
Ratih dan Tania sedang bersantai di ruangan keluarga, mereka duduk seraya membaca majalah keluaran terbaru. ada daya tertarik sendiri bagi mereka saat melihat majalah mungkin karena banyak sekali barang bermerek yang di pamerkan di sana pikir Ratih.
"Ibu mau pergi sekarang...??" tanya Ratih saat melihat ibu Susi sudah rapi dengan pakaian yang ia kenakan, begitupun dengan Tias sudah menenteng koper di tangannya.
"Enggak sayang, ibu berangkatnya nanti jam 10 malam." jawab ibu Susi kini sedang berjalan menuju sofa dan langsung menghamburkan tubuhnya di sana.
"Kenapa cepat sekali bukannya ibu bilang kalau ibu akan berangkat besok siang...??" tanya lagi Ratih.
"Enggak bisa sayang soalnya besok siang ibu harus menghadiri rapat penting jadi terpaksa ibu harus berangkat malam ini juga." jawab ibu Susi cepat.
"Loh ibu mau kemana...??" tanya Tania merasa bingung, dia belum paham arah pembicaraan Ratih dan ibu Susi.
"Nia, ibu mau ke India sebentar, jadi besok semua keperluan kuliah kamu Kevin yang yang akan mengurusnya. ibu sudah membicarakannya dengan dengan Kevin."
"Kenapa ibu enggak bilang ke Nia sih kalau ibu mau ke luar negri." protes Tania memanyunkan bibirnya.
"Nia jangan kayek anak kecil deh." tutur Ratih menatap tajam ke arah Tania.
"Ibu juga baru mendapatkan kabar tadi sore, makanya ibu belum sempat memberi tahu." ucap ibu Susi.
"Ratih, sayang." panggil ibu Susi menatap hangat ke arah Ratih.
"Mulai sekarang Kasim Han akan menjadi pelayan pribadimu, ibu rasa dia bisa melindungimu dari bahaya jadi ibu sudah memutuskan kalau dia akan menjadi pelayanmu sekarang." sambung ibu Susi.
"Tapi bukan kah Han pelayan pribadinya pak Ricko,Maksud Ratih pelayan mas Ricko." ucap Ratih setelah itu menutup mulutnya rapat rapat. Ratih tahu kalau dia bisa melihat ketidak sukaan yang di tunjukan oleh ibu Susi saat memanggil Ricko dengan sebutan bapak. mungkin karena Ratih sudah menjadi istri Ricko sekarang, apalagi mereka saat ini tidak diliputi masalah pekerjaan.
"Itu tidak masalah. karena di rumah ini ibu yang mengatur semua urusan baik di dalam maupun di luar. kalau masalah Ricko biar kamu saja yang mengurusnya kan sekarang kamu istrinya." sahut ibu Susi.
Ting tong...
Ting tong...
Ting tong...
Terdengar seseorang menekan bel, sehingga membuat percakapan para wanita yang berada di ruangan keluarga terjeda.
"Siapa yang bertamu malam malam begini." gerutu ibu Susi lalu ibu Susi melirik ke arah Tias seraya mengisyaratkan ke pada Tias untuk segera memeriksa.
"Han..." panggil ibu Susi.
"Iya nyonya besar." sahut Han seraya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa makan malam sudah siap...??" tanya ibu Susi.
"Sudah nyonya, semuanya sudah siap. hanya tinggal menunggu tuan muda pulang saja." jawab Kasim Han.
"Kerja bagus. sekarang kita tinggal menunggu kepulangan Ricko baru setalah itu kita makan bersama." gerutu ibu Susi.
"Nyonya..." panggil Tias baru kembali lagi ke ruangan keluarga.
"Iya ada apa..?? siapa yang datang...??" tanya ibu Susi.
"Katanya sih dokter bedah plastik nyonya. dokter itu datang kesini atas perintah dari tuan muda Ricko." jawab Tias.
Semua orang saling tatap, mereka saling beradu pandangan satu sama lain.
"Dokter ahli bedah. ngapain dia di sini." tutur ibu Susi merasa bingung begitupun juga dengan Ratih dan Tania, mereka juga sedikit terkejut saat mendengar dokter ahli bedah plastik datang ke sini.
