
Suasana sudah kembali seperti semula di acara di acara pesta ulang tahun Amitabh Bachchan. setelah menyelesaikan agenda pertemuan dari perpisahan yang sekian lamanya akhirnya laki-laki tua itu bisa duduk dengan tenang. aura kebahagiaan sangat terpancar di wajah laki-laki tua itu, Amitabh Bachchan tak henti hentinya tersenyum bahagia. sorot matanya tak lepas selalu memerhatikan Ratih dana Tania yang kini duduk bersebelahan dengan dirinya.
"Ami aku tidak menyangka sekarang kita sudah jadi besan." Ibu Susi memulai pembicaraan.
"Iya Susi aku juga tidak menyangka, tapi aku sedikit menyesal karena waktu pernikahan cucuku aku tidak datang." sahut Ami dengan suara sedih.
"Kakek jangan sedih sekarang Ratih kan ada disini." Ratih berusaha menyemangati Amitabh Bachchan.
"Kakek tenang saja nanti ketika Tania menikah kakek adalah orang pertama yang akan melihat Tania." tutur Tania antusias.
Amitabh Bachchan tersenyum senang ketika mendengar perkataan Tania barusan. di usianya yang sudah lampau seperti ini hanya cucu-cucunya lah yang bisa membuat ia senang. untuk apa memiliki kekayaan yang melimpah tapi tidak ada orang yang kita sayang berapa di samping kita, semuanya seakan tidak berarti. keluar adalah segalanya sekarang bagi Amitabh Bachchan dia tidak mau kejadian masa lalu terulang lagi cukup itu menjadi pelajaran dalam hidupnya.
"Rahul..." panggil Ami kini menatap hangat ke arah Rahul, ia menyadari kalau anak angkatnya itu sedang termenung sekarang.
"Iya Pah." Rahul mendongakkan kepalanya juga kini menatap ke arah Papa angkatnya, yang selama ini telah merawatnya dari kecil hingga besar. setelah kepergian Suram dan Sonia, Amitabh Bachchan terpukul berat merasa sangat kehilangan hingga tiga tahun mendatang ia bertemu Rahul di jalanan tanpa sengaja sorot Amitabh Bachchan melirik ke arah Rahul yang kala itu sedang asik mengamen. Amitabh Bachchan langsung teringat akan cucunya mungkin sekarang anak itu sudah sebesar cucunya Sonia. Amitabh Bachchan langsung turun dari mobil melangkah mendekati Rahul.
"Nak...??" panggil Amitabh Bachchan.
"Tuan mau saya nyanyikan lagu.??" Rahul langsung bertanya, sebuah senyuman bahagia pun tersungging di bibir anak itu. ia begitu bahagia karena ada juga orang yang mau mendengarkan lagunya.
"Iya, aku ingin mendengarkan lagu. tolong nyanyikan lagu yang indah untukku."
"Benarkah tuan." Rahul sontak antusias kegirangan. "Silahkan duduk tuan aku akan nyanyikan sebuah lagu yang indah buat tuan." Rahul sudah mulai bersiap-siap untuk memulainya.
Amitabh Bachchan langsung duduk di tempat yang sudah di siapkan oleh Rahul, tepat pinggiran jalan terlihat kumuh tapi sangat bersih. Rahul pun mulai bermain gitar.
*Tu hi ye mujhko bata de
Chaahun main ya na.....
Apne tu del ka pata de
chaahun main ya na.....
Itna bata dun tujhko
Chanat pe apni mujhko
yontoh nahi iktiyaar....
Phir bhi ye socha del ni
Ab jo laga hun milne
Poochun tujhe ek baar...
Tu hi ye mujhko bata de
Chaahun main ya na.....
Apne tu del ka pata de
__ADS_1
chaahun main ya na*.....
*Aisi kabhi pehle hui na thi
khwanis hien... oh...
Kisi bhi milne kina khithi koishishein
Uljhan meri suljha de
Chaahun main ya na
Aankhon aankhon mai jata de
Chaahun main ya na.
Tu hi ye mujhko bata de
Chaahun main ya na.....
Apne tu del ka pata de
chaahun main ya na*.....
Tanpa terasa air mata haru keluar begitu saja tanpa di perintah. Amitabh Bachchan sontak berdiri memeluk Rahul erat, membuat anak kecil itu dalam dekapannya.
"Hik... hik..." Amitabh Bachchan menumpahkan seluruh kerinduannya pada anak itu.
"Nak di mana Ibu mu??" tanya Amitabh Bachchan sesaat setelah meregangkan pelukannya.
"Aku tidak punya Ibu tuan, kata nyonya Takur Ibuku sudah meninggal saat melahirkan ku." jawab Rahul cepat tanpa ekspresi apapun.
"Nyonya Takur, siapa nyonya Takur?? apa dia bibi mu..??"
"Bukan tuan dia adalah seorang nyonya, dia bilang aku hanyalah anak buahnya aku di suruh kerja tiap hari mencari uang. terus dia bilang lagi aku harus mendapatkan uang yang banyak kalau mau makan ayam goreng." jelas Rahul polos mengikuti apa yang di katakan nyonya Takur ketika dia sedang di marahi.
"Lalu ayah kamu di mana nak...??"
