
Nia menghela nafas kesekian kalinya, emosinya seakan memburu ke ubun-ubun naik dan meledak, Bommmmm. Rasanya ingin sekali meluapkan semua kekesalannya terhadap satu manusia yang membuat ia geram sadari tadi.
Bunyi alarm habis waktu mata pelajaran pun terdengar, semua orang secara bergiliran keluar kelas kecuali para perempuan penggemar baru Devan. Mereka masih senantiasa menunggu, menatap Devan dengan tatapan terpana.
Nia berdecak kecil, langkah kakinya yang baru dua langkah ia layangkan sudah terjeda. Sosok laki-laki jangkung yang sangat ia hindari berdiri tepat didepannya.
Nia melengos hendak mengambil jalan bundar melewati laki-laki menyebalkan itu, gara-gara dia sekarang nama Nia jadi sorotan mahasiswi. Tapi sayang lagi-lagi Devan berdiri tepat didepannya.
Devan tersenyum kecil lalu tanpa aba-aba dia menggenggam tangan Nia, memasukkan jemarinya kedalam jemari Nia yang membuat semua orang histeris, sedangkan Nia terkejut bukan main.
Devan menarik sedikit kasar tangan Nia, agar wanita itu secepatnya mengimbangi langkahnya. Nia yang di seperti itu kan-pun tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah pria jangkung itu.
Percuma melawan, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya. Semua pasangan mata tidak henti-hentinya menatap kearah Nia, banyak wanita yang histeris dan banyak juga wanita yang terpana senyum-senyum sendiri.
Pesona dan ketampanan Devan memang tidak diragukan lagi, wajahnya yang bak dewa Yunani berhasil menghipnotis siapa saja yang lewat, apalagi Devan memenuhi standar sebagai pria tertampan di dunia ini.
Badannya yang tinggi nam sixpack itu membuat siapa saja akan meleleh walau hanya membayangkannya saja.
Setiba di parkiran dimana mobil Devan sudah terlihat dan bahkan berada disampingnya. Devan menghempas kasar tangan Nia hingga membuat tangannya sedikit tersentak dan melayang tinggi.
Devan tidak berkata apa-apa dia hanya diam menatap Nia dengan tatapan membunuh lalu setelah itu dengan kasar memasuki mobil sport miliknya.
Menyembunyikan klakson yang bahkan hampir membuat jantung Nia berhenti berdetak seketika. Nia yang terkejut sontak menghindar, mengusurkan tubuhnya kebelakang agar mobil Devan bisa berlaju.
"Pria brensekkkk..... Bajingan, gilaaaaa." terika Nia dengan suara begitu lantang. Perubahan sikap Devan yang tadinya lembut berubah menjadi kasar membuat Nia semakin emosi.
Di Sudut lain Kevin baru saja membawa mobilnya memasuki gerbang kampus. Matanya yang melirik tak menentu mencari sosok wanita yang sudah tiga tahun belakang ini menjadi tunangan.
Ia bahkan sudah sangat tidak sabar ingin mengesahkan Nia sebagai miliknya seutuhnya. Namun lagi-lagi Kevin harus mengurungkan niatnya dulu tak kala gadis yang memenuhi hatinya itu masih menolak untuk menikah.
Senyum Kevin tersungging di bibir mereh mudanya itu, saat manik-manik mata kecoklatan miliknya berhasil menemukan wanita pujaan hatinya. Sedang berdiri pojok parkir.
Kevin segera menghentikan mobilnya, menurunkan kaca spion yang di ikuti dengan senyuman mengembang.
"Sayang, apa yang kamu lakukan disitu. Ayo cepat masuk." tutur Kevin.
Nia melengos lalu dengan langkah keras ia mendekati mobil Kevin dan langsung susu diangku penumpang.
Kening Kevin berkerut tidak biasanya Nia duduk di bangku penumpang, biasanya dia selalu duduk di bangku depan.
"Sayang, kok duduknya dibelakang...??" tanya Kevin.
Nia tidak menjawab.
"Sayang, kamu ngambek karena aku telat jemput. Maafnya." rayu Kevin membuat wajahnya seimut mungkin mencoba mengubah ekspresi Nia yang sadari tadi terus ditekuk.
