Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 33


__ADS_3

"Ratih...."


"Tante...."


Sejenak Ratih dan ibu Susi mereka saling pandang saling berpikir dalam pikiran mereka masing masing. tak berangsur lama kerena Ratih lebih dulu menyadari akan lamunannya.


"Tante...." terdengar suara Ratih sayup sayup masih terkejut siapa yang berada di hadapannya sekarang. ia mencoba melangkah pelan pelan mendekati wanita tua di hadapnya dan menundukkan kepalanya tandan ia memberi hormat.


Senyuman manis terukir rapi di bibir merah tua yang sudah di olesi dengan lilstik. Dia melambaikan tangan dan menepuk sofa bersebelahan dengannya." Sayang duduk lah, kamu pasti capek kan." hanya itu yang keluar dari mulut wanita tua itu sembari terus menepuk sofa di sampingnya.


Ratih sejenak kembali terdiam kakinya mulutnya tidak bergeming sama sekali mengiyakan perintah ibu Susi. Ia berpikir mungkin ini adalah hari terakhir dia bekerja kerena telah lancang berani masuk kamar pribadi pemilih perusahaan yang ia pijak sekarang sekaligus anak dari wanita tua yang berada di hadapannya.


"Ratih...." panggil ibu Susi yang melihat Ratih masih berdiri mematung.


"i-iya Tante." sahut Ratih yang tersadar dari lamunannya. dia segera duduk ke tempat yang di tepuk ibu Susi tadi.


"Sayang jangan melangkah terlalu panjang itu pasti akan menyakitkan nantinya." Ucap ibu Ratih yang kini berusaha membantu Ratih duduk.


"Tante tahu itu pasti sangat sakit kan, sama yang seperti Tante rasakan dulu. bahkan dulu Tante berjalan saja sangat susah." sambung ibu Susi ceplas-ceplos sembari menggenggam tangan Ratih.


Ratih mengerutkan keningnya dia belum tau apa maksud dari wanita tua di hadapannya.


"Astaga..." ucap ibu Susi tampang terkejutnya melihat banyak sekali tanda tanda merah di leher Ratih."Anak Tenggik itu pasti sangat agresif nanti Tante akan memberinya hukuman. kasihan kamu pasti sangat kewalahan menghadapi Ricko."sambung ibu Susi dengan jemari mengelus ngelus bahu Ratih.


Ratih mengeruk kepalanya yang tidak gatal dia semakin tidak mengerti apa yang telah di bicarakan ibu Susi.


"Tante, Tante bicara apa sih Ratih enggak ngerti...??" tanya Ratih sembari menggeleng geleng kepalanya pertanda dia tidak tahu.


"Aaahhh.... Tante paham kok, kamu pasti malu kan enggak apa apa Tante kan juga pernah muda." jawab ibu Susi yang masih terus saja tersenyum.


"aduh mati aku, pasti Tante Susi melihat tanda merah di leherku dia pasti mengira kalau aku dan pak Ricko melakukan. Aaahhh bodoh kamu Ratih seharusnya kamu mengintip dulu di pintu ada orang atau tidak.

__ADS_1


batin Ratih menunduk malu.


"Ratih sayang Ricko mana...??" tanya ibu Susi yang terus memperhatikan pintu kamar Ricko


"Aaahhh.... apa yang harus aku jawab. tidak mungkin kan aku menceritakan semuanya." membatin Ratih lagi menepuk jidatnya.


"Eeemmm. Tante tahu pasti Ricko sedang mandi seharusnya kamu mandi bersama Ricko agar kalian semakin akrap." sambung ibu Ratih yang terlihat sangat senang.


"Tante..." rengek Ratih dengan tatapan melemas.


"Ha..ha..ha.. jangan sungkan masalah ini cuma Tante yang tahu, Kevin dan Tias mereka sedang keluar Tante menyuruh mereka membeli makanan." tutur ibu Susi.


"Lose lah, biarkan saja apa yang di pikirkan Tante Susi. batin Ratih lesu.


