Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 77


__ADS_3

"Vin..." panggil Ricko setelah sesaat ia keluar dari ruangan dokter. tangannya sudah mengepal sorot mata menusuk dan rahang mengeras membuat Ricko seperti monster mengerikan.


"Siap bos." sahut Kevin kini berada tepat di depan Ricko.


"Cari tau dimana cafe yang Ratih datangi tadi dan temukan pelayan yang melayaninya seret mereka ke hadapanku." tutur Ricko dingin lalu langsung melangkah pergi menuju ruangan Ratih.


"Halo." ucap seseorang di sebrang sana.


"Cari tau apa yang terjadi temukan orang yang mencoba mencelakai menantuku. temukan mereka sekarang juga hidup atau mati."---


"Baik nyonya."----


Clek... (suara pintu terbuka)


Hembusan nafas tadinya memanas kini melunak dengan sendirinya, sorot mata juga tadinya menajam menusuk kini mulai sedu. dengan pelan pelan dan hati hati Ricko melangkah mendekati ranjang nampak seseorang terbaring lemas di sana dengan tubuh sudah di suntik jarum infus di pergelangan tangannya.


Senyuman kecil terbit begitu saja di bibir Ricko tak kala saat melihat wanita yang sangat ia cintai berpaling menatap ke arahnya."Sayang." gumanya pelan namun penuh arti.


Ratih membalas senyuman Ricko laki laki yang telah menjadi suaminya sekarang namun hanya sesaat seketika itu senyumannya langsung menghilang begitu saja bagikan di terjang angin. kata kata Selfi kembali teringat di kepalanya, sontak Ratih langsung memalingkan tatapannya menatap ke arah sela jendela kaca yang di tutupi gorden berwarna putih.


Ricko kini sudah duduk di salah satu kursi yang memang sudah di sediakan. mencoba meraih tangan tangan Ratih." Sayang..." guma Ricko lagi namun dengan cepat Ratih memiringkan badannya memunggungi Ricko.


Senyuman kecil kembali terbit di bibir Ricko."Ada yang ngambek rupanya." tutur Ricko.


Ricko menghela nafasnya memang ibu hamil sangat susah di tebak pikir Ricko.


"Sepertinya apa aku bawa ini tidak menarik perhatian, ehm tidak apa apa kalau begitu aku makan saja sendiri." sambung Ricko lagi mencoba melunakkan Ratih dengan sesuatu yang ia bawa.


"Emh... enak sekali, ini benar benar makanan terlezat yang pernah aku makan." guma Ricko mencicip makanan yang ia bawa.


Ratih memejamkan erat matanya seraya menelan ludah dengan sangat kasar."Aku tidak boleh tergoda, aku tidak boleh tergoda, aku tidak boleh tergoda." membatin Ratih yang terus saja mengulang-gulang kata kata itu.

__ADS_1


"Emh... uuuppp.... enaknya..." guma Ricko seraya membunyikan lidahnya seolah olah makanan ya ia rasa sangat lezat.


krukkk... suara perut, sontak Ratih langsung memegang perutnya.


"Wah tinggal satu suapan lagi, karena istriku tidak mau kalau begitu aku habiskan saja ya... aaaa..."


"Jangan..." ucap Ratih cepat dengan segera membalikkan badannya menghadap ke arah Ricko. sementara Ricko mengembangkan senyuman penuh kemenangan.


"Berikan kepadaku." tutur Ratih hendak merampas.


"Eeettt..." ucap Ricko seraya menjauh makanan itu.


"Katanya tidak mau." ucap Ricko pura pura ngambek.


"Siapa bilang tidak mau, aku tidak mengatakan hal itu." gerutu Ratih.


"Terus ngapain kamu memunggungi ku...??" tanya Ricko.


"Ya sudah marah saja sana aku mau menghabiskan makanan ini dulu nanti kita lanjutkan marahannya." ucap Ricko hendak memakan makanan yang tersisa."aaaa...."


"Jangan..." guma Ratih mencoba merampas lagi namun tidak bisa karena Ricko keduluan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Eeee...." Ratih mengertak kan giginya seraya memukul bahu Ricko pelan lalu hendak membalikkan badannya lagi. dengan cepat Ricko memegang pinggang Ratih sedangkan tangan satunya lagi memegang dagu Ratih.


Dengan cepat Ricko menanamkan bibirnya di bibir Ratih seraya mendorong makanan yang tadi sengaja ia kunyah ke dalam mulut Ratih lalu lidahnya menjelajah setiap inci mulut istrinya itu. hingga membuat istrinya kehabisan nafas.


"Hah...hah...hah..." suara nafas Ratih nampak tergesa-gesah.


"Aku sangat mencintaimu." bisik Ricko di telinga Ratih dengan penuh manja.


*****

__ADS_1


"Nyonya..." ucap seseorang dengan postur tubuh tinggi dan gagah.


"Ehm..."---


"Kami sudah membawa orang yang melayani pemesanan nyonya muda nyonya." ucap Pria itu.


"Bawa orang itu kemari." ---


Pria itu pun langsung menyembunyikan tanganya mengisyaratkan sesuatu.


"Lepaskan saya, lepaskan saya. Saya mohon." ucap seseorang di ambang pintu. orang itu pun langsung di dorong dengan kuat hingga jatuh tepat di hadapan nyonya mereka.


"Aaaaa...." pekik orang itu kini tergeletak di lantai.


"Nyonya ampuni saya, saya tidak bersalah nyonya." guma Orang itu seraya bersujud setelah sesaat ia mengetahui siapa orang yang di hadapannya sekarang.


"Apa yang kamu taruh di dalam makanan menantuku..??"---


"Nyonya ampuni saya nyonya, saya tidak bersalah saya tidak menaruh apa apa di makanan nyonya muda Ratih nyonya." elak orang itu.


"Kamu pikir aku percaya." --- "Hidupkan CCTV." sambung lagi.---


"Baik nyonya."


CCTV pun di putar dengan layar cukup lebar hingga membuat kejadian itu terlihat sangat jelas.


"Kau mengenali orang itu.''---


"N-nyonya." dengan bibir gemetar." ampuni saya nyonya saya cuma di suruh."


"Kamu tau apa yang telah kamu lakukan. gara gara kamu aku hampir kehilangan cucuku. sekarang katakan siapa yang menyuruhmu..??" hah..??"

__ADS_1


"N-nona M-Mawar nyonya. salah satu dokter di rumah sakit xx."


__ADS_2