Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 62


__ADS_3

Hari demi hari Ricko semakin posesif terhadap istrinya, ya, seperti sekarang di mana Ratih membatu Kasim Han menyirami tanaman bunga yang berada di are belakang mansion. Kasim Han sudah berapa kali melarang Ratih untuk tidak membantunya namun karena keras kepala Ratih tetap teguh akan pendiriannya.


"Nyonya tolong jangan melakukan ini biarkan saya saja." ucap Han seraya mencoba mengambil sprinkle dari tangan Ratih.


Ricko sedang menikmati minuman kopi di balkon atas ia ingin beristirahat sejenak mengingat hari ini adalah hari libur, Ricko terasa ingin bermalas-malas di rumah. tampa sengaja pandangan Ricko beralih menatap Kasim Han sedang mencoba mengambil sesuatu dari tangan Ratih. sontak saja membuat sorot mata Ricko menajam jiwa posesifnya pun keluar. Ricko menelan kasar kopi yang ia minum tadi segera bangkit dari sofa menghampiri Ratih dan Kasim Han.


"Han, tidak apa apa aku bisa menyelesaikan ini." bantah Ratih seraya menepis tangan Han.


"Nyonya saya mohon jangan melakukan hal ini, nanti tuan muda bisa menghukum saya." ucap Kasim Han dengan tatapan melemas.


"Tidak akan, dia tidak akan berani memarahimu percayalah. kalau dia memarahimu maka aku yang akan memarahinya." sahut Ratih kini kembali menyiram tanaman.


"Nyonya saya mohon." ucap Kasim Han kini benar benar memohon di hadapan Ratih.


"Baiklah..." tutur Ratih menyerah merasa tidak tega lalu Ratih langsung menyodorkan benda itu ke pada Han. dari bersaman Ricko pun datang dan langsung mengambil sprinkle yang masih berada di tangan Ratih secara kasar.


"Berani beraninya kamu menyentuh istriku, apa kamu sudah mulai bosan hidup." teriak Ricko ke pada Kasim Han.


"Hey, apa apaan ini kenapa bapak memarahinya." tutur Ratih mencoba membela Han, sedangkan Kasim Han diam membisu seraya menundukkan kepalanya.


"Kamu sudah aku turunkan dari posisimu masih tetap saja dekat dekat dengan istriku." gerutu Ricko sedikit meluapkan emosinya.


"Jangan memarahi Han, dia tidak salah aku yang salah aku yang tetap keras kepala menyiram bunga itu." bantah Ratih.


"Jangan membelanya aku melihat dengan kepala mataku sendiri kalau dia mencoba memegang tanganmu."


"Tidak, dia sama sekali tidak memegang tanganku dia hanya mencoba mengambil benda ini." seraya menunjukkan sprinkle yang masih di pengang oleh Ricko.


"Sayang kalau dia ingin mengambil benda ini seharusnya dia bisa berdiri di sana dan memintamu melemparkan benda ini kepadanya tidak perlu berdekatan denganmu." bantah Ricko.


"Bapak kenapa sih, kok makin hari sikap bapak makin aneh deh. tidak boleh ini lah tidak boleh itu lah semuanya tidak boleh keluar sebentar saja tidak boleh." gerutu Ratih kesal karena semenjak beberapa hari ini Ratih selalu di buat kesal oleh Ricko karena sikap posesifnya Ricko. Ratih malas berdebat dengan Ricko dia lebih memilih pergi dari pada berdebat tidak ada kelarnya pikir Ratih.


"Sayang... maksudku bukan seperti itu." ucap Ricko berusaha mencegah Ratih pergi namun tidak bisa. kemudian mata Ricko melirik menatap tajam ke arah Kasim Han.

__ADS_1


"Ini semua gara gara kamu, awas kau pasti akan mendapat hukuman dariku." tutur Ricko.


Han mendongkak kan kepalanya menatap Ricko."S-Saya." Han menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, karena kamu sudah membuat Ratih ku kesal." ucap Ricko lalu langsung pergi mengejar Ratih.


