
Semua terlihat sibuk bersiap-siap mengumpulkan semua barang mereka karena sebentar lagi mereka akan pergi ke India. ini adalah perjalanan pertama bagi Ratih maupun Tania, di mana mereka pertama kali akan pergi ke luar negeri. setelah mendapat kabar kalau ia akan pergi ke luar negeri sadari tadi Tania tidak pernah memudarkan senyumannya. ia begitu semangat pergi berlibur, untuk pertama kalinya ia akan pergi ke India.
Berbeda halnya dengan Ricko. laki-laki itu terus saja mendengus kesal. sebenarnya ia tidak ingin pergi, ia sangat malas pergi keluar negeri apalagi ke India. itu adalah salah satu negara yang membuat suasana hatinya buruk. dua tahun sebelumnya Ricko pernah pergi ke India bersama Ibu Susi, mereka pergi menghadiri acara pernikahan salah satu anak teman Ibunya. awalnya dia merasa nyaman tapi lama-lama kelamaan seorang wanita yang berpakaian super seksi menghampirinya, wanita itu bahkan mencoba menggoda Ricko dengan cara duduk di pangkuan Ricko dan tangannya bergelayut manja di leher Ricko. sontak saat itu juga Ricko mendorong kasar wanita itu hingga tergeletak di lantai, suasana pun menjadi riuh semua para tamu pun melihat kearahnya dengan tatapan tak percaya. karena merasa di perhatikan Ricko pun bergegas keluar acara tanpa pikir panjang laki-laki itu langsung pulang ke negaranya dengan perasaan diliputi penuh kekesalan.
"Mas pilihlah mana pakaian mu yang ingin di bawa." tutur Ratih yang sudah mengeluarkan beberapa setelah jas dari lemari ia menaruh pakai itu di atas ranjang.
"Mas..." panggil Ratih kedua kalinya karena ia merasa panggilannya tidak terdengar di telinga Ricko. namun lagi-lagi Ricko tidak mendengarnya.
"Mas Ricko." kali ini suara Ratih sedikit lebih tinggi.
"Ah, ya ada apa..??" sontak Ricko langsung menatap ke arah Ratih.
"Mas kamu ini kenapa sih?? aku panggil dari tadi juga enggak di jawab-jawab. kamu lagi mikirin apa sih??" tanya Ratih seraya mendekati Ricko. wanita itu duduk tepat di depan Ricko.
"Tidak, aku tidak apa-apa." elak Ricko."Tadi kamu bilang kalau kamu manggil aku, ada apa??"
"Itu..." tunjuk Ratih ke arah pakai Ricko."Mana pakai yang ingin kamu bawa...??"
"Hem." Ricko mengembangkan senyumnya."Sayang suka ati kamu, kamu pilih baju apa, semu baju yang kamu pilih pasti akan aku pakaian jadi pilihlah sesuai selera mu." jawab Ricko seraya membelai rambut Ratih lembut.
"Beneran ni aku yang pilih, nanti kamu malah komen lagi pilihan aku kayek bapak-bapak."
"Hahahaha..." Ricko terkekeh mendengar perkataan Ratih."Sayang bukankah aku sudah menjadi bapak-bapak sekarang, Hem." Ricko semakin mengacak rambut Ratih.
"Aaaaaa... mas sudah rambutku bisa rusak." hindar Ratih, ia hendak bangun namun tidak semudah itu karena Ricko tidak akan membiarkannya lepas begitu saja.
"Enak saja pergi setelah menggodaku." guma Ricko setelah sesaat Ratih terjatuh kembali ke ranjang.
__ADS_1
"Mas, kita mau pergi Lo." ucap Ratih, ia bisa menebak pasti akan terjadi sesuatu di luar kendalinya.
"Lalu apa masalahnya, Hem." Ricko mengangkat dagu Ratih.
"Mas nanti kita bisa terlambat."
"Hahahaha..." Ricko semakin terkekeh."Hahahaha. sayang emang kamu pikir aku akan melakukan apa kepadamu...??"
Wajah Ratih seketika langsung berubah menjadi masam."Dasar ubi karet." geram Ratih hendak kembali bagun namun lagi-lagi Ricko kembali menahannya.
"Aku hanya bercanda maafkan aku." rayu Ricko.
Sementara Ratih memalingkan wajahnya ke arah lain. ia merasa geram menatap wajah Ricko.
"Berikan tanganmu." perintah Ricko.
"Berikan."
"Enggak." Ratih masih bersikeras.
"Kamu yakin tidak mau memberikan tanganmu padahal tadi aku pikir aku akan memberikan kamu hadia. tapi kalau kamu tidak mau ya sudah aku berikan untuk yang lain saja." tutur Ricko berpura-pura bangun.
"Heh." Ratih membuang nafas panjang. baiklah hehhh." Ratih dengan perasaan kesal menyodorkan tangannya. sementara Ricko langsung tersenyum penuh kemenangan. laki-laki itu langsung kembali duduk pada tempatnya.
"Ayo tutu matamu." perintah Ricko.
"Hah, tidak mau. berikan saja tidak perlu menutup mata segalak."
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu tidak mau menutup mata tidak jadi berarti." Ricko kembali berpura-pura bangun.
"Hehhh. ya ya ya. aku akan menutup mataku sekarang cepat berikan." ucap Ratih kini sudah menutup matanya rapat-rapat.
"Hem, jangan buka ingat. jangan buka sebelum aku memerintahkannya."
"Iya..."
Senyuman lebar kembali terukir di wajah Ricko. ia perlahan-lahan membukakan celananya hingga tersisa celana dalamnya. ia pelan-pelan mengambil tangan Ratih dan menurunkan di atas sesuatu yang sudah sangat mengeras di sana. senyuman licik penuh maksud.
"Ayo sayang coba kamu tebak apa itu." guma Ricko terkekeh kecil.
Setelah mendengar perkataan Ricko Ratih langsung memegangnya ia mencoba meneliti."Apa ini kenapa keras sekali." Guma Ratih seraya memencet dengan sangat pelan.
Selang beberapa saat Ratih langsung menghempaskan tangannya. sesuatu yang tidak enak sudah terasa pada dirinya.
"Ambil saja hadiahnya aku tidak butuh." Ratih hendak kembali bagun.
"Eeettt... mau kemana kamu, kamu harus bertanggung jawab. kamu harus menjinakkannya kembali jangan sampai dia pergi terbang mencari sarang di luar sana." ucap Ricko kini suda menindih Ratih.
"Mas nanti kita---"
Belum sempat Ratih berbicara Ricko sudah lebih dulu menyerang mulut Ratih. bahkan sampai membuat Ratih tidak bisa berbicara sama sekali.
**Bersambung.....
Ayo semuanya, author doakan agar kalian sehat selalu amin 🤲**
__ADS_1