Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 82


__ADS_3

Suara langkah kaki yang begitu cepat terdengar sayup sayup di telinga Ricko, laki laki segera melirik ke arah pintu. mengetahui seseorang akan datang masuk ke dalam kamarnya.


Clek... (suara pintu terbuka lebar seseorang berdiri di sana mengembangkan senyuman penuh di bibirnya yang agak ke merah-merahan, begitupun juga dengan Ricko, laki laki itu langsung saja berdiri melangkah mencoba menghampiri.)


"Sayang." guma Ricko pelan


"Ehm," Ratih tak henti hentinya mengembangkan senyumannya."Tebak aku membawa apa." sambung Ratih lagi dengan tanganya sadari tadi berada di balik punggung menutupi sesuatu yang akan hendak ia berikan ke pada suaminya ini.


"Apa kamu ingin mengajak aku bermain tebak tebakan...??" sebuah anggukan cepat berhasil di lakukan oleh Ratih, terlihat wanita itu sangat bersemangat tak sabar menunggu apa yang akan di katakan Ricko nanti.


"Baiklah." Ricko mengelus-ngelus dagunya pelan mencoba menerka-nerka." Apel." tebak Ricko, ia yakin istrinya pasti membawa buah apel.


"Ehem." Ratih menggeleng cepat wajahnya pertanda kalau tebakan suaminya salah.


"Kopi, kamu pasti membawakan aku kopi kan." Ricko menaik turun kan alisnya ia yakin kali ini tebakannya pasti benar.


"Salah."


"Salah." guma Ricko mengerutkan keningnya hingga kerutan itu terlihat jelas di mata Ratih, wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


"Tereng...." Ratih dengan cepat menunjukkan apa yang dia bawa dari dapur.


"Mangga."


"Hem, aku ingin kamu makan mangga ini." ucap Ratih penuh semangat. sedangkan Ricko sudah ngilu sendiri melihat buah mangga yang terlihat masih sangat muda.


"Ayo Dedy cepat buka mulutnya Mami akan menyuapi Dedy sekarang. aaaa..." seraya tangan Ratih mengambil sepotong buah mangga mengangkat tangannya hendak menyuapi suaminya ini. namun dengan cepat Ricko segara menggelengkan kepalanya.


"Sayang jangan, aku tidak bisa memakan buah belum matang." elak Ricko menutup mulutnya rapat rapat.


"Aaaaa.... kamu harus makan ini, pokoknya kamu harus makan." rengek Ratih.


"Sayang aku tidak terbiasa memakan buah belum matang, bukanya tadi kamu yang ingin makan mangga muda." tutur Ricko masih terus menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya aku memang ingin mangga muda tapi aku inggin kamu yang memakannya bukan aku." Ratih memanyunkan bibirnya.


"Tapi sayang---"


"Hik... hik... hik..."


"Yah sayang kok malah nangis."


"Kamu pasti tidak mau makan kan karena aku yang mengupasnya, coba aja kalau Selfi yang mengupasnya kamu pasti langsung mau." ucap Ratih dengan raut wajah sedih, entah kenapa dirinya merasa sangat sedih jika Ricko tidak mau makan buah mangga yang sudah ia kupas.


"Ya ampun sayang bukan begitu, kenapa kamu malah bawa bawa nama Selfi sih kan ini tidak sangkut pautnya dengan dia." tutur Ricko.


"Hik... hik... kalau kamu tidak mau ya sudah aku kasih Kasim Han saja." ucap Ratih setelah itu langsung membalikkan badannya namun belum sempat Ratih berbalik Ricko sudah lebih dulu memegang tangan Ratih.


"Jangan kasi biawak itu, aku sudah susah susah mengambilnya kamu mau kasi dia." protes Ricko.


"Bukannya kamu tidak mau." balas Ratih.


"Siapa bilang aku tidak mau sini akan aku habiskan semua." gerutu Ricko seraya dengan cepat tangannya mengambil potongan buah mangga.


"Aaaa..." Ratih kembali mengambil potongan mangga melayangkan potongan itu ke mulut Ricko.


"Eeeppp..." Ricko memegang perutnya, laki laki itu benar benar tidak tahan dengan cepat Ricko pergi ke kamar mandi memuntahkan semuanya apa yang ada di mulutnya.


"Hahhh.... buah mangga apaan ini kenapa rasanya asam sekali." gerutu Ricko.


"Sayang.... aaakkk lagi." ucap Ratih kembali mengambil potongan mangga.


"Sayang buah ini sangat asam, aku tidak suka." Ricko sudah mengigil ngilu.


"Aaaa.... pokoknya kamu harus habiskan." Rengek Ratih seraya tanganya dengan cepat menyuapi Ricko memaksa suaminya memakan buah mangga.


******

__ADS_1


Sudah lebih dari 20 menit Ricko belum juga keluar dari kamar mandi entah apa yang di lakukan laki laki itu, sedangkan Ratih sudah uring-uringan sendiri menunggu dari tadi.


"Kenapa lama sekali." guma Ratih mendengus kesal.


Clek...


Sontak Ratih langsung memalingkan wajahnya dengan cepat menatap ke arah kamar mandi senyuman yang dari tadi tak henti hentinya di bibir Ratih pun kini mulai memudar dengan sendirinya tak kala melihat Ricko menatap tajam ke arahnya. Ricko melangkah pelan pelan mendekati istrinya mencengkram lengan wanita itu hingga membuat Ratih tidak bisa bergerak sekaligus membulat penuh matanya.


"S-Sayang...."


"Suuuttttt..." Ricko mengatupkan telunjuknya di bibir Ratih mengisyaratkan untuk tidak berbicara.


"Sudah cukup kau menyiksaku hari ini sekarang giliran, kau harus membayar semuanya atas apa yang telah kau lakukan." guma Ricko lalu pelan pelan Ricko menjatuhkan Ratih di atas rajang menindih istrinya itu.


"Beby kamu baik baik ya di sana Dedy mau menghukum Mami mu sebentar karena sudah seharian penuh Dedy di kerjain oleh Mami sekarang giliran Dedy mengerjai Mami mu sayang.suuutttt kamu jangan berisik ya." bisik Ricko di perut Ratih


seraya mengecup perut itu beberapa kali.


"Mas kata dokter---"


"Suuuttttt.... aku tidak menyuruhmu berbicara diamlah." sahut Ricko memotong ucapan Ratih.


Ricko pelan pelan penuh lembut mencium setiap lekuk bentuk tubuh istrinya itu. dengan tangannya sudah menjelajahi area terlarang.


Desahan demi desahan pun Ratih keluarkan teryata Ratih sudah mulai menikmati permainan yang di lakukan Ricko hingga membuat ia lupa akan apa yang di katakan dokter tadi siang.


*****


"Kenapa belum turun juga." guma ibu Susi.


"Tias..." panggil wanita tua itu.


"Iya nyonya."

__ADS_1


"Cepat panggil Ratih dan Ricko kenapa mereka belum turun juga, apa mereka tidak mau makan malam." perintah ibu Susi.


"Baik nyonya." pamit Tias.


__ADS_2