
"Lihat deh Vin bagus enggak tas yang aku belik, ini aku belik murah loe karena lagi promo." tutur Mawar seraya menunjukkan tasnya. namun Kevin tidak menggubrisnya sama sekali pandanganya tetap lurus ke depan.
"Vin..." panggil Mawar, namun tetap sama Kevin tidak bergeming sama sekali.
"Kevin..." panggil Mawar kesel dengan suara sedikit berteriak. hasilnya tetap sama.
Karena merasa di acuhkan oleh Kevin, Mawar akhirnya memukul lengan Kevin.
"Ya, ada apa...??" tanya Kevin melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir.
"Kamu kenapa sih, aku tanya dari tadi kamu malah asik melamun. kamu lagi ada masalah..??" tanya Mawar.
"Enggak, hanya masalah kerjaan aja." jawab Kevin sambil tersenyum kecil.
"Kenapa kamu selalu menghantuiku Ratih. apa segitu mudahnya aku menyukaimu. dan kenapa di saat aku menyukaimu kamu malah menjadi milik orang lain. kenapa ini bisa terjadi aku harus bisa melupakanmu aaggrrr..." batin Kevin lalu memukul stir mobil dengan kuat hingga membuat Mawar terkejut.
"Kevin apa yang kamu lakukan...??" tanya Mawar seraya menelan ludahnya dia sudah mulai takut dengan sikap Kevin sekarang.
"Aku harus bisa melupakannya." ucap Kevin sambil menjambak rambutnya dengan kasar.
"Kevin hentikan, hentikan." teriak Mawar dengan sangat keras berhasil membuat Kevin sadar apa yang telah ia lakukan.
"Kamu itu ada masalah apa sih sebenarnya. kenapa semenjak pulang dari rumah Tante kamu jadi seperti ini. cerita sama aku mungkin aku bisa membantumu." tutur Mawar.
"Percuma tidak ada satu orang pun yang bisa membantuku. jadi duduk dengan tenang aku akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang." sahut Kevin dengan tatapan dingin.
Mawar menjadi diam setelah mendengar perkataan Kevin barusan. ia berpikir lebih baik diam dari pada membuat suasana semakin memburuk.
***
Ratih mengucek-ngucek matanya terasa perutnya kebas. Ratih memalingkan wajahnya ia sedikit terkejut ketika melihat wajah Ricko begitu dekat dengannya. dengan cepat Ratih berusaha menjauh namun tiba tiba saja ia terasa sakit di area sensitifnya.
"Aaaaa...." pekik Ratih.
Ratih menatap dirinya yang sudah tidak memakai pakaian sama sekali.
"Oh Tuhan apa yang telah terjadi." guma Ratih lalu mencoba membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aaaaa....." teriak Ratih ketika melihat sudah banyak becak bercak merak di pahanya.
Ratih memalingkan wajahnya menatap Ricko dengan tatapan tidak bisa di artikan.
"Dasar *******, ******. apa yang telah bapak lakukan ke padaku." teriak Ratih sambil memukul Ricko dengan bantal.
"Berani beraninya bapak mengambil kesucian yang selama ini aku jaga, dasar pria ******." ucap Ratih dengan penuh emosi seraya terus memukul Ricko.
Sontak saja Ricko langsung bangkit dari tidurnya, Ricko menatap Ratih dengan pandangan masih buram.
"Apa yang kamu lakukan..?? kenapa kamu memukulku...??" tanya Ricko.
__ADS_1
"Kenapa bapak melakukan ini kepadaku. apa masih belum puas bapak menghancurkan masa depanku." teriak Ratih penuh emosi.
"Apa yang telah aku lakukan...??" tanya Ricko.
"Masih berani bapak bertanya. aku akan melaporkan bapak ke kantor polisi atas tuduhan pemerkosaan." ucap Ratih dengan nafas seperti orang lari maraton.
"Aku sudah menduga pasti perkara ini akan terjadi. jadi lihat baik baik apa yang terjadi di dalam Vidio itu." ucap Ricko seraya melemparkan ponselnya ke pada Ratih.
Ratih menatap ke arah Ricko dengan tatapan tidak bisa di artikan, perasaan marah maupun benci kini bercampur aduk. Ratih mencoba mengambil ponsel yang di lemparkan oleh Ricko. Ratih melihat ada sebuah Vidio yang menampakkan seperti wajahnya di situ, dengan gerak cepat Ratih langsung memutarkan Vidio itu.
"Sekarang kamu tahu bukan siapa di sini yang jadi korban." gerutu Ricko.
Ratih tidak menjawab dia masih terkejut apa yang telah ia lihat sekarang.
"Untuk saja aku sempat merekam ke jadian semalam kalau tidak mungkin aku sudah di amuk masa olehnya.tapi kenapa begitu cepat dia melupakan kejadian semalam apa dia mempunyai penyakit amnesia. batin Ricko.