"Nyonya ini saya Tias." teriak Tias dari luar.


"Masuklah Tias." sahut ibu Susi dengan tampang senangnya.


Setelah mendapat perintah masuk barulah Tias dan Kevin masuk keruangan Ricko. mereka di kejutkan degan adanya Ratih apalagi pakaian yang dia pakai sekarang berhasil membuat mereka berdua berpikir panjang dalam pikiran mereka sendiri.


Kevin yang sadar dari lamunannya segera mempersiapkan makanan yang ia bawa. Kevin melangkah mendekati meja dia langsung menguarkan makanan dari paper bang yang berbentuk bulatan besar.


"Wah Kevin, kamu sangat pintar membelikan makanan. pizza ini sangat cocok untuk Ratih agar tubuhnya semakin kuat. tutur ibu Susi melirik ke arah Ratih.


Setelah selesai meyiapkan makanan di atas meja Kevin berhasil menangkap tanda merah di leher Ratih degan ujung matanya.


"Bukankah itu tanda. aaaa.... kenapa rasanya sakit." batin Kevin memejamkan matanya merasakan hatinya seperti tercabik-cabik.


"Kevin kamu tidak apa apa nak...??" tanya ibu Susi khawatir takut terjadi apa apa pada Kevin kerena Kevin sudah di anggap sebagai anak kandung oleh ibu Susi.


"Tidak nyonya saya baik baik saja." jawab Kevin setelah mendongakkan kepalanya menatap ibu Susi. Kevin langsung mundur dia bahkan tidak melirik ke arah Ratih lagi takut hatinya semakin sakit melihat tanda merah di leher Ratih.

__ADS_1


Ratih yang sudah dari tadi menggigit bibir bawahnya dalam dalam sambil menunduk menahan rasa malu. dia bahkan tidak berani menatap ke arah Kevin. dia berpikir entah jawaban apa yang akan dia berikan nanti ke pada Kevin ketika Kevin bertanya ngapain dia di kamar Ricko yang sudah jelas jelas kamar itu dilarang masuk meski OB sekalipun.


"Ratih kemari kau..." teriak Ricko dengan kerasnya dari kamar.


"Oh Tuhan kenapa situasi semakin genting. ubi karet itu kenapa dia tidak melihat suasana sih." batin Ratih geram setelah mendengar teriakan Ricko.


"Anak Tenggik itu apa masih belum puas." tutur ibu Susi yang menatap pintu kamar Ricko.


"Ratih cepat kemari kalau tidak aku akan benar benar menembak dirimu." suara teriakan Ricko semakin keras.


"Sayang apa kamu masih kuat kalau tidak biar Tante memberinya hukuman...??" tanya ibu Susi yang merasa iba ke pada Ratih.


"Aku hitung sampai tiga. satu...." teriak Ricko tidak ada henti hentinya.


"Tante lebih baik aku segera menemui pak Ricko." tutu Ratih sudah sangat geram dengan teriakan Ricko.


"Baiklah sayang hati hati. nanti Tante akan menyiapkan jamu antibiotik untuk meredakan rasa sakitnya." sahut ibu Susi sambil membantu Ratih berjalan dan memompanya masuk ke kamar Ricko.


"Dua...." terdengar suara Ricki semakin jelas.


"Anak Tenggik itu tidak ada sabar sabarnya sama persis seperti ayaknya." gerutu ibu Susi.


Setelah membawa Ratih masuk ke pintu kamar Ricko, ibu Susi langsung menutup rapat rapat pintu itu dan langsung melangkah menuju Kevin dan Tias yang dari tadi melamun dalam pikiran mereka masing masing.


"Ayok cepat pergi jangan menggangu mereka." perintah ibu Susi menyeret Kevin dan Tias keluar dari ruangan Ricko.


"Ti..." ucap Ricko terpotong.


"Saya di sini."


**Bersambung ......

__ADS_1


maaf kak kalau ada typo maklum masih belajar kak 🙏🤭


👉👉 ayo bantu vote dan like 👇👇**


__ADS_2