"Jalan." ucap Nia singkat tanpa menatap kearah Kevin.
Kevin menghela nafas panjang kalau sudah ngambek begini susuh dirayu. Kaki Kevin segera menekan pedal gas mobil.
__ADS_1
Menelusuri jalan raya yang masih dipenuhi banyaknya mobil dan motor berlalu lalang.
Selama dalam perjalanan tidak ada diantara mereka yang berbicara selain keheningan sadari tadi terus melanda.
Kevin sekali-kali melirik Nia melalui kaca spion dalam, tidak ada perubahan ekspresi apapun diwajahnya Nia selain mengerutkan bibirnya.
"Sayang kita makan dulu ya." ucap Kevin mencoba memecahkan keheningan.
"Terserah." balas Nia cepat.
"Hem'em, kamu mau makan apa??"
"Terserah."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan pizza."
"Enggak mau yang berminyak."
"Jadi kamu maunya makan apa dong??"
"Ya terserah."
Kevin mengarukkan kepalanya tak gatal kalau sudah seperti ini dia tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Kalau begitu bakso ya."
"Mie"
"Enggak mau makan mie"
"Hamburger??"
"Enggak"
"Spaghetti??"
"Enggak"
"Ya terus kita makan apa coba??"
"Ya terserah."
"Aaagggrrr....."
****
Di mansion utama.
"Mommy, Mommy Apin mau dedek bayi??" Alfin berlari sekuat tenaga, menghampiri Ratih yang kala itu berada di dapur sedang mempersiapkan susu untuknya.
__ADS_1
Ratih yang mendengar suara teriakan Alfi-pun segera menoleh, dilihatnya anak semata wayangnya berlari sembari membuka lebar-lebar tangannya. Mengharapkan segera mendapatkan pelukan dari sang ibu.
"Alfin." Ratih segera menangkap Alfi, mendaratkan seluruh ciuman di wajah anaknya itu.
"Mommy, Mommy kata Oma. Apin di suluh mintak dede bali pada Mommy." ucap anak marmut itu dengan begitu polosnya, dia mengulang apa yang baru saja dikatakan oleh Ibu Susi.
Ratih seketika terkesiap mendengarnya.
Ibu apa yang kamu suruh pada anakku??
"Nanti ya sayang, Mommy lagi sibuk. Enggak bisa beli dede bayi." ucap Ratih.
"Tapi kata Oma, dede bali endak pakek beli, suluh Mommy buatnya." ucap Alfi lagi.
Ibu...
Ibu Susi yang mengintip dari sela-sela dinding tersenyum sendiri melihatnya. Dia tidak menyangka kalau Alfi akan mengatakan sesuai apa yang dia suruh tadi.
"Mommy, Mommy tulun." pinta anak marmut itu.
Ratih dengan hati-hati menurunkan Alfin dari gendongan tangannya.
"Mommy endak mau kan...??" tanya Alfin.
"Endak, Mommy sibuk sayang. Lain kali saya ya." jawab Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
Setelah mendapatkan jawaban tanpa menunggu lama lagi Alfin pun kembali berlari.
"Alfin jangan lari-lari nak nanti jatuh." teriak Ratih yang sama sekali tidak didengarkan oleh Anak marmut itu.
Alfin terus berlari melaju-kan langkah kakinya, hingga seketika berhenti tak kala ia sudah berada didepan Oma-nya.
"Oma, Oma." panggil Alfin.
"Iya sayang, bagaimana apa Mommy mau??"
"Endak mau, kata Mommy, Mommy lagi syibuk."
"Bagus, kalau begitu kita buat rencana C. Alfin sayang kamu bantuin Oma ya. Kamu mau kan punya dede bayi...??"
"Mau Oma." Alfin mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu Alfin bantu Oma untuk mewujudkannya."
"Ok."
Sudah lama jamu ku tidak ada yang minum, sekarang sudah saatnya aku mewarisi jamu ku pada menantu ku. Agar dia bisa mempraktekkannya suatu hari nanti pada menantunya. batin Bu Susi.
Bersambung...
__ADS_1