
Tiga hari telah berlalu Ratih sudah mempersiapkan dirinya untuk menjelang hari pernikahan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. kini Ratih sedang berjalan arah lift menuju lantai 50. sudah beberapa kali ibu Susi melarang Ratih untuk tidak bekerja lagi namun Ratih tetap keras kepala. dia berpikir kalau bekerja mungkin dapat mengurangi rasa beban yang ada dalam pikirannya. Ratih tidak menyadari kalau dari tadi dua orang terus saja memperhatikan langkah dirinya.
"Tunggu loe wanita simpanan." ucap seseorang yang tak lain adalah Rani ( Orang yang iri dengan Ratih.)
Ratih yang mendengar suara seseorang pun menoleh ke belakang.
"Maaf, siapa ya yang anda maksud...??" tanya Ratih ramah.
"Siapa lagi kalau bukan wanita penggoda." jawab Lilis menyambar. Lilis merupakan teman Rani.
"Sorry gue enggak ada urusan sama kalian." ketus Ratih membalikkan badannya hendak pergi. dia sangat malas pagi pagi harus ribut.
"Lo itu di panggil buk Amel." tutur Rani cepat mengakibatkan langkah Ratih berhenti lagi.
"Gue." sahut Ratih menunjukkan dirinya.
"Emang ada di sini wanita penggoda selain diri loe." ujar Rani dengan tatapan sinis.
"Kalau punya mulut bisa di jaga enggak sih." sahut Ratih yang sudah mulai kesel.
"Mulut mulut gue apa urusannya sama loe. jadi suka ati gue dong mau ngomong apa aja." tutur Rani.
"Hey anak A*****." ucap Ratih tampang emosinya dengan menatap tajam ke arah Rani.
"Lancang kali loe ngatain gue anak A*****." sahut Rani cepat.
"Mulut mulut gue apa urusannya sama loe. jadi suka ati gue dong mau ngomong apa aja." tutur Ratih yang mengulang kata kata Rani.
"Loe itu ya." ucap Rani yang sudah menggenggam kedua tangannya.
"Napa enggak suka gue panggil kek gitu. makanya kalau manggil orang itu pikir pikir dulu." ketus Ratih.
"Awas loe, gue enggak akan lepasin loe kali ini." ucap Rani dengan tampang mematikan.
__ADS_1
"Gue enggak takut sama sekali sama kalian jadi jangan coba coba untuk ngancam gue." sahut Ratih langsung pergi.
"Loe kenapa enggak bantuin gue sih...??" tanya Rani.
"Sorry gue enggak yangka aja tu cewek berani banget sama loe." jawab Lilis.
Ratih kini pergi menuju ruangan HRD menemui buk Amel.
Tok..tok...tok...
"Masuk." ucap seseorang dari dalam.
setelah mendapat izin masuk barulah Ratih membuka pintu dan langsung masuk ke dalam.
"Ada apa ya buk Amel memanggil saya ke mari...??" tanya Ratih pada wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Duduklah." ucap ibu Amel mempersilahkan Ratih untuk duduk.
"Maaf buk apa saya melakukan kesalahan...??" tanya Ratih lagi.
"Selamatnya sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya muda di perusahaan ini. kamu beruntung baru beberapa hari kerja di sini pak Ricko langsung melamar dirimu. jujur aku sangat iri ke padamu sudah lebih dari 2 tahun aku bekerja di perusahaan ini jangankan berbicara menoleh pun pak Ricko tidak pernah." sambung ibu Amel lagi dengan penuh senyuman namun terlihat sedih.
"Maaf buk, saya tidak maksud mau menyakiti perasaan ibu atau siapapun." tutur Ratih merasa bersalah.
"Semoga pak Ricko bahagia menikah denganmu. oh ya aku hampir saja lupa, sekarang kamu pergi keruangan aula bersihkan tempat itu sebersih mungkin karena tempat itu akan segera di pakai hari ini juga." ucap ibu Amel.
"Baik buk, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Ratih. dia langsung segera pergi ke aula pertemuan di sana sudah ada banyak OB yang juga membersihkan aula tersebut.
"Ratih..." panggil seseorang dari samping Ratih.
"Zahra.." sahut Ratih setelah menoleh ke sumber suara.
"Sini." ucap Zahra melambaikan tangan memanggil Ratih.
__ADS_1
Ratih segera menghampiri Zahra setelah Zahra memanggilnya.
"Ada apa...??" tanya Ratih ketika sampai di tempat Zahra.
"Kita di sini saja di sana sudah banyak sekali orang." jawab Zahra yang kini sedang mengelap tempat duduk.
"Ini ada acara apaan sih sebenarnya...??" tanya Ratih.
"Gue juga enggak tahu. katanya ada pengumuman penting hari ini dengar dengar sih pak Ricko mau nunjukin calon istrinya." jawab Zahra.
"Apa pak Ricko mau nunjukin gue ke orang orang di kantor. ubi karet itu benar benar ya." batin Ratih.
"Kamu tahu siapa calon istri pak Ricko...??" tanya lagi Ratih yang kini menatap Zahra dengan tatapan serius.
"Gue juga enggak tahu siapa yang jelas dia katanya orang yang sangat cantik dan dia juga berkerja di kantor ini. gue udah enggak sabar mau lihat siapa ya kira kira orang yang berhasil menarik hati pak Ricko. Gue rencananya sih mau mintak di ajarin sama dia agar gue bisa menarik perhatian pak Kevin." jawab Zahra menampakkan gigi depannya.
"orang itu ada di depan loe sekarang Ra, maaf gue enggak kasi tau loe sebelumnya." batin Ratih.
"Ular.... ular...." teriak seseorang di samping Ratih dan Zahra.
Ratih yang mendengar nama ular langsung terperanjat memegang bahu Zahra, Ratih begitu takut dengan binatang satu ini jangankan bertemu dengan ular mendengar nama ular saja Ratih sudah sangat geli.
"Mana... mana...??" tanya Ratih sudah sangat takut.
Entah dari mana seekor ular cobra bisa masuk ke dalam aula gedung. ular cobra itu menoleh ke sana ke sini mencari mangsa setelah ia rasa tepat ular cobra itu berlari menghampiri Ratih hendak inggin mematok kaki Ratih.
"Aaaaa......" teriak Ratih saat melihat ular cobra berlari ke arahnya dan langsung saja mengangkat kepalanya ingin mematok Ratih.
"Aaaggrrr....."
**Bersambung..........
duh siapa ya kira kira kenak patok ular 🤔🤔
__ADS_1
maaf kak apabila banyak typo maklum masih belajar 😁🤭
👉👉Ayo kak batu vote dan like biar makin maju 😁👇👇**