Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 68


__ADS_3

"Sayang kita mau kemana bukanya tempat jamuan makannya di sebelah sana..??" tanya Ratih merasa bingung kerena Ricko tidak membawanya ke tempat acara makan malam.


"Apa?? aku tidak dengar, katakan sekali lagi." tutur Ricko berpura pura tidak dengar.


"Kita mau kemana bukanya acara jamuan makan malamnya di sebelah sana...??"


"Ada kata kata yang tertinggal, kamu harus mengatakan seperti apa yang kamu katakan pertama kali." protes Ricko.


"Apa, kata kata apa." Ratih semakin bingung bahkan kini Ratih menggaruk kepalnya tak gatal.


"Kamu tadi mengatakan sa---" sahut Ricko sengaja mengantungkan kalimatnya supaya Ratih mau menyambungnya.


"Sa--- sa apa?? sapi." sambung Ratih.


Ricko memejamkan matanya seraya merapatkan giginya. lalu kemudian Ricko membukakan matanya kembali.


"Ok, lupakan ayo cepat kita pergi." ajak Ricko sudah mulai geram tangannya kini memegang erat tangan Ratih.


Sedangkan Ratih senyum senyum sendiri dia sudah menahan tawa dari tadi, Ratih tau apa yang di maksud Ricko namun Ratih sengaja tidak mau mengatakannya. bagi Ratih ekspresi wajah Ricko sangat lucu jikalau dia sedang kesal hal itu membuat Ratih senang mengerjainya.


"Sayang kita mau kemana sih." gerutu Ratih.


Ricko segera menghentikan langkahnya setelah sesaat ia mendengar apa yang di katakan Ratih. bahkan Ricko kini menatap penuh selidik ke arah Ratih, laki laki itu mengerutkan keningnya.


"Jangan bilang kalau kamu tadi cuma berpura pura." tutur Ricko.


Tawa Ratih pun pecah dia sudah tidak biasa menahannya lagi."Bapak sangat lucu."kata Ratih yang sadari tadi tidak menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Kau ini rupanya sangat senang mengerjai ku ya." Ricko mengacak-ngacak rambut Ratih.


"Aaaa bapak." rengek Ratih.


"Kamu bilang apa, bapak, kamu masih panggil aku dengan sebutan bapak." protes Ricko tangannya malah semakin kencang mengacak rambut Ratih.


"Aaaaaa..." Rengek Ratih lagi kini memukul pelan dada Ricko.


"Rupanya kamu semakin nakal ya." guma Ricko seraya memegang kedua tangan Ratih lalu dengan cepat Ricko mengendong tubuh Ratih.


"Aaaa... bapak mau ngapain, turunin."


"OOO masih berani juga kamu panggil aku dengan sebutan bapak ya." ucap Ricko wajahnya kini menggelitik leher Ratih.


"Hahaha... hentikan sayang, hentikan." tutur Ratih menyerah, wanita itu sudah kewalahan sekarang.


Ratih menaikkan alisnya," Emangnya apa yang akan kamu lakukan...??" tanya Ratih.


"Rahasia." Ricko menampakkan gigi putihnya.


"Sayang kamu tutup mata dulu." ucap Ricko seraya menurunkan Ratih.


"Tutu mata, emang kita sebenarnya mau kemana sih." gerutu Ratih.


"Rahasia pokoknya kamu harus tutup mata dulu." Ricko mengeluarkan kain dari sakunya.


"Sekarang kamu merem." seraya mengikat kain itu di kepala Ratih.

__ADS_1


"Pokoknya kamu jalan aja sesuai apa yang aku katakan ya."


****


"Sayang kok belum sampek sih." gerutu Ratih sudah dari tadi dia berjalan namun belum berhenti juga.


"Sebentar lagi saya, sikit lagi cuma tinggal dua langkah lagi." sahut Ricko masih memampa Ratih berjalan.


"Ok, sekarang kita sudah sampai, aku hitung satu sampai tiga ya setelah itu kamu boleh membuka mata." tutur Ricko kini mengembangkan senyumannya.


Pelan pelan Ratih mencoba membuka kan kain yang menutup matanya, Ratih mengucek ngucek matanya mencoba untuk melihat dengan jelas


.


o



Ratih langsung melotot melihat apa yang ada di depan matanya sekarang, bahkan mata Ratih tidak berkedip sama sekali dia masih terkejut seraya memegang dadanya.


"Sayang." panggil Ratih seraya mencoba memegang tangan Ratih.


"Aku berjanji mulai sekarang aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu dari siapa pun, dan aku harap ini akan menjadi hal baik dalam hidup kita kedepannya. dan satu lagi--" Ricko menatap penuh arti ke pada Ratih.


"Apa..." tutur Ratih penasaran, wanita itu bahkan sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


"Aku ingin kita segera mempunyai baby." bisik Ricko di telinga Ratih hingga membuat bulu kuduk Ratih berdiri.

__ADS_1


__ADS_2