
"Sayang kamu kenapa??" tanya Ricko seraya menggosok punggung Ratih, namun Ratih tidak tidak menjawab.
"Hueeekkk...."
"Hueeekkk...."
"Hueeekkk..."
Ratih terus saja membuang semua isi perutnya. sementara Ricko sudah uring-uringan sendiri Ricko tidak tahu apa yang harus ia lakukan tapi setelah itu laki laki itu langsung teringat akan sesuatu.
"Mawar." guma Ricko langsung tangannya dengan cepat meraih ponsel yang di saku kemejanya. tampa pikir panjang Ricko langsung mencari nama mawar di layar
ponselnya.
"Halo." ucap Mawar ketika panggilan terhubung.
"Cepat kemari." perintah Ricko laki laki itu benar benar frustasi sekarang. bagaimana tidak sadari tadi dia terus saja melihat istrinya muntah muntah.
"Kakak di mana.??" tanya mawar.
"Cepat kemari aku tidak punya banyak waktu." sahut Ricko cepat langsung mematikan ponselnya.
"Ada apa...??" Kevin bertanya.
"Di mana kak Ricko cepat katakan, ini sangat darurat." Mawar kini beranjak dari tempat duduknya.
"Darurat kenapa?? ada apa?? katakan yang jelas." ucap Kevin seraya juga ikut bangun dari kursi.
"Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas aku harus menemui kak Ricko sekarang."
"Baiklah, ikuti aku." ucap Kevin.
"Tunggu, aku ikut." tutur Tania.
"Ayo cepat kita sudah tidak punya banyak waktu." gerutu Mawar kini berlari mengikuti Kevin.
__ADS_1
"Sayang bicaralah jangan membuat aku takut." tutur Ricko tampa sadar setetes air mata keluar begitu saja dari kelopak matanya. laki laki itu sudah khawatir setengah mati.
"Air." guma Ratih pelan namun cukup jelas di telinga Ricko.
"Tunggu di sini aku akan mengambil kan air." Ricko berlari mengambil air minumannya yang tergeletak di atas meja makan tadi.
"Bos." ucap seseorang mengejutkan Ricko yang tak lain adalah Kevin.
"Kau, di mana Mawar...??" tanya Ricko seraya matanya melirik ke arah belakang Kevin.
"Aku di sini." sahut Mawar seraya berlari menghampiri Ricko.
"Kenapa kamu lama sekali." gerutu Ricko.
"Aku tadi--" Mawar hendak menyaut namun kata katanya sudah di potong oleh Ratih tiba tiba datang.
"Kalian kenapa bisa ada di sini...??" tanya Ratih heran kerena sadari tadi dia hanya berdua dengan Ricko di sini.
"Sayang kamu sudah tidak apa apa..??" tanya Ricko cepat, laki laki hendak memegang tangan istrinya namun dengan cepat Ratih menepisnya.
"Hueeekkk...."
"Hueeekkk...."
"Hueeekkk...." Ratih kembali memuntahkan isi perutnya.
"Kak kakak kenapa.??" tanya Tania seraya tanganya memegang erat tangan Ratih, ya, Ratih hampir saja terjatuh.
"Sepertinya kak Ratih masuk angin, ayo cepat kita bawa keruang peristirahatan." guma Mawar juga ikut memegang tangan Ratih satunya lagi.
*****
Kini semua orang berada di ruangan khusus, ruangan yang memang di sediakan khusus untuk peristirahatan Ratih dan Ricko.
"Bagaimana keadaan istriku...??" tanya Ricko setelah sesaat ia melihat Mawar menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Suttt... jangan keras keras nanti kakak bisa membangunkan kak Ratih." sahut Mawar cepat seraya mengisyaratkan dengan jari telunjuk.
"Aku mempunyai dua kabar, kabar yang pertama adalah kabar buruk dan kabar yang kedua adalah kabar baik." ucap Mawar antusias. wanita itu tak henti hentinya mengembangkan senyumannya.
"Kabar buruk apa, apa Ratih ku keracunan.??" tanya Ricko benar benar di buat takut oleh Mawar.
"Tidak, kak Ratih tidak keracunan malah dia sangat sehat." jawab Mawar.
"Lalu apa katakan dengan cepat jangan membuatku bertambah stres." gerutu Ricko dengan kesal.
"Baiklah, kalian harus siap siap aku akan mengatakan kabar buruk terlebih dahulu." tutur Mawar tak henti hentinya mengembangkan senyumannya.
Sementara semua orang diam membisu menunggu apa yang akan di katakan oleh Mawar tepi, berbeda dengan Ricko laki laki itu sudah memegang dadanya siap menerima kabar buruk tentang istrinya.
"Kabar buruknya adalah, sebentar lagi dompet kak Ricko akan bolong." sambung Mawar lagi berhasil membuat semua orang menaikan alisnya merasa bingung akan apa yang di katakan Mawar barusan.
"Dompet bolong, apa urusannya dengan kak Ratih.??" tanya Tania belum bisa mencerna apa yang di katakan Mawar.
"Iya karena sebentar lagi kita akan punya ponakan." sahut Mawar antusias seraya tangannya mencibir pipi Tania.
"Ponakan." guma Ricko, memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Iya sebentar lagi kakak Ricko akan punya baby." sahut Mawar.
Brukkk.... Ricko memukul bahu Mawar.
"Kabar buruk mu hampir membuatku jantungan tau." gerutu Ricko laki laki itu benar benar kesel sekarang.
"Aaaauuuu.... sakit kak." rengek Mawar.
"Bos, selamat." ucap Kevin seraya menjulurkan tangannya.
Ricko segera menjabat tangan Kevin."Makasih, aku tidak menyangka Vin sebentar aku akan menjadi seorang ayah." tutur Ricko seraya memeluk singkat Kevin, walupun Kevin cuma asistennya tapi Ricko sudah menganggap Kevin seperti adiknya sendiri.
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1