
Dua hari telah berlalu di rumah sakit kini keadaan Ratih sudah mulai membaik. sebenarnya Ratih sudah bisa pulang namun Ricko tetap bersikeras supaya Ratih tidak boleh pulang dulu bukan tampa alasan tapi karena Ricko ingin Ratih benar benar sembuh. Ricko bahkan tidak bekerja selama Ratih di rumah sakit jangankan ke kantor keluar dari ruangan Ratih terasa enggan bagi Ricko.
"Sayang aku mau pulang." rengek Ratih seraya memanyunkan bibirnya.
"Kamu harus benar benar sembuh dulu baru boleh pulang." sahut Ricko mencibir pipi Ratih gemes.
"Aku sudah sembuh bahkan sudah sangat-sangat sembuh lihat ini." Ratih menampakkan jotosnya.
"Kamu sudah kuat ya, ehm... kalau begitu bagaimana kalau kita bertempur. untuk membuktikan kalau kamu memang benar benar sudah sembuh." ucap Ricko menaik turunkan alisnya penuh maksud.
"Bertempur.??" tanya Ratih pura pura tidak tau.
"Ehm." angguk Ricko cepat matanya sudah menatap Ratih penuh arti.
"Bertempur apa...??" ucap seseorang tiba tiba di ambang pintu tak lain adalah ibu Susi.
"Ibu..."
"Anak Tenggik tidak tau istrimu sedang sakit apa." gerutu ibu Susi seraya berjalan mendekati mereka.
"Ratih tidak sakit Bu dia sudah sehat Ratih sendiri yang bilang begitu. iya kan sayang." tutur Ricko dengan tatapan memohon. sedangkan Ratih malah senyum senyum sendiri.
"Sayang lihat lah papa kamu sedang di marahi oleh Oma. ayo Oma marahi aja papa Oma."
"Sayang kok kamu diam sih jawab dong."
"Tidak Bu, Ratih masih sakit sebenarnya. cuma mas Ricko ya aja ni mintak di manjain terus padahal badan Ratih masih sakit ni." ucap Ratih dengan raut wajah segaja di buat buat. entah kenapa Ratih merasa senang jika melihat Ricko di marahi.
"Sayang..." Ricko membulat penuh matanya tak percaya.
"Oooo begitu rupanya. anak Tenggik rasakan ini. sekali lagi kamu menganggu menantu dan calon cucuku akan aku tarik ni kuping sampai hilang di tempatnya." ucap ibu Susi seraya menjewer kuping Ricko.
"Aaaaa.... sakit Bu. rengek Ricko mengelus ngelus kupingnya kini sudah merah seperti tomat.
"Awas kalau kamu macam macam sama menantuku." ancam ibu Susi.
"Ayo sayang kita pulang." ajak ibu Susi seraya memegang tangan Ratih lembut.
"T-tapi Bu kata dokter---"
"Sudah kamu tidak perlu khawatir ibu sudah membicarakannya dengan dokter. ibu tidak bisa tidur dengan tenang jika kamu masih di rumah sakit." sahut ibu Susi.
"Ibu mau membawa Ratih ke mana...??" tanya Ricko berusaha mencegah.
__ADS_1
"Ke Jonggol. ketus ibu Susi.
"Cepat menyingkir jangan halangi kami kamu bisa membuat menantuku stres lama lama di sini. ayo sayang kita pulang." sambung ibu Susi seraya menerobos Ricko.
****
Mobil milik ibu Susi kini telah keluar dari parkiran rumah sakit, mobil itu nampak berjalan mulus dan santai.
"Sayang..." panggil Ratih menatap ke arah Ricko.
"Hem.."
"Aku mau makan mangga."
"Baiklah nanti kita supermarket."
"Aku tidak mau yang ada di supermarket, aku maunya yang baru di petik dari pohonnya." rengek Ratih memanyunkan bibirnya.
