
"Apa, kau bilang apa...??" Ricko mencengkram erat kerah kemeja dokter itu hingga membuat salah satu kancing kemeja terjatuh ke lantai.
"T-Tuan muda hanya a-ada satu cara untuk menyelamatkan nyonya." suara dokter itu tidak terdengar dengan jelas karena tenggorokannya masih di cengkeram erat.
"Ricko lepaskan dia kamu bisa membuatnya mati." Ibu Susi berusaha menarik tangan Ricko.
"Khuk... khuk... khuk..." dokter itu berusaha mengatur nafas kembali.
"Katakan kalau istriku baik-baik saja." ucap Ricko kepada dokter satunya lagi.
"T-Tuan muda keadaan nyonya sangat kritis dan ---"Dokter itu menggantungkan ucapnya.
"Dan..." Ricko sudah menatap sangat tajam.
"Nyonya harus sadar dalam 24 jam kedepan kalau tidak." dokter itu menggantungkan kalimatnya lagi.
"Tidak..." Ricko memukul dinding dengan sangat kuat hingga membuat tangannya banyak mengalir darah segar. bahkan rasa sakit seakan tak terasa. Ricko terduduk lemas di lantai kepalanya menunduk dan air mata terus mengalir tak terhitung berapa banyak sudah air mata yang ia keluarkan.
__ADS_1
Sementara Ibu Susi, wanita tua itu juga terduduk lemah di lantai."hik... hik... hik... Tuhan kumohon selamatkan putriku. hik... hik... hik... kumohon." Ibu Susi mengatupkan kedua tangannya, matanya menatap ke arah langit-langit
"T-Tuan h-hanya ada satu c-cara tuan, bisa menyelamatkan nyonya." suara dokter itu hampir saja nyaris tidak terdengar.
Sontak Ricko langsung menoleh ke arah dokter itu."Katakan. cara apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa menyelamatkan istriku." suara Ricko kali ini sedikit melunak.
"Cara satu-satunya adalah tuan harus menghangatkan tubuh nyonya sehangat mungkin. itu adalah cara paling ampuh untuk membuat supaya perairan darat kembali seperti semula. nyonya mengalami demam yang sangat tinggi, demam ini sangat langka dan demam ini pun sangat susah mencarikan obatnya. kami para dokter tidak bisa mengatasi demam seperti ini tuan. kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi sepertinya demam ini sangat sensitif dengan jarum dan cairan penurun panas. hingga membuat tubuh nyonya mengalami panas yang sangat meningkat setiap menitnya." jelas dokter itu panjang lebar.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menurunkan panas itu...??"
Dengan langkah kaki seakan berat dan perasaan merasa bersalah Ricko membukakan pintu ruangan UGD. matanya langsung tertuju kepada seseorang terbaring lemas di atas ranjang. air mata kembali membanjiri wajah Ricko, ia teringat saat-saat kebersamaannya dengan Ratih semua kenangan indah seakan teringat jelas di mata Ricko.
"Sayang...." guma Ricko pelan mencium singkat kepala Ratih."Maafkan aku karena aku datang terlambat." tangan Ricko mencoba meraih tangan Ratih."Kami ingat, dulu kamu pernah bilang kalau kamu tidak akan pernah meninggalkanku walaupun hanya sebentar. kamu juga pernah bilang kalau kamu tidak akan selalu berada di sisiku." Ricko berkali-kali mencium tangan Ratih.
"Sayang kamu tau, sampai saat ini aku belum melihat bagaimana keadaan Beby kita, aku belum lihat bagaimana wajah apa dia mirip aku atau dia mirip kamu ibunya. aku juga belum mengetahui apakah dia laki laki atau bukan." suara Ricko semakin serak.
******
__ADS_1
"Han kau sudah sadar..." guma Mawar seraya mendekati Kasim Han.
"Nona." Han hendak bangun namun dengan cepat Mawar mendorong tubuh Han hingga tubuh kembali terbaring di atas ranjang.
"Jangan bergerak Han. tidurlah badan kamu masih sangat lemah. kamu sedang demam Han."
"Tapi nona."
"Tidak apa-apa Han Tante sudah mengizinkan kamu untuk beristirahat. jadi istirahatlah agar demam segera menurun." jelas Mawar.
"Nona, bagaimana keadaan nyonya muda...??"
Mawar mengeluarkan nafas berat."Belum ada kepastian Han. berdoa saja agar kakak baik-baik saja.
**Bersambung...
Maaf telat update, 😓😓😓 author benar-benar tidak sengaja maafkan author 🙏🙏😓😓😓. sudah dua hari author bolak balik keluar kota jangan pegang laptop, pegang hp aja enggak bisa. 😓😓😓maaf sudah membuat kali menunggu. semua itu di luar kendali author jadi author tidak bisa buat apa apa. ini aja author mencuri waktu agar bisa up. 🙏🙏🙏🙏😓😓😓😓**
__ADS_1