
Setelah usai memakai liontin pada leher Alfin, Ratih beranjak dari tempat tidur. ia ingin hendak ke kamar mandi namun niatnya terurung tak kala mendengar suara teriakan Tania yang begitu keras.
"Kak Ratih..." panggil Tania menerobos masuk ke dalam kamar.
"Nia kenapa berteriak seperti itu, nanti Alfin bisa menangis gara-gara mendengar suara teriakan kamu itu yang keras." protes Ratih seraya berjalan mendekati Alfin melihat bagaimana keadaan anaknya itu.
"Ya ampun kak, Alfin itu tidak menangis kalau Tante yang baik ini berteriak justru ia akan menangis kalau kakak yang berteriak." sahut Tania menghamburkan tubuh tepat di samping Alfin.
"Benarkan Alfin ponakan Tante yang paling tampan." gemes Tania seraya mencium pipi Alfin berulang kali.
"Nia sudah. katakan untuk apa kau mencari kakak sampai berteriak seperti itu...??" Ratih juga ikut duduk di samping Alfin.
"Aku cuma mau tanya apa kakak sudah membukakan kado yang ku bawa...??" tanya Tania balik.
"Astaga." Ratih menepuk keningnya pelan."Kakak lupa, bahkan kado Mawar pun kakak lupa membukanya."
"Apa.... belum membukanya." tanya Tania menggelengkan kepalanya, juga sama halnya dengan Ratih juga ikut menggelengkan kepalanya.
"Memangnya apa yang kakak lakukan semalam sampai-sampai kakak lupa membukakan kado yang kuberikan...??"
"Hehehehe. semalam kakak ketiduran." jawab Ratih menampakkan gigi putihnya.
"Ya sudah kalau aku pergi dulu aku pikir kakak sudah membukakannya." Tania hendak bangkit dari ranjang namun bola matanya berhasil melihat sesuatu yang ada pada leher Alfin.
"Apa ini...??" Tania duduk kembali di tepi ranjang memperhatikan bendak yang tak asing baginya.
"Ya ampun kakak masih menyimpan kalung ini...??" terkejut Tania sontak langsung melirik ke arah Ratih dengan cepat. menunggu jawaban dari kakaknya itu.
"Emang kamu pikir kakak akan membuangnya." ketus Ratih.
"Bukan begitu, aku pikir kakak sudah menjual kalung ini." ucap Tania seraya mengamati liontin itu.
"Mana mungkin kakak menjualnya sampai matipun kakak tidak akan pernah menjual kalun pemberian Kakek."
"Lalu kenapa kakak tidak pernah memakainya lagi. aku bahkan sudah lupa dengan kalung ini."
"Itu karena kakak ini menjaganya. kalau kakak pakai kalung ini sudah dari dulu kalung ini hilang. para preman di pasar pasti tidak akan membiarkan kakak lewat begitu saja jika bertemu mereka. mereka pasti akan meminta kalung ini." jelas Ratih.
"Kakak benar kenapa aku tidak teringat sampai ke situ ya." Tania mengarukkan kepalanya tak gatal.
"Itu karena IQ kamu lebih rendah dari kakak." ejek Ratih menjulurkan lidahnya.
"Kak..."---
"Sudah-sudah kakak tidak punya waktu berdebat denganmu, sekarang ayo kita keluar Ibu dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita." ujar Ratih bangkit dari ranjang seraya mengedong Alfin yang sudah tertidur.
******
__ADS_1
"Vin tunggu..." panggil Ricko tak kala melihat Kevin melintasi ruangan kamarnya.
"Iya Bos ada apa...??" tanya Kevin sesudah memalingkan badannya menatap ke arah Ricko.
"Masuk ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Tapi Bos saya harus segera pergi Bos, nyonya besar memanggil saya."
"Aku membutuhkanmu sekarang suruh saja pelayan lain ke sana."
"Pak Kevin ada sudah tunggu oleh nyonya besar." tutur seorang pelayan tiba-tiba berada di belakang Kevin.
"Iya-iya saya akan segera ke sana." sahut Kevin langsung bergegas pergi.
"Kevin... aaaggrrr..." Ricko menendang pintu.
🌹
Tepat pukul sepuluh Kini semua orang sudah berkumpul di depan kamar Ibu Susi, mereka sudah siap berangkat ke acara pesta. di karenakan acara pesta di adakan di dalam hotel yang mereka tinggal jadi tidak membuat mereka kesusahan untuk pergi.
"Apa kamu sudah dapat informasi di lantai berapa.??" tanya Ibu Susi pada Kevin.
"Sudah nyonya, acaranya di adakan di lantai 5." jawab Kevin.
"Bagus kalau begitu. bagaimana semaunya apa kalian sudah siap...??" Ibu Susi melirik ke setiap orang.
"Sudah Bu kami sudah siap." sahut Ratih.
Setelah menghabiskan watu delapan menit di dalam lift dan menghabiskan waktu tiga menit berjalan barulah Ibu Susi dan yang lainnya tiba di depan pintu acara. mereka di sambut ramah oleh beberapa pelayan yang menjaga pintu, mereka semua juga menundukkan kepalanya pertanda memberi hormat.
