
Sore hari Ratih dan Ricko sudah tiba di rumah tepat pukul 8 malam keduanya pun memasuki mansion tak terjadi perbincangan apa apa di antara mereka saat itu karena memang Ratih sudah sangat mengantuk bahkan ia sudah menguap beberapa kali.
"Tuan, nyonya." ucap Kasim Han memberi hormat laki laki itu berdiri tepat di depan pintu utama.
"Ehm." Ricko mengerakkan tanganya mengisyaratkan untuk tidak berbicara lagi, lalu Ricko dan Ratih langsung masuk kedalam.
*****
"Istirahatlah kamu pasti sangat capek." Ricko mencium singkat kepala Ratih lalu menarik selimut menutupi tubuh istrinya.
"Jangan pergi." ucap Ratih dengan mata sayup sayup menatap ke arah Ricko.
"Tidak aku tidak akan pergi ke mana-mana tidurlah." Ricko mengelus lembut rambut Ratih sebelum sesaat ia meninggalkan ciuma di kening istrinya itu. setelah Ricko rasa Ratih sudah pergi ke alam mimpi barulah Ricko beranjak pelan-pelan turun dari ranjang melangkah keluar dari kamar.
"Ibu." guma Ricko di kejutkan dengan adanya ibu Susi diambang pintu.
"Suuttttt.... jangan keras keras nanti kamu bisa membangunkan istrimu, kamarilah ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan denganmu." ajak ibu Susi lalu kembali menutup pintu.
"Apa kau sudah memberi pelajaran kepada wanita itu hem...??" tanya ibu susi pada inti tujuannya.
"Maksud ibu Selfi." ucap Ricko mendapatkan anggukan cepat dari ibunya.
"Aku berencana akan segera memulangkannya pada neneknya di Australia dan melarang dia untuk kembali lagi ke Indonesia." jawab Ricko.
"Tidak, ibu sangat tidak setuju kalau kamu mau memulangkannya. apa kamu sudah amnesia Ricko? kamu lupa apa yang telah ia lakukan, dia hampir saja membuat Ratih keguguran dan bahkan dia mau mencoba membunuh istrimu dan kamu malah mau memulangkannya tampa memberinya pelajaran.ck kau benar-benar laki laki bodoh. suami macam apa yang diam saja ketika istrinya di sakiti." sahut ibu Susi.
__ADS_1
"Ibu ini bukan soal perasaan atau atupun soal suami Bu tapi ini soal janji." Ricko diam sejenak, menghela nafas kasarnya sebelum sesaat ia akan menyambung kan kata katanya lagi.
"Sebelum aku menjalani hubungan dengan Selfi aku terlebih dahulu menemui keluarganya di Australia. di sana aku hanya mendapatkan neneknya saja, aku pun berbincang bincang berbagai hal dengannya. dan saat aku ingin pulang nenek itu pun berpesan kepadaku dan pesannya adalah. jika suatu hari nanti Selfi membuat masalah ataupun merugikan ku maka aku di wajibkan memulangkan Selfi padanya." sambung Ricko dengan tangannya memijat ringan dahi kepala.
"Janji." ibu Susi tersenyum singkat.
"Kau selalu begitu tidak pernah berpikir panjang sebelum membuat janji." sambung ibu Susi lagi.
"Ibu, kali ini aku berjanji. aku akan membuat Selfi tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sini bahkan di kota ini, aku akan membuat dia melupakan negara kita." ucap Ricko penuh keyakinan.
"Tidak usah berjanji kepada ibu karena ibu sudah tau apa yang akan kamu lakukan setelah berjanji. jangan pulangkan wanita itu dulu, ibu akan menemuinya." tutur ibu Susi lalu langsung pergi meninggalkan Ricko.
*
"Hey kau ini kenapa?? kenapa sampai membanting pulpen segalak...??" tanya Kevin seraya berjalan mendekati Tania yang sadari tadi terus saja memayunkan bibirnya.
"A-h, k-kak Kevin." Tania sedikit terkejut dengan kedatangan Kevin bahkan bola matanya tak berkedip menatap ke arah laki laki tampan yang hendak menghampirinya.
"Hey, kau ini kenapa?? apa ada masalah hingga kau membanting pulpen segalak...??" Kevin bertanya lagi, kini dirinya tepat berada di depan Tania.
"Agrrr, i-itu. Tania segera memalingkan wajahnya entah kenapa nafasnya tak karuan sekarang.
"Itu apa...??" Kevin ikut duduk di samping Tania."Hem katakan, barang kali aku bisa bantu."
"Kanapa jantungku berdetak sangat kencang apa yang terjadi, hufff..."
__ADS_1
"Coba kulihat apa yang sedang kau lakukan." Kevin hendak mengambil berkas berkas yang ada di depan Tania.
"J-Jangan. t-tidak apa apa." Tania segera merampas kembali berkasnya.
"Kau kenapa, aku hanya ingin membantumu sini berkasnya aku hanya ingin melihatnya." Kevin hendak mengambil kembali berkas itu namun tidak bisa karena Tania kini sudah berdiri.
"Kak Kevin aku pergi ke kamar dulu." tutur Tania.
"Hey tunggu." tangan Kevin dengan cepat memegang pergelangan tangan Tania bahkan Kevin menariknya dengan kuat hingga berhasil membuat Tania terjatuh kedalam pangkuan Kevin.
"Aaaa..." pekik Tania sebelum sesaat ia berada di pangkuan Kevin.
Deg...
Deg...
Deg...
Kevin menatap lembut ke arah Tania, memperhatikan setiap incin wajah gadis yang berada di pangkuannya sekarang. matanya yang perak bagaikan kijang betina, alisnya yang tipis setipis sutra, kelopak matanya bagaikan rembulan malam, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih bersih bagaikan mutiara pasti akan membuat para lelaki akan tunduk padanya.
"Sempurna." guma Kevin tak berkedip sama sekali.
**Bersambung.....
Heheheh ketemu lagi, maaf baru update 🙏🙏🙏 mohon maklum author sangat di liputi pekerjaan. tapi jangan kecewa dulu mulai besok author akan rajin update lagi karena pekerjaan author sudah 80 persen sudah siapa hehehehe. maaf ya telah menunggu lama 😁**
__ADS_1