Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 48


__ADS_3

"S-Sayang." terdengar suara Selfi gugup.


"Siapa mereka...??" tanya Ricko.


"A-aku bisa jelasin ini semua." ucap Selfi dengan rahang sudah gemetar.


"Aku tanya siapa mereka...??" bentak Ricko meluapkan emosinya selama ini.


"Buka." tutur Ricko seraya melirik anak buahnya. dengan cepat para anak buah langsung membukakan lakban yang menutupi mulut 3 pria yang mereka sekap.


"Selfi apa apaan ini, kenapa kami di bawa kesini dan di ikat seperti buronan." tutur salah satu di antara mereka setelah di bukakan lakban.


"Brengsek kenapa kami di culik kemari." tutur satunya lagi dengan tatapan marah ke pada Ricko.


Selfi sadari tadi hanya diam berdiri mematung. bahkan untuk mengatakan sepatah kata mulutnya seakan tak kuasa.


"Berapa yang mereka bayar untuk tubuhmu ini ?? Apa selama ini uang yang aku berikan ke padamu itu tidak cukup sehingga kamu menjual tubuhmu ke pada laki laki brengsek ini." ucap Ricko seraya menunjuk kearah pria yang mereka sekap.


"Kamu tahu berapa banyak uang yang aku berikan ke padamu selama kamu menjadi kekasihku. kamu tahu, lebih dari 300 milyar aku memberikannya untukmu. bahkan ibuku saja yang melahirkan ku dan membesarkannku sampai sebesar ini belum pernah aku memberikannya uang sebayak itu dalam setahun. tapi aku memberikan hasil keringatku selama ini hanya untukmu kamu tahu kenapa, karena aku sangat mencintaimu aku ingin membahagiakanmu Selfi. aku juga tidak ingin kehilangan dirimu. tapi apa yang aku dapat, kamu menghianati ketulusan cinta yang aku berikan. aku benar benar bodoh bisa jatuh cinta sama wanita sepertimu, aku pria yang bodoh. kenapa aku tidak dari dulu mendengarkan kata kata ibuku aaggrrr..." Ricko langsung menonjok dinding dengan sangat keras hingga mengalir banyak darah segar.


"Jangan pernah kalian menampakkan wajah kalian lagi di hadapanku atau aku benar benar akan menghabisi kalian semua. dan kamu." tunjuk Ricko ke arah Selfi.


"Jangan pernah kamu datang menemui ku lagi atau seluruh keluargamu akan aku habisi tak terkecuali." ucap Ricko dengan rahang mengeras dan penuh penekanan.


"Bebaskan mereka." ucap Ricko lalu langsung pergi.


Selfi terduduk lemas di lantai apa yang ia takuti selama ini kini benar benar terjadi." Aku bersumpah Ricko, aku bersumpah tidak akan melepaskan mu sampai kapanpun. karena kamu adalah uangku. ha...ha...ha..." guma Selfi seraya tertawa sendiri.


***


"Nia bagaimana apa kamu senang hari ini...??" tanya ibu Susi ketika baru sampai di rumah.


"Seneng dong Tante, apa lagi di belanja sebanyak ini." jawab Tania menampakkan gigi putihnya.


"Bagus kalau gitu Tante juga ikut seneng dengernya. nanti kalau kamu butuh apa apa bilang aja sama Tante pasti Tante berikan. kan kamu sekarang sudah menjadi anak Tante juga. ingat jangan pernah sungkan sungkan." tutur ibu Susi seraya tersenyum hangat.


"Baik Tante. makasih udah mau menerima Nia sebagai anak Tante." saut Tania dengan cepat lalu langsung memeluk ibu Susi.


"Nia kangen banget sama pelukan seorang ibu." sambung Tania yang mempererat pelukannya.


"Sayang. kapanpun kamu butuh pelukan kamu bisa kok memeluk Tante sesuka hatimu. mulai sekarang jangan panggil Tante lagi ya panggil saja ibu. sama seperti Ricko memanggil ibu." sahut ibu Susi mengelus ngelus kepala Tania.

__ADS_1


"Makasih ibu. kalau gitu Nia pergi kamar dulu ya." pamit Tania melonggarkan pelukannya.


"Mimpi indah sayang." ucap ibu Susi.


"Tentu." sahut Tania lalu melangkah menaiki tangga.


"Tias...??" panggil ibu Susi.


"Apa mereka sudah turun...??" tanya ibu Susi.


"Kata Kasim Han sudah nyonya tapi hanya tuan muda saja sedangkan nyonya muda belum turun sampai sekarang." jawab Tias.


"Benarkah, berarti jamunya bekerja dengan bagus. cepat bawakan lagi jamunya aku akan memberikan Ratih lagi jamu itu. agar dia cepat berisi." tersenyum ibu Susi


"Tapi nyonya saya merasa kasian sama nyonya muda. beliau pasti sangat kelelahan melayani tuan muda. apa tidak sebaiknya kita berikan besok saja jamunya." sahut Tias.