"Selamat datang nyonya, tuan besar sudah menunggu kedatangan anda." ucap salah satu pelayan seraya memberikan hormatnya. (Berbicara dalam bahasa Inggris)
"Hah, dia tidak pernah berubah selalu saja menunggu kedatanganku." guma Ibu Susi lalu langsung melangkah memasuki area pesta.
"Mas apa mereka tidak bisa berbahasa Indonesia...??" tanya Ratih seraya berjalan.
"Bahasa Indonesia??" Ricko mengerutkan keningnya. "Mana mungkin sayang, mereka tidak belajar bahasa Indonesia di sini. hanya para pembisnis sajalah yang bisa itupun tidak banyak yang mereka tau. mereka hanya tanya hal-hal yang penting saja."
"Ah sayang. itu dia, teman Ibu paman Amitabh Bachchan." Ricko menuju seseorang yang sudah lanjut usia dengan stelan jas berwarna putih yang di baluti dasi hitam. orang itu nampak sedang tertawa dengan seseorang yang berada di depannya. entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya pembicaraan mereka sangat menarik hingga keduanya nampak bahagia.
"Ami..." panggil Ibu Susi.
"Susi..." paman Amitabh Bachchan langsung mendekati Ibu Susi. sebuah pelukan singkat pun terjadi di antara mereka berdua.
"Akhirnya kau datang juga." tutur paman Amitabh Bachchan setelah sesaat ia merenggangkan pelukannya.
"Kau yang memaksaku datang, bahkan aku sudah bilang kalau aku lagi sibuk tapi kau tidak mendengarnya sama sekali." omel Ibu Susi sudah seperti istri pada suaminya.
__ADS_1
"Kau ini sama sekali tidak berubah padahal sudah punya cucu tapi masih saja suka memarahi ku." Pama Amitabh Bachchan terkekeh.(berbicara dalam bahasa Indonesia)
"Oh ya di mana Ricko aku sudah lama tidak melihatnya...??" Paman Amitabh Bachchan melirik ke arah belakang Ibu Susi.
"Ricko di sini Paman." ucap Ricko menawarkan diri seraya berjalan mendekati Paman Amitabh Bachchan.
"Kau sudah besar aku saja tidak bisa mengenalimu lagi." seraya memeluk Ricko hangat.
"Paman saja yang sudah tua." ejek Ricko.
"Hahahaha kau benar, aku memang sudah tuan sampai-sampai aku tidak bisa mengenali lagi anak dari sahabatku sendiri." seraya tertawa.
"Ricko hanya bercanda paman." Ricko kembali memeluk Amitabh Bachchan.
"Kau ini." seraya menepuk pelan punggung Ricko
"Oh ya paman kenalkan, ini Ratih istri Ricko dan ini Tania adik ipar Ricko." ucap Ricko memperkenalkan Ratih dan Tania yang berdiri mematung di belakang.
"Paman..." ucap Ratih menyelami Amitabh Bachchan.
"Semoga kau sehat selalu." seraya mengelus lembut kepala Ratih. "Istrimu sangat cantik Ricko pantas saja kau sangat jarang pergi ke sini. rupanya ada bunga mawar di rumah." sindir Amitabh Bachchan.
"Eeeettt... itu menantu aku yang pilih ya, kalau enggak Ricko sampai sekarang belum menikah." sahut Ibu Susi tak terima.
"Paman sangat jago." tutur Ratih tiba-tiba membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Jago apa itu...??" tanya Amitabh Bachchan tidak mengerti apa perkataan Ratih.
"Jago itu adalah pintar paman. paman sangat pintar berbahasa Indonesia." puji Ratih.
"Hahahaha.... istrimu sangat lucu Ricko."
"Sayang..." Ricko mengedipkan sebelah matanya.
"Apa...??" apa aku melakukan kesalahan...??" tanya Ratih bingung.
"Tidak, hanya saja kau tidak boleh memuji laki-laki lain di depan suamimu kalau tidak aku pasti akan mengira paman ini saingan baru ku."
"Hahahaha.... kalian benar-benar membuat aku bahagia hari ini." ucap Amitabh Bachchan seraya tertawa, tanpa ia sadari sebuah air mata mengalir begitu saja di kelopak matanya.
"Hey... kenapa kau menangis....??" Ibu Susi langsung menghampiri.
"Tidak, aku tidak menangis." Amitabh Bachchan dengan cepat menghapus air matanya.
"Aku tau kau bersedih jangan coba-coba menutupinya dariku. aku bisa merasakan kesedihanmu itu, aku juga seorang Ibu kan."
"Tapi kita tidak sama Susi, kau memiliki anak di sisimu sedang aku. aku tidak tau apakah anakku masih hidup atau sudah mati. aku sangat merindukan mereka Susi aku sangat merindukan cucuku." ucap Amitabh Bachchan dengan suara serak.
__ADS_1
**Bersambung.....
tak terasa sudah hampir ending ya wkwkwkwk 🥰🥰🥰🥰 semoga kalian suka dengan cerita ku. terimakasih banyak atas semua dukungan kalian. aku cinta kalian semua 😘😘🥰🥰🥰**