Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 130


__ADS_3

Sebelum maaf kak, aku telah update. Soalnya saya sibuk banget. Mohon di maklumi tapi insya Allah besok akan update banyak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di kamar, Nia menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin meja rias. Rambutnya yang masih basah ia baluti dengan handuk kecil, ya Nia baru saja selesai dalam ritual mandinya.


Tangan yang lentik memijit kepalanya terasa pusing, sosok Devan terbayang begitu saja di pikirannya. Entah kenapa dia memikirkan laki-laki itu yang jelas-jelas sudah membuat dia kesal hari ini.


Mata Nia meredup memikirkan bagaimana kalau Kevin melihat kelakuan Devan tadi siang. Dia pasti akan marah besar. Kelakuan Devan sungguh melampaui batas apalagi sampai mengaku-ngaku kalau dia kekasihnya.

__ADS_1


Huuffff.....


Nia menarik nafas panjangnya, besok pigi dia harus menjauh Deva demi keutuhan hubungannya dan Kevin.


Nia harus bertindak tegas dan mengatakan kalau dia sudah bertunangan dan akan segera menikah. Itu mungkin akan membuat Devan menjauhi dirinya.


"Benar, aku harus mengatakan yang sebenarnya supaya laki-laki sialan itu menjauhiku. Ckkk ide bagus." guma Nia sembari tersenyum manis.


*


Di kamar Ricko.


Hueekkkkk .... Hueekkkkk ..... Entah berapa kali sudah Ratih memuntahkan semua isi perutnya. Rasanya dia tidak kuat mencium aroma tubuh suaminya, Ricko.


Bau badan ataupun minyak wangi yang di pakaikan Ricko sungguh menusuk bulu hidung Ratih. Padahal suaminya itu memakaikan minyak wangi biasa tapi entah kenapa rasanya sangat bau.


Sementara Ricko terus saja mengendor pintu kamar mandi sembari berteriak memanggil nama istrinya. Tidak ada sahutan yang terdengar selain suara Ratih muntah-muntah.


Hueekkkkk ....


"Mas kamu minggir sana, pergi jauh-jauh. Aku enggak bisa nyium bau kamu cepat sana pergi" teriak Ratih dalam kamar mandi.


"Sayang kamu enggak papa. Jangan bikin aku khawatir cepat buka pintunya. Sayang ..." teriak Ricko yang tak kalah tinggi dengan Ratih.


Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi pun terbuka secara perlahan-lahan, hal itu tentu membuat Ricko bernafas lega.


"Jangan mendekat, Mas bau amis. Aku tidak sanggup nyium. Mending Mas tidur di kamar tamu aja." tukas Ratih sembari berjalan mendekati lemari, mengambil minyak wangi dan menyemprotkannya ke udara.


"Lah, kok kamu nyuruh aku tidur di kamar tamu, enggak mau aku maunya ditidur sambil meluk kamu." bantah Ricko sembari mendekati Ratih.


"Mas jangan mendekat kalau tidak nanti --"


"Kalau tidak apa hah."


Brukkk ...


Ratih menendang paha Ricko yang hampir nyaris mengenai benda tumpulnya. Sedangkan Ricko merintis kesakitan walaupun tidak terlalu kena tapi rasanya sakit sekali.


Aaagggrrr ....


Hueekkkkk .... Hueekkkkk .... Ratih tidak tahan lagi, dia buru-buru berlari ke kamar mandi menumpahkan lagi cairan bening.


hahhhhh


Tanggal berapa sekarang, bukankah ini tanggal 9, Astaga aku udah dua bulan enggak datang bulan. Apa mungkin, aku hamil.


Kedua mata Ratih membulat sempurna, ini sungguh kabar yang sangat baik, dia tidak menyangka kalau dia akan hamil secepat ini.


Permintaan Alfin sebentar lagi akan menjadi kenyataan, dia akan segera mempunyai adek. Ratih tertawa kecil sembari mengelus-elus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"Sayang ...." suara Ricko lagi kembali mengetuk pintu kamar mandi.


hueekkkkk .... Aroma bau Ricko tidak bisa menghentikan Ratih muntah-muntah walaupun jarak antara dirinya dan Ricko sudah di lapisi dingin pembatasan tapi rasanya baunya masih tercium di hidung Ratih.


Untuk kesekian kalinya Olif kembali muntah. Namun beberapa saat kemudian keningnya berkerut dalam saat tidak lagi mendengar suara teriakan Ricko dari luar.


Secara perlahan-lahan ia pun membukakan pintu kamar mandi, dan benar saja kalau Ricko sudah tidak adalagi di dalam kamar.


Ratih menghembuskan nafas panjang, dugaannya tentang hamil belum bisa ia pastikan. Ratih berencana akan pergi menemui Dokter kandungan besok pagi untuk mengecek apakah dia sedang hamil atau tidak.


*


Sementara di lain tempat, masih di ibu kota terlihat seorang wanita cantik sedang bersantai duduk di taman belakang rumahnya menikmati keindahan pemandangan alam dimalam hari.


Bintang-bintang yang kelap-kelip bagaikan lampu disko dan cahaya sinar rembulan malam berhasil membuat suasana bak dongeng Cinderella.


Tangannya putih bersih terus saja ia gerakkan untuk mengelus-elus perutnya sudah membesar.


Sesekali wanita itu menyeruput teh hangat yang sudah tersaji di atas meja. Matanya abu-abu ia pejamkan merasakan hembusan angin malam menyentuh kulitnya.


Suara langkah kaki yang terdengar mengalun membuat wanita itu tersenyum manis. kedua bibirnya yang seksi bak Dewi Yunani menyatu dengan sempurna.


"Mas kamu sudah pulang." ucapnya dengan mata masih tertutup menyadarkan kepalanya di atas sofa empuk berwarna putih.


"Kamu di sini sayang." ucap orang yang baru saja datang tak lain dan tak bukan adalah suaminya.


"Hem'em, aku menunggu kedatangan mu Mas."


"Sayang ini sudah larut malam, Kenapa kamu menungguku di sini. Ayo aku antar kamu masuk kedalam kamar." tutur laki-laki sembari menyandarkan kepalanya di lehernya wanita yang berstatus sebagai istrinya.


Wanita yang belum genap setahun ini menjadi istrinya. Sesekali ia menciumi leher jenjang istrinya itu.


"Mas hentikan! kamu membuat aku geli."


"Tidak akan, kamu harus berjanji dulu kepadaku kalau kamu tidak akan menungguku lagi di taman. Bagaimana nanti kalau kamu masuk angin, anak kita pasti akan masuk angin juga nantinya"


"Kamu terlalu takut sayang. Aku baik-baik saja, kamu tau sendiri bukan kalau aku sangat suka suasana malam hari"


"Iya, aku tau tapi ini sudah larut malam sayang. Mari aku antar kamu masuk dalam"


"Hem'em, baiklah. ayo"


Bersambung.....


Maaf telat update, ok. author akan fokus di novel ini sampai dua Minggu kedepan, tapi kalian harus berjanji akan like dan rate.


Kasi author bintang lima ya, biar novel ini naik daun 🙏.


dan satu lagi Komen di bawah 👇👇

__ADS_1


__ADS_2