"Saya juga belum tahu nyonya." sahut Tias.
"Kalau begitu suruh dia masuk." perintah ibu Susi.
Tak berlangsung lama Tias pun kembali dengan di ikuti seorang pria paruh baya yang memakai seragam putih dan kaca mata selinder.
"Ada hal apa ya sehingga membuat dokter ahli bedah datang ke mari...??" tanya ibu Susi.
"Maaf nyonya saya juga belum tahu. tapi saya kesini atas perintah dari tuan muda Ricko." ucap dokter itu yang merupak salah satu dokter ahli bedah yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Adiningrat.
"Anak Tenggik itu." gerutu ibu Susi.
"Han..." teriak seseorang di ambang pintu, berhasil membuat semua orang menoleh ke arah suara.
Han yang mengenali suara itu langsung berlari menghampiri sumber suara.
"Maafkan saya tuan muda saya telat meyambut anda." tutur Kasim Han kini berlutut di hadapan Ricko.
"Cepat bangun ada tugas yang harus kamu lakukan." ucap Ricko.
"Ricko ada apa ini...??" tanya ibu Susi baru datang menghampiri Ricko.
Namun Ricko tidak menjawab dia malah melirik ke arah belakang ibu Susi.
"Kamu kemari." perintah Ricko seraya menunjuk ke arah dokter ahli bedah.
__ADS_1
Dengan cepat dokter itu langsung menghampiri Ricko.
"Kamu dan Han ikut aku." tutur Ricko lalu melangkah pergi tanpa menghiraukan beberapa wanita yang sadari tadi terus menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kevin tunggu." tegas ibu Susi saat melihat Kevin hendak mengikuti Ricko.
"Iya nyonya." sahut Kevin setelah menghadap ke arah ibu Susi.
"Untuk apa Ricko memanggil dokter lutung itu kemari...??" tanya ibu Susi.
"Maaf nyonya itu bukan dokter lutung tapi dokter ahli bedak plastik." jawab Kevin cepat.
"Sama saja. emang kamu tidak lihat banyak sekali bulu bulu yang tumbuh di tangannya itu. dia tidak cocok dengan sebutan dokter bedah tapi dokter lutung itu baru cocok. ayo cepat katakan untuk apa lutung itu kemari siapa yang mau di oplas...??" tanya ibu Susi lagi.
"Kata tuan muda beliau ingin mengubah wajah biawak menjadi musang king. Saya juga tidak tahu kalau ada biawak yang di pelihara oleh tuan muda di mansion ini." jawab Kevin.
"Biawak..." tutur ibu Susi sama terkejutnya dengan Ratih dan Tania.
"Mana ada biawak di rumahku ini." tutur ibu Susi tak habis pikir lalu dengan cepat hendak menyusul Ricko namun tiba tiba ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk.
"Menganggu saja." tutur ibu Susi dengan perasaan malas mengangkat telepon masuk saat membaca nama Amita Bachchan tertera di layar ponsel.
"Halo.." ucap ibu Susi lalu melangkah menjauh dari keramaiyan.
Sementara Ratih dan Tania kini mengikuti Kevin dari belakang. tak berlangsung lama akhirnya Kevin berhenti di salah satu kamar bawah tanah yang cukup lumayan luas dan juga di lengkapi berbagai fasilitas dari sofa, mini bar bahkan layar tv yang lebar.
Ratih, Kevin dan juga Tania membulatkan matanya lebar lebar saat melihat dokter ahli bedah menyuntik Kasim Han di atas ranjang.
"Apa yang bapak lakukan...?? teriak Ratih dengan sedikit keras sehingga membuat kegiatan dokter ahli bedah terhenti.
"Jangan masuk...!!" tegas Ricko.
Namun Ratih tidak menghiraukannya dia malah melangkah dengan cepat dan langsung meraih tangan Kasim Han mencoba membangun kan nya.
"Han bangun." tutur Ratih menepuk-nepuk bahu Han.
"Nyonya..." sahut Kasim Han dengan mata masih sayup sayup karena ke duluan mendapat suntikan bius.
**Bersambung......
Bantu vote dan like kakak 👇👇**
__ADS_1