"Oh Tuhan, kenapa aku lagi yang jadi kambing hitam."


"kak, Kakak mau kemana...??" tanya Tania saat melihat Ratih nampak terburu buru masuk ke dalam mansion.


"Emangnya kakak mau kemana, kakak tiap hari di kurung di sini sudah seperti penjara. tidak boleh ini lah tidak boleh itu lah." gerutu Ratih.


"Ya ampun kakak, kakak lagi ngambek. ngambek sama siapa sih sampai sampai membuat wajah kakak jutek kayek gitu...?? tanya Tania lagi.


"Tidak perlu bertanya segalak kamu pasti juga sudah tahu." ketus Ratih lalu pergi dia juga merasa malas berbicara dengan Tania.


"Aduh pengantin baru bisanya cuma bertengkar aja." guma Tania.


"Iya, tadi kakak pergi ke arah kolam renang." jawab Tania.


"Terima kasih." ucap Ricko lalu hendak pergi.


"Eeettt.... tunggu. pak Ricko jangan pergi dulu, saya punya cara jitu supaya kak Ratih tidak ngambek lagi sama bapak." tutur Tania.


Ricko menaikan alisnya lalu dia mencoba melangkah mendekati Tania." cara jitu maksudmu...??" tanya Ricko merasa tidak mengerti.


"Iya, cara jitu. apa bapak tahu apa yang paling di sukai kak Ratih...??" tanya balik Tania berhasil mendapat gelengan kepala dari Ricko.


"Katakan apa yang paling di sukai Ratih ku...??"


"Eeeetttt... tidak semudah itu pertama-tama, ya harus ada obat kenyang lah." ucap Tania memberi kode namun Ricko bertambah tidak mengerti apa yang di katakan Tania.


"Apa itu obat kenyang, katakan yang jelas aku tidak mengerti." protes Ricko.

__ADS_1


"Ya ampun kenapa orang kaya sangat tidak peka sih, ini Lo pak fulus." tutur Tania mengosok-gosok jarinya.


"Kamu mau memalak saya." ucap Ricko tak percaya.


"Ya ampun siapa yang mau memalak bapak sih, kalau bapak tidak mau ya udah sana rayu kak Ratih sampai kucing bertanduk pun kak Ratih enggak akan luluh sama pak Ricko lagi, apa lagi pak Ricko udah berkali kali membuat kak Ratih kesal." ucap Tania.


Ricko membuang nafas kasarnya." kecil kecil kamu sudah pandai mencari duitnya." tutur Ricko seraya mengeluarkan salah satu kartu debit miliknya.


"Ya namanya aja usaha pak." sahut Tania mengembangkan senyumannya.


"Ambil ini kalau perlu kamu habiskan saja." tutur Ricko seraya menyerahkan kartu debit ke tangan Tania.


"Ha.... terima kasih bapak baik banget."


"Udah cepat! katakan apa yang di sukai Ratih ku..??"


"Oh ya saya sampai lupa, begini, pak Ricko ajak saja kak Ratih ke pantai karena sejak dari kecil kak Ratih itu suka sekali bermain di pantai." ucap Tania semangat.


"Pantai." Ricko mengerut keningnya dalam.


"Iya pantai, emangnya tidak ada pantai di kota ini."


"Baiklah akan aku coba, tapi kalau tidak berhasil maka kamu harus bertanggung jawab."


"Pak Ricko tenang saja saya jamin kak Ratih pasti sangat suka."


"Satu lagi. jangan pernah kamu memalak orang lain, kalau kamu butuh uang mintak saja kepadaku aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri." ucap Ricko lalu langsung pergi.


"Siap bos, emang siapa yang mau meminta uang pada orang lain. aku meminta pada bapak juga karena bapak suami kakakku kalau tidak mana mungkin aku berani." guma Tania.


"Lebih baik aku menghubungi pak Kevin selagi hari ini hari libur, kan lumayan bisa jalan jalan sama pria tampan." guma Ratih lagi senyum senyum sendiri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2