary sayang ku. lalu cahaya lampu merah itu berubah menjadi bunga mawar yang sangat besar dan berkilau.
Bersambung......
__ADS_1