
Tepat pukul 12 siang semua orang kini sudah berkumpul di ruangan tengah, semua orang nampak begitu semangat tak terkecuali. mereka semua menenteng koper mereka masing-masing. kecuali Ibu Susi yang memang sudah di bawa oleh Tias selaku pelayan pribadinya.
"Apa semua sudah beres...??"tanya Ibu Susi pada Kevin.
"Sudah nyonya, semua sudah beres pilot pun juga sudah menunggu kita." jawab Kevin.
"Baguslah, em. bagaimana dengan paspor apa kamu juga sudah mengurusnya...??"
"Nyonya tidak perlu khawatir semuanya sudah saya atasi."
"Hahhh...." Ibu Susi membuang nafas lega."Ayo sekarang kita berangkat...??"
"Tunggu Bu, kak Ratih sama kak Ricko belum turun." tutur Tania cepat.
"Iya hampir saja lupa, Ricko sama Ratih di mana kenapa mereka belum turun juga. seharusnya mereka sudah siap sekarang." gerutu Ibu Susi.
"Tias cepat kamu panggil mereka."
"Baik nyonya."
*****
Di kamar Ricko.
"Semua ini salah kamu mas kita kan jadi terlambat sekarang." gerutu Ratih penuh kekesalan.
"Kenapa kamu malah menyalahkan ku."
"Jelas-jelas ini semua salah kamu kenapa kamu malah ngajak wik wik di saat genting kayek gini. udah tau mau berangkat, malah ngajak main panas." Ratih benar-benar kesal. dia bahkan belum sempat menaruh makeup di wajahnya sama sekali. karena setelah pergulatan tadi yang sangat memanas Ratih dan Ricko harus mandi lagi.
"Aku minta maaf, kamu sih membuat iman ku goyang. coba saja kalau kamu tidak menggodaku pasti kejadian kayek gini gak akan terjadi." elak Ricko juga kini dirinya membatu Ratih memasukkan baju ke dalam koper.
"Sudah sana pergi. biar aku yang urus semuanya kamu benar-benar membuat aku marah." Ratih menepis tangan Ricko.
__ADS_1
"Ya ampun sayang kamu beneran marah...??"
"Mas tolong jangan buat kesabaran ku hilang ya, sekarang aku minta kamu cepat turun menjauh lah sebentar dariku sebelum darah tinggi aku ini semakin naik." geram Ratih.
"Tidak, aku tidak akan pergi aku akan tetap di sini bersamamu. kita akan turun sama-sama."
"Kamu ya..." Ratih sudah meremas kedua jemarinya.
Tok... tok... tok...
"Tuan muda, nyonya muda. nyonya besar ingin tuan muda dan nyonya muda sekarang turun." ucap Tias dari balik pintu.
"Tu kan ini semua gara-gara kamu jadi kita terlambat sekarang." protes Ratih.
"Iya, bilang sama Ibu kami akan segera turun." teriak Ratih.
"Sudah sana cepat hias wajahmu biar aku yang akan memasukkan barang ini ke dalam koper." tutur Ricko kali ini ia mengalah.
Ratih membuat nafasnya dengan kasar."Baiklah susun dengan benar itu aku tidak mau pakai ku berantakan."
"Kalau bukan karena waktu sempit aku pasti akan memberikan kamu hukuman mas." geram Ratih lalu ia langsung duduk di depan meja rias.
"Baru satu punya istri sudah di marahin kaya gini apalagi punya empat." guma Ricko.
"Mas aku bisa dengar ya apa yang kamu bilang, jangan macam-macam di belakang ku. kalau kamu masih sayang dengan hadiah yang kamu berikan kepadaku tadi. awas saja kalau kamu berani macam-macam aku akan blender hadiah mu itu." ancam Ratih seraya tangannya memasangkan anting-anting di telinganya.
Ricko langsung menelan ludahnya kasar."Alfin Mami mu benar-benar galak." Ricko merasa geli membayangkan apa yang akan di lakukan Ratih kalau sampai ia benar-benar selingkuh.
"Mas, aku masih bisa dengar."
******
Di ruangan tengah.
__ADS_1
Sudah lebih dua puluh menit Ibu Susi dan yang lainnya menunggu kedatangan Ricko dan juga Ratih. tapi mereka berdua nampaknya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa lama sekali. kalau seperti ini kita bisa terlambat nantinya." tutur Ibu Susi merasa tidak tenang.
"Tias apa yang mereka lakukan kenapa mereka belum juga turun??"
" Saya tidak tau nyonya, saya tadi hanya berteriak dari luar."
"Mereka itu ya, sudah tau waktu sangat sempit tapi mereka malah berlama-lama."
"Itu mereka." ucap Mawar ketika ia melihat Ratih dan juga Ricko berjalan ke arah mereka. sementara di belakang Ratih sudah ada beberapa pelayan yang menggendong Alfin. mereka tak lain adalah para pelayan khusus.
"Apa yang kalian lakukan kenapa kalian lama sekali...??" tanya Ibu Susi cepat.
"Maaf Bu tadi Ricko dan Ratih ketiduran." elak Ricko.
"Ketiduran apanya mana ada orang ketiduran sampek jalan ngangkang seperti itu." sahut Ibu cepat ia begitu terkejut saat melihat Ratih jalan ngangkang.
Perkataan Ibu Susi berhasil membuat wajah Ratih langsung merah merona seperti tomat ia begitu malu setelah mendengar perkataan Ibu Susi.
"Sudah ayo cepat kita berangkat kalau enggak kita pasti akan terlambat lagi." ajak Ibu Susi.
Akhirnya mereka semua pun bergegas pergi. empat mobil Alphard telah keluar dari mansion. Mobil paling depan di duduki oleh Ibu Susi, Tias dan juga Mawar. mobil kedua di duduki oleh Ricko, Ratih dan juga Alfin. mobil ketiga di duduki oleh Kevin dan juga Tania. sementara mobil paling belakang di duduki para pelayan.
Setelah melakukan 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga di bandara. para pihak bandara pun dengan segala hormat menyambut kedatangan keluarga Adiningrat, terutama Ibu Susi selaku orang yang sangat berpengaruh di negara yang mereka pijak sekarang.
"Selamat siang nyonya, tuan muda." ucap petugas bandara penuh hormat seraya menundukkan kepalanya.
"Hem. apa pesawatnya sudah siap...??" tanya Ibu Susi.
"Sudah nyonya, nyonya bisa berangkat sekarang."
"Kalau begitu cepat." tinta Ibu Susi.
__ADS_1
Bersambung.....