Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 44


__ADS_3

"Jangan mendekat." teriak Ratih ketika sadar kalau Ricko sudah berjalan mendekatinya.


Namun Ricko tidak menggubris sama sekali perkataan Ratih dia malah mendekat dan meraih sesuatu di samping Ratih.


Spontan saja membuat Ratih berlari ke kamar mandi dengan gerak cepat langsung mengunci pintu. Ratih berdiri tepat di wastafel menatap dirinya di depan cermin sambil memegang dadanya sudah maraton.


"Kenapa dengan jantungku ini, kenapa dia selalu berdetak sangat cepat seolah olah ingin keluar. apa artinya ini aku sudah jatuh cinta. tidak... tidak... tidak... ini tidak mungkin. ini pasti cuma perasaan aku aja." Batin Ratih.


Ratih membalikkan badannya dia langsung terpesona dengan dengan dekorasi kamar mandi yang begitu indah dan luas. bahkan 10 kali lipat jauh lebih luas ketimbang kamar mandi di kontrakannya. Ratih segera melepaskan pakaiannya, terasa semua keringat dan bau sudah menumpuk di pakaian yang ia kenakan. perlahan lahan Ratih berjalan mendekati shower menekan tombol air hangat.


Setelah 15 menit Ratih menyirami tubuhnya dengan air, Ratih segera mematikan shower. dia hendak langsung keluar tapi sesaat kemudian dia teringat sesuatu.


"Astaga." terkejut Ratih ketika menyadari kalau dia lupa membawa handuk.


Ratih menelan ludahnya dengan kasar sambil melangkah pelan pelan mencoba memegang


handle pintu. Ratih mengambil nafas dalam dalam seraya membuka sedikit pintu dia melirik dengan bola matanya mencari keberadaan Ricko. Ratih mencondongkan sedikit kepalanya keluar dari pintu dengan bola mata terus saja melirik ke sana kesini mencari keberadaan Ricko.


"Aaggrrr...." terdengar suara Ratih gusar saat melihat Ricko yang tegah asik bermain ponsel di atas ranjang.


"Kenapa dia tidak keluar sebentar sih." gerutu Ratih dengan merapatkan giginya.


Ratih membuang nafas kasarnya karena dia memang tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan Ricko.


"P-Pak Ricko." panggil Ratih seraya menampakkan gigi depannya.


Ricko menaikan alisnya saat melihat tingkah laku istrinya." Ada apa...??" tanya Ricko.


"Hehehe.... Tolong bapak ambilkan saya handuk." jawab Ratih yang masih tetap menampakkan gigi putihnya.


"Ambil sendiri, bukankah kamu punya tangan dan kaki untuk mengambilnya." ketus Ricko sambil menghidupkan kembali ponselnya yang sempat tadi mati.


.


"Kalau saya bisa ambil sendiri sudah saya ambil dari tadi. kalau bapak tidak mau mengambilnya bolehkan bapak Keluar sebentar." sahut Ratih.


"Ini Rumahku dan ini kamarku jadi tidak ada satu orang pun yang bisa mengusirku dari sini." tegas Ricko.


"Hahhh...." Ratih sudah merapatkan giginya dia begitu kesal dengan Ricko.


"Kalau begitu berbalik jangan melihat kesini aku akan mengambilnya sendiri." teriak Ratih sudah sangat kesal.

__ADS_1


"Ja-" tutur Ricko sudah di potong.


"Jangan bilang kalau bapak masih tidak mau juga." sahut Ratih cepat dengan tatapan sangat tajam.


"Iya, iya. aku akan keluar tapi hanya lima menit." tutur Ricko seraya menunjukkan jarinya. lalu segera pergi keluar.


"Oh Tuhan baru satu malam saja sudah membuat aku gila apa lagi sampai sebulan." gerutu Ratih lalu melangkah dengan cepat membuka lemari.


"Bajuku dimana..?? tadi Tias bilang bajuku sudah di letakkan di lemari tapi di mana." guma Ratih sudah kewalahan mencari bajunya.


"Koper..." sahut Ratih baru ingat dengan koper bajunya. Ratih mencari setiap sudut namun dia tetap tidak menemukan kopernya. setelah mendengus kesal tak sengaja mata Ratih melirik ke bawah kasur yang teryata ada koper miliknya.


Cklekkk.... (suara pintu kamar terbuka)


Ratih melotot ke arah pintu saat pintu sudah dibuka sedangkan dia masih belum memakai pakaian.


"Aaaaaa...." teriak Ratih sambil berlari menuju kamar mandi.


Suara teriakan Ratih berhasil membuat Ricko segera membuka pintu dia khawatir terjadi sesuatu ke pada Ratih. namun tak sengaja Ricko melihat punggung polos Ratih saat menutup pintu.


"Aaaggrrr..... Pistol tenang ok. ini bukan saatnya bertempur harus bersabar." tutur Ricko menarik nafas dalam dalam berusaha menenangkan sesuatu yang sudah mulai mengeras di bawah.