"Di situ terlihat dengan jelas kalau kamu yang memperkosa diriku. bukan diriku yang memperkosa dirimu."
"Apa sekarang kamu sudah ingat apa yang kamu lakuka ke padaku. kamu harus bertanggung jawab atas ke jadian semalam." tutur Ricko.
"Ini tidak mungkin." ucap Ratih.
"Penjakar selama ini aku jaga hilang begitu saja. jadi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan ke padaku."
"Kenapa aku jadi seperti ini." pikir Ratih seraya mengarukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa bapak tidak pergi saja dari kamar ini semalam...??" tanya Ratih.
"Sudah aku bilang ini kamarku tidak ada satu orangpun yang berhak mengusirku dari sini termasuk kamu. istri KW." jawab Ricko cepat.
"Hik..hik...hik... kesucian selama ini aku jaga kini hilang begitu saja." ucap Ratih pelan seraya menangis.
Ricko melihat Ratih menangis menjadi tidak tega, Ricko mendekati Ratih dan langsung mendekam Ratih ke dalam pelukan.
"Jangan menangis. ini semua sudah terjadi. maaf karena aku melanggar kesepakatan." terdengar suara Ricko kecil namun masih bisa di dengar oleh Ratih.
Ratih membalas pelukan Ricko terasa badan Ricko hangat, hal itu membuat Ratih seakan akan ingin berlama lama dalam dekapan Ricko.
Ricko melonggarkan pelukannya menatap wajah istrinya yang masih di banjiri air mata. terasa bersalah dalam hati Ricko apa yang telah terjadi semalam. Ricko mengusap lembut pipi Ratih dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku jangan menangis lagi. aku berjanji akan bertanggung jawab atas semalam." ucap Ricko dengan tangan masih mengusap pipi Ratih, mereka saling menatap perlahan lahan Ricko menurunkan kepalanya hendak menanamkan bibirnya di bibir manis Ratih.
Krukkk..... bunyi perut Ratih menyadarkan mereka berdua.
Dengan cepat Ratih memalingkan wajahnya, pipi yang sudah merah merona seperti tomat."Saya ingin ke kamar mandi." ucap Ratih pelan.
"Baiklah." sahut Ricko lalu mundur sedikit menjauh dari Ratih.
Ratih menurunkan kakinya. ia seperti lupa akan apa yang terjadi. belum sempat Ratih berjalan dia sudah terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Aaaa..." pekik Ratih.
"Kamu tidak apa apa...??" tanya Ricko yang kini sudah turun dari ranjang mengangkat Ratih kembali ke atas ranjang.
Ratih hendak menatap Ricko tapi matanya keduluan melirik sesuatu di bawah.
"Aaaaa...." teriak Ratih lagi sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Di mana yang sakit beritahu aku...??" tanya Ricko sudah khawatir.
"Itu." tunjuk Ratih ke arah senjata Ricko.
Ricko pun melirik ke arah yang di tunjukan Ratih seraya tersenyum tipis."Kenapa kamu malu bukankan kamu sudah menyentuh ya. bahkan kamu sudah m***********." goda Ricko.
"Dasar laki laki tidak tahu malu." ketus Ratih.
"Untuk apa malu kamu kan istriku." sahut Ricko.
Ricko mengendong Ratih secara tiba tiba membawanya ke kamar mandi.
"Apa yang bapak lakukan...??" tanya Ratih.
"Membawamu ke kamar mandi." jawab Ricko santai.
"Tapi aku malu." ucap Ratih pelan kembali menutupkan wajahnya.
"Kamu itu istriku jadi tidak perlu malu, kamu sudah melihat semua bentuk tubuhku begitupun dengan aku. aku juga sudah melihat semua bentuk tubuhmu." sahut Ricko sambil meletakkan tubuh Ratih di bathtub dengan hati hati dan langsung menyalakan kran air hangat.
"Bapak mau ngapain...??" tanya Ratih ketika melihat Ricko juga masuk ke dalam bathtub.
"Mandi. bukan kah semalam kita melakukan bersama sama jadi mandi juga kita harus bersama." Jawab Ricko.
"Aaaa..." pekik Ratih ketika merasa nyeri di area sensitifnya.
"Apa masih sakit...?? Ratih menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat Ricko memeluk Ratih kembali."Terima kasih." bisik Ricki di telinga Ratih.
Ratih mendongakkan kepalanya menatap ke arah Ricko." kenapa bapak berterima kasih..??"
"Karena kamu telah memberinya untukku. terima kasih telah menjaganya selama ini. terima kasi juga karena aku orang pertama yang merasakannya." jawab Ricko lalu mencium kening Ratih dengan lembut.
"Maaf atas apa yang telah aku lakukan dan apa yang telah aku katakan selama ini menyakitimu."
**Bersambung......
πΉπΉπΉπΉπΉ
ππBuruan vote dan like biar biar nanti sore up π€ππ**
__ADS_1