Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 80


__ADS_3

"Sayang, kamu yakin menyuruh aku manjat pohon setinggi itu. jujur sayang seumur hidup aku belum pernah memanjat pohon." ucap Ricko berusaha membujuk Ratih sedangkan Ratih mengangguk dengan cepat.


"Baiklah kalau itu pilihanmu." Ricko segera membalikkan badannya menatap ke arah buah mangga yang masih nampak tergantung bagus disana.


"Semangat bos." bisik Kevin seraya mengangkat tangannya, dia benar benar ingin tertawa sekarang saat melihat ekspresi wajah bosnya itu nampak masam.


"Kau mengejekku." gerutu Ricko menajamkan tatapannya.


"Tidak bos. saya hanya memberi bos semangat." sahut Kevin cepat.


"Minggir." ketus Ricko lalu langsung melangkah pergi. setelah berhasil menyebrang jalan dan hendak ingin masuk Ricko sudah di kejutkan oleh seorang perempuan di sampingnya tepatnya di ambang pintu pagar.


"Hey, siapa kamu." ucap wanita itu menatap penuh penyelidik ke arah Ricko.


"Hahhh..." Ricko mengelus dadanya "saya." guma Ricko menunjukkan dirinya sendiri.


"Iya kamu ngapain kamu lihat lihat rumahku seperti itu. mau maling kamu ya." ketus wanita itu lagi.


"Bukan bukan saya bukan maling, enak saja mengatai saya maling emang kamu tidak lihat penampilan saya. mana ada maling berpenampilan seperti ini." gerutu Ricko tidak terima.


"Alah kamu pasti berbohong kan, kamu kesini mau menculik aku kan." ucap wanita itu kini suaranya mulai meninggi.


Ricko menaikkan alisnya."Menculik kamu." guma Ricko.


"Tidak cukup kamu menyakiti ku dan sekarang kamu mau guna guna aku supaya aku kembali lagi ke kamu. itu tidak akan pernah terjadi." teriak wanita itu sedangkan Ricko semakin menaikkan alisnya.


"Jangan sebarangan kamu ngomong, aku itu udah punya istri mana mungkin aku mau guna guna kamu." protes Ricko tak mau kalah.


"Tidak Roma, tidak... aku tidak melakukan itu." teriak Wanita semakin menjadi jadi. berhasil membuat Ricko bingung


"Maafnya nama saya itu Ricko bukan Roma."


"Tidak... aku tidak selingkuh Roma." teriak wanita itu semakin membaut Ricko menggaruk kelapanya tak gatal.


"Sisil..." ucap seseorang di teras rumah lalu langsung bergegas menghampiri Ricko dan wanita itu.


"Ngapain kamu disini..??" tanya orang itu.


"Aaaahhh.... Roma jangan tinggalkan aku."

__ADS_1


"Ya ampun Sisil kapan penyakitmu sembuh." ucap orang itu lalu berpaling melirik ke arah Ricko.


"Ada tamu. maafnya ini adik saya namanya Sisil dia baru keluar dari rumah sakit jiwa." ucap orang itu menundukkan kepala pertanda meminta maaf.


"CK... gila." guma Ricko menggelengkan kepalanya.


"Maaf tuan adik saya seperti ini gara gara di tinggal nikah tu sama Argus sialan itu tu, berani beraninya dia menikah sama wanita lain sedangkan dia sudah tunangan sama Sisil memang laki laki brengsek tu Argus." cerocos orang itu geram sendiri.


"Ya..." guma Ricko geli.


"Oh ya hampir lupa, ayo silahkan masuk tuan."


"Maaf saya jadi curhat sama anda." sambung orang itu lagi merasa tidak enak.


"Tidak perlu, saya kesini cuma mau membeli buah mangga itu." tolak Ricko.


"Mangga itu." tunjuk orang itu setelah melihat apa yang Ricko lihat


"Iya."


"Ambil saja tidak apa apa itu punya saya kok, mari masuk." ucap orang itu seraya membuka gerbang penuh.


"Ya."


"Sisil cepat masuk !! buat malu saja kamu." menatap tajam ke arah adiknya.


"Tidak Roma, tidak.... aku tidak bersalah Roma jangan tinggalkan aku."


"Sisil jangan teriak ayo cepat masuk." ucap orang itu merampas tangan Sisil memaksanya masuk ke dalam.


"Roma..."


"Roma..."


"Dasar wanita gila, hahhh... kenapa sial sekali hari ini" Ricko mendengus setelah itu ia langsung melangkah mendekati pohon mangga yang di inginkan Ratih.


"Beby kamu dan Mami berhasil mengerjai Dedy hari ini. hahhh... awas kalian berdua Dedy akan membalasnya nanti malam." guma Ricko membuang nafas kasarnya. lalu Ricko berusaha memanjat pohon itu. sudah 10 kali Ricko berusaha memanjat namun tidak berhasil lagi lagi Ricko jatuh ke bawah.


"Aaagggrrr... kenapa susah sekali." gerutu Ricko kesal.

__ADS_1


"Aku tidak boleh menyerah demi istri dan anakku aku harus mendapatkan buah mangga itu. baiklah." Ricko melepaskan jas dan kemeja yang ia kenakan Ricko juga melepaskan celana dan sepatu, ya kini Ricko hanya menyisakan kaus hitam dan celana pendek yang masih melekat di tubuh kekarnya itu.


"Beby kau akan lihat perjuangan Dedy sekarang." guma Ricko lalu langsung berusaha memanjat pohon itu lagi."Aaagggrrr..."


****


"Huufff...." suara nafas Ricko nampak tak beraturan." akhirnya" guma Ricko seraya mengembangkan senyumannya atas keberhasilannya, ya, Ricko kini sudah berada di atas cabang pohon mangga.


"Sayang...." panggil Ricko melambaikan tangan ke arah Ratih di ujung sana. Ratih yang melihat suaminya melambai pun juga ikut melambai.


"Hufff..." Ricko mulai memetik satu persatu buah mangga dan menjatuhkannya ke bawah.


*****


"Tuan..." panggil seseorang di belakang Ricko.


"Ehm," seraya menoleh.


"Ini kantong plastik." ucap orang itu seraya menyerahkan.


"Terima kasih." guma Ricko lalu langsung memasukkan buah yang mangga yang ia petik tadi.


"Terima kasih, ini uangnya." seraya memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Tidak perlu tuan, saya ikhlas kok." tolak orang itu.


"Tidak apa apa ambil saja." paksa Ricko.


"Tidak, tidak perlu tuan terima kasih."


"Tidak mau...??" tanya Ricko lagi berhasil mendapat anggukan cepat dari orang itu.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Ricko.


"Iya tuan hati hati." ucap orang itu ramah.


"Roma...." teriak sesorang di belakang Ricko.namun kali ini Ricko tidak menoleh ia malah berlari kerena kali ini Ricko sudah tau siapa yang memanggilnya.


"Tidak Roma...."

__ADS_1


__ADS_2