"Aku tidak punya ayah tuan, nyonya Takur juga bilang kalau ayahku sudah mati jauh sebelum aku lahir kedunia ini."
Amitabh Bachchan langsung kembali menangis rupanya ada orang jauh lebih menyakitkan dari padanya. Amitabh Bachchan kembali memeluk Rahul bahkan kali ini pelukannya semakin erat.
"Rahul... Rahul..." teriak seorang wanita paruh baya kini sedang berjalan ke arah Rahul.
"Nyonya Takur." wajah Rahul langsung berubah takut. anak itu sontak berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Amitabh Bachchan.
"Tuan lepaskan saja." Rahul menelan ludahnya kasar.
Amitabh Bachchan pun langsung merenggangkan pelukannya ia juga kini menatap ke arah nyonya Takur kini sudah berada tepat di samping Rahul.
__ADS_1
plak....
"Anak kurang ajar, aku menyuruhmu mencari uang bukan bermain pelukan dengan orang tidak kamu kenal." ucap nyonya Takur sesaat setelah ia menampar keras pipi Rahul.
"Hik... hik... hik..."
"Hey apa yang kau lakukan." Amitabh Bachchan merasa tidak percaya apa yang ia lihat.
"Bukan urusan anda, anak ini harus di kasi pelajaran dari dulu dia selalu saja menyusahkan ku." gerutu nyonya Takur.
"Ayo cepat ikut aku, aku akan memberimu hukumnya yang lebih berat kali ini." nyonya Takur berusaha menarik tangan Rahul namun anak itu sudah lebih dulu memegang kaki Amitabh Bachchan erat.
"Rahul...." teriak Nyonya Takur.
"Lepasin dia anda tidak berhak memperlakukan anak kecil seperti ini." tegas Amitabh Bachchan.
"Bukan urusan anda! ini urusan saya sama anak kurang ajar ini." sahut nyonya Takur kembali menarik paksa Rahul.
"Lepasin dia atau aku akan melaporkan anda ke polisi." ancam Amitabh Bachchan.
Nyonya Takur langsung tersentak. "Siapa anda berani berkata seperti itu. anda tau siapa saya."
"Anda yang tidak tau siapa saya, kalau anda tau siapa saya, saya yakin anda akan berlutut di kaki saya memohon ampun."
"S-siapa Anda...??" tanya nyonya Takur sedikit terbata-bata.
"Anda tidak perlu tau siapa saya." jawab Amitabh Bachchan singkat lalu ia mengeluarkan cek yang tertulis uang 400 lakh. "Saya rasa ini cukup untuk apa yang telah anda lakukan selama ini pada Rahul."
Nyonya Takur langsung membulat matanya penuh, ia sudah tau sekarang kalau orang yang berada di hadapannya bukanlah orang biasa. "Anda pikir anak saya ini budak."
"Jangan coba-coba main-main dengan saya atau saya tidak akan mengampuni anda lagi nantinya."
Wajah Nyonya Takur langsung pusat pasi, lebih baik aku menerima saja dari pada nanti berusasan dengan polisi apalagi dia tadi melihat aku melakukan kekerasan tadi. "Baiklah aku terima anda boleh membawa anak kurang ajar ini." ucap Nyonya Takur menerima cek itu lalu langsung pergi.
"Rahul..." Amitabh Bachchan membungkuk mencoba berbicara dengan Rahul. "Sayang mulai sekarang kamu panggil tuan Papa ya nak."
"Papa.." Rahul merasa tidak mengerti apa yang di maksud Amitabh Bachchan.
"Iya karena sekarang kamu anak Papa, ayo kita pulang ke rumah." Amitabh Bachchan mengendong anak kecil itu. ia begitu bahagia sekarang walau tidak sepenuhnya karena perasaan seorang ayah akan tetap pada anaknya sendiri.
Semenjak saat itulah Amitabh Bachchan tidak terlalu terpikiran lagi tentang Sonya dan Suram. bukan berarti Amitabh Bachchan tidak mencari lagi keberadaan anak cucunya itu melainkan dia sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari mereka.
Semenjak saat itu lah Rahul naik pangkat seratus derajat Celcius, dia menjadi anak kecil yang paling beruntung di dunia ini. dia di pakaikan pakai mewah semua keinginannya di penuhi oleh Amitabh Bachchan. laki-laki tua itu sudah menganggap Rahul sebagai anak kandungnya sendiri. Rahul bahkan di ajari berbisnis oleh Amitabh Bachchan, pengetahuan Rahul di bidang itu membuat Amitabh Bachchan semakin bangga memiliki Rahul. hingga sampai saat ini di usianya yang sekarang Rahul di berikan kekuasaan sendiri mengelola bisnis industri impor mengimpor. nama Rahul pun semakin terkenal tidak hanya di dunia nyata dunia maya pun ikut bergetar mendengar nama Rahul. laki-laki yang memiliki wajah tampan, hidungnya yang mancung dan tubuhnya yang sempurna membuat semua orang mengidolakannya sampai dia di juluki pria blesteran surga.
Siapa sih yang enggak mau sama laki-laki kaya mapan dan genteng, semua orang juga mau kali hehehehe.
Rahul
__ADS_1