Ratih bingung harus memakai baju yang mana tapi tubuhnya sangat menggigil sekarang. Ratih meraih baju kaos panjang dan jaket dia memakai kedua duanya bahkan itupun belum bisa menghangatkan tubuhnya yang dingin. Ratih berpikir mungkin dia kedinginan karena terlalu lama dalam keadaan polos.


Setelah siap memakai baju Ratih segera keluar dengan pakaian seperti di salju. Ratih melirik dia masih melihat Ricko di tempat semula dengan malas Ratih duduk di sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


Ricko mengerutkan keningnya sesaat melihat Ratih terbaring di sofa." Kenapa kamu tidur di situ...??" tanya Ricko.


Ratih pun menoleh ke arah Ricko."Saya tidak mau tidur seranjang dengan bapak." jawab Ratih lalu mengalihkan pandangannya.


"Bagus kalau begitu. sampai selamanya pun tidak apa apa." ketus Ricko lalu berbalik memunggungi Ratih.


"Dasar laki laki tidak berperasaan." ucap Ratih dengan suara setengah berteriak. berhasil membuat Ricko menoleh kembali ke padanya.


"Kau bilang aku tidak berperasaan." sahut Ricko sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya bapak, bapak sama sekali tidak berperasaan. seharusnya bapak mengalah dong sama cewek, masak cewek di biarin tidur di sofa. enggak peka banget sih jadi cowok." tutur Ratih menaikan ujung bibir atasnya.


"Kamu bilang aku enggak peka. kamu tu yang enggak peka, sekarang aku tanya kamu itu siapa di rumah ini...??" tanya Ricko yang kini sudah duduk menghadap Ratih.


"S-saya istri bapak lah." jawab Ratih sedikit terbata bata.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya lagi, memang ada gitu suami istri tidur engga seranjang...??" tanya Ricko lagi.


"I-iya tidak sih." jawab Ratih lagi.


"Lalu sekarang kamu ngapain tidur di situ...??" tanya Ricko bertubi-tubi.


"Itu karena saya takut bapak akan melakukan hal seperti kemaren." Jawa Ratih sedikit kesel.


"Aaahhh.... kamu pikir aku selera melihatmu. kamu telanjang saja tubuhku tidak bernafsu melihatmu." ketus Ricko seraya tersenyum miring.


"Awas kalau bapak berani macam macam, akan aku patahkan pistol bapak dan ku kasih ke beruang Masha end the bear biar di bikin sate." ancam Ratih dengan tatapan tajam sambil melangkah mendekati ranjang.


Ricko menelan ludahnya sangat kasar setelah mendengar perkataan Ratih barusan. dia masih ingat betul bagaimana Ratih menghantam pistolnya kemaren.


Dua puluh menit telah berlalu tapi kedua insan tersebut masih belum tertidur mereka saling memunggungi dan saling berpikir dalam pikiran masing masing.


Ratih bolak balik di atas ranjang terasa badannya sudah bergejola sekarang. hawa panas pun menghantui tubuhnya apalagi sekarang Ratih memakai jaket. tampa pikir panjang Ratih bangkit dan segera melepaskan jaketnya dan membuangnya asal.


Keringat kembali bercucuran di tubuh Ratih. AC yang di hidupkan oleh Ricko pun tidak bisa menghangatkan tubuh Ratih. Ratih sudah mengibas-ngibas dirinya dengan tangan namun tetap hawa panas menghantuinya.


Ricko yang merasa tidak nyaman dengan ranjang bergerak akhirnya pun bertindak dia berbalik hendak protes ke pada Ratih namun. dia melihat Ratih sudah melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya, kini hanya tertinggal CD dan bra saja yang masih ada di tubuh Ratih.


Ricko kembali menelan ludahnya dengan kasar. terlihat jelas di matanya sekarang bagaimana bentuk tubuh indah Ratih, apalagi bagian g***** k***** Ratih yang bergoyang. membuat gairah Ricko sebagai laki laki normal naik bahkan sesuatu di bawah sana sudah meronta-ronta ingin keluar dari persembunyiannya dan masuk ke lubang buaya.


Sebelum Ricko ingin menerka Ratih, Ricko teringat tentang kesepakatan yang telah ia buat dan dia juga ingat apa yang Ratih katakan tadi. semua itu terbayang bayang di kepalanya.


"Aaahhh... terdengar suara Ratih seperti desahan, jiwa dan raganya sudah tidak sejalan lagi. Ratih terus mengigit bibir bawahnya bahkan Ratih bergelayu di hadapan Ricko.


"Kucing kecil jangan salahkan aku sekarang, kamu sendiri yang membangunkan pistol ku jadi kamu juga harus menjinakkannya." guma Ricko yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.


**Brukkk.....


Bersambung........


🌹🌹🌹🌹


Ada yang tahu kenapa Ratih bisa begitu πŸ€”πŸ€”


maafnya up nya telat, soalnya author sibuk banget.πŸ™πŸ™πŸ™


πŸ‘‰πŸ‘‰sangat di tunggu vote dan like kakakπŸ‘‡πŸ‘‡**

__ADS_1


__ADS_2