"Tidak bisa. dulu saat aku baru menikah dengan mas Adi. kamu tahu berapa lama mertuaku memberikan jamu itu...??" tanya ibu Susi mendapat gelengan kepala dari Tias.


"Satu Minggu penuh Tias. setelah itu satu Minggu ke depan aku terus berada di dalam kamar tidak bisa keluar." sambung ibu Susi lagi.


"Kenapa nyonya tidak bisa keluar. apa nyonya di kurung...??" tanya Tias begitu polos.


"Bukan. itu karena aku tidak bisa jalan dengan benar." jawab ibu Susi.


"Cepat ambilkan jamu itu." perintah ibu Susi.


"B-Baik nyonya." sahut Tias cepat seraya bergegas ke dapur.


"Sayang ini ibu." teriak ibu Susi dari luar.


Ratih yang kini tengah menonton film drama Korea di atas ranjang pun menoleh ke arah pintu.


"Masuk Tante pintunya tidak di kunci." sahut Ratih dari dalam.


Dengan tangan yang menenteng gelas dan wajah di hiasi penuh senyuman ibu Susi melangkah mendekati Ratih.


"Sayang bagaimana ke adaan mu...??" tanya ibu Susi yang kini sudah duduk di samping Ratih.


"Baik Tante." jawab Ratih membalas senyuman ibu Susi kemudian matanya melirik kerah nakas tempat ibu Susi meletakkan jamu.


"Tante bukankah itu minuman yang Tante berikan ke pada Ratih semalam...??" tanya Ratih mulai mencium bau bau curiga dengan minuman itu. Ratih ingat betul apa yang terjadi dengan dirinya setelah meminum jamu itu.

__ADS_1


"Iya sayang ini sangat bagus untuk pengantin baru. jamu ini akan segera membuat kamu cepat berisi." jawab ibu Susi lalu menyodorkan jamu itu ke pada Ratih.


Ratih menelan ludahnya sangat kasar seraya menggeleng geleng kepala." Tante nanti saja Ratih minum kalau pak Ricko pulang." tutur Ratih berusaha menolah.


"Baiklah tapi nanti kalau Ricko sudah pulang kamu langsung minum ok. karena ini lebih top markotop dari sebelumnya." sahut ibu Susi.


"Baik Tante."


"Sayang kenapa kamu masih manggil Tante. panggil ibu, kamu itu sudah menjadi menantu Tante sekarang jadi kamu harus memanggil ibu sama seperti Ricko." tegas ibu Susi.


"Baik Bu."


"Bagus sayang. kalau begitu ibu pamit dulu mau mandi jangan lupa di minum jamunya." pamit ibu Susi yang mendapat anggukan dari Ratih.


Setelah ibu Susi keluar Ratih menatap tajam ke arah jamu." gara gara kamu aku kehilangan keperawanan ku, aku tidak mau meminum dirimu lagi." guma Ratih yang masih menatap tajam ke arah jamu.


Tepat di jam 12 malam Ricko baru pulang dengan keadaan kusut yang diliputi mabuk. dengan langkah gontai Ricko masuk ke dalam kamar.


Ratih yang tertidur pun terperanjat duduk saat mendengar suara bantingan pintu. dengan mengucek mata Ratih mencoba memperhatikan seseorang mendekatinya.


"Pak Ricko." ucap Ratih baru sadar dari tidurnya. namun setelah itu mata Ratih langsung melirik ke tangan Ricko yang sudah di liimuti darah.


"Astaga bapak berantem." tutur Ratih namun tidak mendapat jawaban dari Ricko. dengan perasaan malas Ratih turun dari ranjang mengambil obat.


Tak butuh waktu lama Ratih kembali naik ke atas ranjang dengan membawa obat dan perban. mata Ratih langsung melotot melihat ke arah nakas.


"J-jamunya ke mana...??" guma Ratih setelah itu matanya melirik ke arah Ricko yang sudah terbaring lelap.


"Jangan jangan pak Ricko -."


"Tidak, tidak mungkin pak Ricko kan sudah tidur." pelan pelan Ratih mengambil tangan Ricko mencoba olesi obat yang ia bawa.


Belum habis Ratih mengolesi obat tapi dengan cepat tangan Ricko menepis obat hingga berserakan di lantai.


"Jangan pernah kamu mendekatiku lagi tau kamu menyentuhku. karena aku tidak akan ketipu kedua kalinya lagi." ucap Ricko penuh penekanan.


**Bersambung......


🌹🌹🌹🌹🌹


Ayo kak bantu vote dan like 👇👇

__ADS_1


Maaf telat up kak 🙏🙏**


__ADS_2