"Adu Ricko ibu hamil itu maunya buah yang segar bukan buah yang udah layu. emang kamu mau anak kamu layu kayek toge." cetus ibu Susi berada di bangku depan sedangkan Ratih dan Ricko berada di bangku belakang.
"Enggak." sahut cepat.
"Aku engga mau anakku layu seperti toge. baiklah Beby Dedy akan mencarikan mangga yang kamu inginkan." sambung Ricko lagi seraya mengelus ngelus perut Ratih yang masih nampak rata.
"Berhenti...." teriak Ratih, berhasil membuat mobil yang di kemudikan Kevin berhenti mendadak hingga membuat semua orang terdampar ke depan.
"Aaa... Kevin apa yang kamu lakukan, kamu mau membunuh ibu." gerutu ibu Susi dengan nafas tak beraturan. bagaimana tidak wanita tua itu hampir saja kehilangan jantungnya karena terkejut.
"M-Maafkan saya nyonya saya tidak sengaja, tadi saya mendengar nyonya muda suruh berhenti jadi saya berhentikan." sahut Kevin mengatupkan tangannya.
"Kamu menyalahkan istriku." protes Ricko di belakang.
"B-Bukan seperti itu tuan muda, Maksud saya--"
"Ratih..." guma ibu Susi terkejut saat melihat Ratih sudah keluar dari mobil.
"Sayang..." Ricko baru sadar sontak langsung keluar dari mobil.
"Sayang kenapa kamu turun...??" tanya Ricko seraya berjalan mendekati Ratih.
"Sayang aku mau makan buah itu." tunjuk Ratih ke arah buah mangga masih hijau segar.
"Yang mana..??"
__ADS_1
"Itu yang berada di rumah itu." tunjuk Ratih lagi.
"Ya ampun sayang itu buahnya tinggi sekali." gerutu Ricko menelan ludahnya kasar.
"Sayang aku tidak mau tau pokoknya aku mau buah itu." rengek Ratih.
"Tapi sayang buah mangganya sangat tinggi."
"Kamu mau nanti anak kamu ileran." ketus Ratih.
"Tidak, baiklah sayang akan aku usahain." tutur Ricko.
"Kevin..." panggil Ricko. Kevin yang merasa namanya di panggil pun segera turun dari mobil. sedangkan ibu Susi pun juga ikut turun.
"Iya bos."
"Cepat kamu ambil buah mangga itu sekarang." ucap Ricko seraya menunjukkan apa yang di tunjuk Ratih tadi.
"Sayang aku tidak mau Kevin yang mengambilnya aku mau kamu." rengek Ratih lagi.
"Sayang aku tidak bisa memanjat pohon, tapi kalau Kevin bisa memanjat." sahut Ricko cepat.
"Tidak Nona saya tidak bisa memanjat." tutur Kevin menggelengkan kepalanya.
"Kevin..." Ricko melotot kan matanya.
"Biarkan Kevin saja yang mengambilnya." ucap ibu Susi di belakang.
"Nanti kalau cucuku sudah lahir Kevin saja yang jadi ayahnya." sambung Ibu Susi lagi.
Ricko yang mendengar itupun langsung menaikan alisnya." Loh kok Kevin sih, kan aku. aku yang berolahraga tiap malam bersama istriku masak Dedy nya Kevin. enak aja." sahut Ricko tidak terima.
"Kalau kamu Dedy nya kenapa tidak kamu saja yang mengambilnya, kenapa malam menyuruh orang lain kan itu anak kamu yang minta." cetus ibu Susi merasa geram dengan tingkah anak semata wayangnya ini.
"Baiklah..." ucap Ricko membuang nafas kasarnya.
"Sayang..." Ricko berjalan mendekati Ratih lalu mendekatkan wajahnya di telinga Ratih.
"Sayang kamu harus membayar ini semua, pokoknya nanti malam aku akan menjenguk baby kita sampai pagi." bisik Ricko.
🌹🌹🌹
Maaf ya telat update. author benar benar sibuk banget kerjaan pada numpuk semua 😔😔
__ADS_1