Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 91


__ADS_3

"Apa ini...??" tanya Ratih ketika ia melihat sesuatu nampak seperti kotak makan berada di atas meja kerja Ricko.


Ricko dan Kevin saling pandang, mereka berpikir dalam pikiran mereka masing-masing."Itu makanan Kevin, ya itu makanan Kevin. benarkan Vin." Ricko mengisyaratkan dengan bola matanya.


"Iya nona itu makanan saya, saya tadi menaruh di situ." ucap Kevin seraya mengambil makanan itu.


"Ooooo" Ratih manggut-manggut pertanda mengerti.


"Sayang kemarilah aku sudah tidak sabar ingin memakan masakan kamu." ujar Ricko menepuk sofa di sampingnya.


"Ehm." Ratih segera berjalan ke arah sofa yang di tepuk Ricko tadi.


"Tuan muda, nona muda kalau begitu saya izin permisi saya tidak mau jadi nyamuk di antara tuan dan nona." tutur Kevin lalu membalikkan badannya.


"Kevin." panggil Ratih cepat.


"Iya nona." sahut Kevin setelah membalikkan badannya kembali menatap ke arah Ratih.


"Kenapa kau pergi kemarilah kita makan bersama sama aku tadi memasak banyak." pinta Ratih.


"Tidak, enak saja. sayang tadi kamu masak untukku kan kenapa kamu malah ngajak dia. aku tidak mau makanan yang kamu buat di kasih pria lain selain diriku." ketus Ricko." biarkan Kevin makan di luar saja sayang." sambung Ricko lagi.


Ratih menarik nafas dengan kasar."Suamiku yang tampan, ganteng, imut, seksi dan paling kaya sedunia kita itu harus saling berbagi harus saling melengkapi dan juga harus saling tolong menolong. bukankah rezeki kita akan berlimpah kalau kita berbagi jadi tidak masalah ya kalau makanan ini kita bagi Kevin. bukankah dia juga sudah di anggap sebagai keluarga oleh ibu." jelas Ratih mengembangkan senyumnya penuh.


"Tapi sayang."---


"Suamiku sayang, permata hatiku, rembulan malam kita itu harus saling membagi tidak boleh pelit nanti kuburan kita sempit Lo." rayu Ratih memegang lembut dagu Ricko.


"Baiklah, kali ini aku mengalah tapi aku tidak mau Kevin duduk di sini dia harus duduk di sana." tunjuk Ricko ke arah sofa paling pojok.


"Pak bos sekali kenak rayuan ibu bos langsung luluh."

__ADS_1


"Kevin tunggu apa lagi ayo cepat duduk nanti makanannya dingin." tutur Ratih.


"Terimakasih nona."


"Tidak perlu terimakasih bukankah kita sudah di anggap seperti keluarga oleh ibu."


"Sayang udah kamu tidak perlu berbicara dengannya lagi kamu berbicara denganku saja." ucap Ricko.


"Ya ampun suamiku kenapa kamu sangat cemburu sih."


"Aku tidak cemburu, untuk apa coba aku cemburu kepada Kevin."


"Lalu itu apa namanya."


"Aku hanya tidak suka saja kamu berbicara dengan laki laki lain di depanku." elak Ricko.


*****


Di ruangan khusus tamu


"Katrina kamu kenapa...??" tanya tuan Fernandez.


"Aku benci aku benci wanita itu pah." tutur Katrina memukul kasar meja di depannya.


"Siapa?? siapa wanita yang kamu benci sayang...??"


"Siapa lagi kalau bukan Ratih, dia sudah merebut Ricko dariku bahkan dia sudah membuat Ricko tergila gila padanya.aaaaa...."


"Putriku Katrina tenanglah, papa akan berusaha membuat Ricko jantuh cinta kepadamu. papa akan pastikan itu."


"Aku mau Ricko pah, aku mau Ricko dia adalah milikku, dia hanya boleh memiliki ku pah."

__ADS_1


"Aku lebih dulu menyukai Ricko pah, aku lebih dulu mengenalnya ketimbang wanita itu, sudah bertahun tahu aku menantikan Ricko aku sangat merindukannya tapi dia malah menikah dengan wanita lain. percuma pah, percuma aku merubah wajahku kalau aku juga tetap tidak bisa memiliki Ricko. hik...hik...hik..."


"Sayang..." tuan Fernandez langsung memeluk putrinya itu.


*****


"Mas aku keluarnya aku mau menemui Zahra, sudah lama aku tidak menemuiya." ucap Ratih.


"Ehm, hati-hati jangan lari-lari ingan kamu itu lagi hamil." pita Ricko menasehati istrinya.


"Iya lo mas aku itu bukan anak kecil yang selalu di nasehati." tutur Ratih lalu langsung pergi.


Ratih kini sudah turun di lantai 20 lantai di mana biasanya Zahra bertugas, lantai yang banyak di penuhi para tamu dan klien penting. harus orang berpengalaman dan khusus bisa masuk ke lantai 20 ini, di karenakan Ratih adalah istri dari pemilik perusahaan jadi dia bebas keluar masuk di berbagai ruangan. tak lupa semua para karyawan pun menundukan kepalanya jika bertemu dengan Ratih, mereka sudah menganggap Ratih sebagai bos mereka juga, ya walaupun Ratih pernah menjadi OB di perusahaan ini.


"Zahra..." guma Ratih ketika melihat temannya itu berada tak jauh dengannya sedang membersihkan lantai. Ratih sedikit melajukan kecepatan langkahnya dengan bola mata masih menatap ke arah Zahra dia tidak menyadari hingga seseorang menabraknya dari samping.


"Aaaaaa...." pekik Ratih hampir terjatuh untung saja ia berhasil mengimbangi tubuhnya itu.


"Wanita sialan berani beraninya kau menabrakku." ucap orang itu tak lain adalah tuan Fernandez.


"Maaf tuan maaf, saya tidak sengaja." tutur Ratih berusaha memperbaiki keadaan.


"Maaf kamu bilang. enak saja kamu bilang maaf, kamu tidak tau siapa saya hahhh..." kali ini suara tuan Fernandez sedikit meninggi.


"Sekali lagi saya mintak maaf tuan saya bersalah saya tadi benar-benar tidak sengaja."


"Maaf maaf, cepat ambilkan berkas berkas ku." perintah tuan Fernandez, ya memang semua berkas yang di pegang tuan Fernandez sudah berhamburan saat tertabrak Ratih tadi.


"Tapi tuan saya lagi hamil, saya tidak bisa berjongkok." elak Ratih.


"Kurang ajar." teriak tuan Fernandez lalu mendorong tubuh Ratih.

__ADS_1


"Aaaaaa....."


Bersambung........


__ADS_2